Tampilkan postingan dengan label Catatanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatanku. Tampilkan semua postingan

Rabu, Mei 18

(¯`*•.¸♥ Sedikit Untuk Ayah... ♥¸.•*´¯)

oleh Ricko Bahemar pada 04 Maret 2011 jam 19:28
(catatan dari seorang teman)

Selama ini, setiap berbicara tentang orang tua, seringnya aku hanya terbayang tentang ibu, yang meminjamkan separuh nyawanya padaku selama sembilan bulan aku menumpang hidup di rahimnya.
Yang membawaku di perutnya kemanapun ia pergi tanpa sedikitpun keluhan keluar dari bibirnya.
Yang bercucuran darah demi mengantarkanku hadir di dunia.

Ibu, selalu ibu.
Dan tentu saja ibu pantas mendapat segala penghormatan itu, bahkan lebih dari pantas, tepatnya harus.
Betapa rugi, dan teganya mereka yang menyia-nyiakan segala pengorbanan yang dilakukan ibu.
Tapi kemudian aku telat menyadari satu sosok lain, yang tak kalah penting perannya dengan ibu.
Sosok yang walaupun tak membawaku di perutnya, tapi selalu menyimpanku di hatinya.
Sosok yang paling