Selasa, Mei 6

Wisata Syari’ah Balirik Larangan (Pilubang) Resort


Apa yang terbayang dan terpikirkan oleh Anda dengan kata-kata kalimat judul diatas? Ada tiga hal setidaknya. Pertama tentang dunia pariwisata dengan brand wisata syari’ah.Kedua soal Nagari Masa Depan yang juga membuat kita bertanya-tanya? Ada terminologi waktu disini sepertinya. Kalau ada Nagari Masa Depan berarti ada juga wajah Nagari Masalalu dan Nagari Masa Kini. Ketiga sebuah larangan dan himbauan dengan simbol anjing dilarang masuk. Yuk.... kita akan melihat dan telesuri sisi lain dari pertanyaan-pertanyaan itu.

‘Nagari Masa Depan’ anugerah tiga kata pertama, saya dapatkan dari plang informasi di persimpangan jalan menuju nagari Taram-Pilubang di Jalan Lintas Sumbar-Riau dekat Tanjung Pati Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat. Awalnya saya menganggap tulisan Nagari Masa Depan pada plang bergambar itu hanyalah sekedar kampanye pencitraan saja. Ya... seperti slogan kembali ke surau dan balik banagari di Minangkabau.

Setiap kali melewati daerah dimana terdapat plang itu, perhatian saya selalu merasa dicuri, agar saya melirik plang dan membaca lagi kalimat serta pesannya. Apalagi plang reklame itu didesain menarik dengan gambar-gambar yang artistik. Sentuhan kemajuan ilmu dan teknologi dalam dunia grafis dan advertising pastinya.

Kalimat Nagari Masa Depan seperti meracuni pikiran saya. Ada rasa penasaran untuk mengetahuinya lebih jauh dan dalam. Suatu waktu, saya diajak berkeliling-keliling oleh seorang kerabat yang berdomisili di Nankodok Kota Payakumbuh Utara, uda Roni begitu saya memanggilnya. Kami berkeliling menjambangi satu tempat ke tempat lainnya. Beberapa hari dalam kesempatan dan waktu yang berbeda, kami mengunjungi tempat wisata katakanlah begitu yang terdapat di Kota Payakumbuh maupun dan di Lima Puluh Kota.

Saya diajak diantaranya ke Objek Wisata Harau. Kita tentu sudah banyak tahu dan akrab dengan nama Harau dengan bentang alamnya yang menakjubkan, terus kami ke Objek Wisata Ngalau, Pemandian Batang Tabik, Pesona Alam Sikabu di Lereng Gunung Sago yang membentangkan wajah Kota Payakumbuh dan Kabupaten 50 Kota. Sesungguhnya masih banyak yang mesti dikunjungi seperti Koto Tinggi dengan wajah Keminangkabauan yang kental, Kapalo Banda, Rumah kelahiran Tan Malaka di Suliki, Kawasan Megalit di Maek dan Belubus. Seabrek tempat bersejarah dan objek wisata lainnya di kedua wilayah kabupaten dan kota ini. Minang nan kaya, namun ada yang terkelola baik, ada yang terkelola seadanya dan ada yang terabaikan dan terlupakan begitu saja.

Cottage Balirik Larangan Pilubang Wisata Syariah

Kali lain kami menuju lokasi yang selama ini menganggu pikiran saya dengan slogan kata Nagari Masa Depan itu. Kami menujuPilubang dimana Nagari Masa Depan itu berada. Kami harus melewati beberapa nagari seperti Taram sebelum mencapai Pilubang. Jalan kesana cukup lancar. Hanya saja kondisinya tidak begitu lebar dan sebagian jalan dalam kondisi berlubang karena aspal dan jalan beton yang sudah terkelupas. Padahal jaraknya cuma 7 km dari kotaPayakumbuh, dengan koordinat -0°9'48"N 100°41'41"E.

Sepanjang jalan menuju Pilubang, plang-plang bergambar bertuliskan Nagari Masa Depan terus saya temui dalam jarak-jarak tertentu dan dipersimpangan jalan. Kami sudah berada di Pilubang, jarak kami semakin dekat dengan sebuah kawasan yang ditunjukkan kepada saya.

Sampai diujung jalan yang membelah hamparan sawah-sawah penduduk, saya sejenak menghentikan kendaraan. Saya harus berdecak kagum pada bentangan alam disana. Wah.... wah..... lain Harau lebih lain lagi ternyata dengan daerah yang baru saya masuki ini. Pesonanya dan daya tarik dinding-dinding bukit batu bewarna bak benteng. Karakternya hampir sama dengan Harau. Namun di Pilubang hamparan pertanian sawah menjadikannya dinding bukit batu laksana lukisan alam yang begitu indah. Inikah sepotong surga yang terlempar ke bumi? Dalam benak saya.


Fasiltas Cafe

Oooow...... ternyata kawasan itu yang dimaksud dengan Pilubang Nagari Masa Depan. Saya kala itu sedikit ragu untuk meneruskan perjalanan masuk kedalam, karena dari kejauhan melihat ada pengerjaan jalan. Tapi kerabat saya sangat bersemangat untuk mendekati dan memasuki kawasan. Saya juga penasaran sebenarnya, apalagi kalimat Nagari Masa Depan Pilubang ditambah lagi denganWisata Syari’ah pada plang-plang informasi disekitar nagari Pilubang dan dekat kawasan wisata itu terlebih. Kami terus mencoba mendekati kawasan yang disebutWisata Syari’ah di Pilubang Nagari Masa Depan itu. Dengan berjalan pelan menghindari kerikil pengerasan jalan dan batu untuk membangun dam saluran air dikiri kanan jalan, kami pamit kepada pekerja. Kami pun disapa dengan ramah, dan memberikan isyarat untuk dapat terus berjalan mendekati kawasan.

Begitu kami berada dimulut kawasan, sebuah simbol Wisata Syari’ah berdiri sebuah Mushalla dengan arsitektur yang menawan menyerupai bangunan panggung. Menarik sebuah penempatan sarana terkait slogan yang visioner dalam benak saya. Kawasan dengan lingkungan yang asri kesan yang saya dapatkan, dengan pohon-pohon hijau tertata digerbang inti kawasan. Saya dibuat lebih penasaran lagi ketika saya menemukan lagi tidak jauh dari mushalla dipinggir jalan sebuah plang informasi ukuran tidak besar. Kalau tidak diperhatikan akan terlewati begitu saja. Plang itu bertuliskan Anjing Dilarang Masuk. Nah.... tahu kan sekarang asal muasal kata-kata yang menjadi judul tulisan Wisata Syari’ah: Pilubang ‘Nagari Masa Depan’, Anjing Dilarang Masuk.

Kendaraan roda dua yang kami tunggangi terus kami jalankan sangat pelan untuk mendekati dan memasuki kawasan inti. Sayang ketika itu, dari jarak beberapa meter digerbang masuk kawasan inti terpampang tulisan bersar MAAF UMUM DILARANG MASUK ! Dekat gerbang kawasan inti itu kami memarkir kendaraan roda dua. Saya mencoba mencari kalau-kalau ada security. Tapi tidak kelihatan. Mmmmhh... langkah kami terhenti sampai disana.

Dari luar pagar kawasan inti, diantara pepohonan saya dapat melihat sekilas bagian-bagian bagunan. Sarana yang tersedia dalam kawasan tentunya. Perhatian saya tertuju pada dinding-dinding bukit batu yang menjulang tinggi. Disana saya melihat hiasan alam, dimana bertebaran lebah-lebah yang bersarang mengelantung pada dinding batu. Jumlah tidak satu dua, mungkin puluhan sarang dengan berpuluh-puluh ribu lebah;. Seperti penangkaran lebah secara alami dan terbuka. Sebuah daya tarik dimana alam, tumbuhan, manusia disana saling memberikan ruang kehidupan.

Nagari Masa Depan yang selalu ada dalam benak saya selama ini. Sedikit terjawab dengan sebuah kawasan yang dikelola menjadi objek wisata dengan brand dan image Wisata Syari’ah. Lalu saya mendapati juga kata-kata peringatan atau larangan Anjing Dilarang Masuk. Kalau soal keindahan alamnya, buktikan sajalah sendiri kapanpun Anda berkesempatan.

Sebetulnya sudah ada wisata yang bernilai ibadah, yaitu wisata ziarah. Seperti yang diakrabi warga NU dengan ziarah wali songo. Wisata berkelas internasional seperti Taj Mahal di India, Piramid di Mesir, ataupun makam-makam lainnya juga merupakan wisata ziarah yang sudah sudah terkelola lebih dulu dan lebih dengan baik.

Cottage Berupa RUmah Pohon

Slogan Wisata Syari’ah tentu bukan sekedar kata-kata atau lipstik. Ini pasti erat kaitannya dengan pandangan religius masyarakat Minang di Nagari Pilubang sebagai masyarakat beragama muslim. Kalau dipasangkan seperti rel kereta api agar perjalanan kereta kehidupan bermasyarakat dan beragama kompak dan dinamis tentulah pakaiannya diranah Minang adalah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, (Adat Berlandaskan Agama, Agama Berlandaskan Kitab Allah Alqur’an dan Hadist Nabi Muhammad SAW)

Anjing dilarang masuk saya pikir juga bukan sekedar larang membawa anjing ke lokasi atau kawasan Wisata Syari’ah di Nagari Masa Depan Pilubang. Bukankah anjing binatang yang diharamkan dalam Islam. Jangankan untuk dimakan umat muslim, kena sentuhan apalagi dijilat anjing saja mesti dicuci dan dibersihkan hingga 7 kali disertakan dengan tanah. Bagaimana dengan anjing lepas apalagi kalau ada kegiatan berburu babi sekitar dan dekat wilayah Wisata Syari’ah di Pilubang Nagari Masa Depan. Agak rumit memang, dan sulit membendungnya. Apalagi budaya beburu babi dengan anjing secara besar-besar hampir merata dilakukan didaerha Sumatera Barat.

Saya kembali memaknai kata peringatan Anjing Dilarang Masuk dalam pandangan lain. Bagaimana agar masyarakat sekitar dan para wisatawan yang datang berperilaku jauh dari sifat kebinatangan dan tidak berbuat yang dilarang (diharamkan) agama serta bertentangan dengan nilai dan norma-norma yang berlaku ditengah masyarakat setempat. Terlebih Pilubang masih dalam lingkaran budaya Keminangkabauan yang dulu terkenal nilai-nilai kesopanan. Secara tersirat larangan itu juga menyatakan kepada kita, kalau anjing saja dilarang masuk ke dalam kawasan Wisata Syari’ah Nagari Masa Depan Pilubang. Apalagi manusia yang berakal pikiran, jangan sampai berperilaku dan bebuat hal-hal diluar ketentuan syari’ah seperti menjadikan tempat ini untuk melancarkan aksi mesum dan asusila serta kejahatan.

Cottage Balirik Larangan 

Disinilah saya baru memahami yang dimaksud Nagari Masa Depan di Pilubang itu. Sebuah potensi lokal baik alam, sosial dan budayanya dikemas dalam sebuah wisata berbasis syari’ah dalam artian wisata yang bersendikan nilai-nilai agama, moral sosial dan budaya masyarakat lokal.

Slogan Wisata Syari’ah, Nagari Masa Depan Pilubang itu sendiri dengan segala gagasan didalamnya jelas mengandung visi dan misi yang memandang jauh ke depan, dalam kekinian dengan bercermin ke masa lalu dimana nilai-nilai kehidupan masyarakat dalam balutan adat budaya Minangkabau yang kental serta nilai-nilai religius (agama Islam).

Semoga apa yang saya maknai benar adanya. Kata-kata yang saya temukan itu terpisah-pisah lalu disatukan dalam kalimat judul tulisan ini, lebih dalam tentu sang pencipta kata-kata itu yang lebih tahu sepenuhnya. Saya yakin kata-kata itu diciptakan bukan sembarangan. Subjektif saya mengatakan slogan Nagari Masa Depan adalah kata-kata yang mengandung kekuatan dan visioner. Menggiring manusia sekitarnya dan orang-orang luar yang mendatanginya untuk beradaptasi sesuai tuntunan (di syari’ahkan). Tidak seperti kebanyakan tempat atau objek wisata lainnya. Dimana wilayah/kawasan dan masyarakat sekitar benar-benar sebagai objek bukan subjek.

Cottage Berupa Rumah Pohon

Kolam air terjun diantara cottage

Kolam air terjun diantara cottage

Tidak ada komentar: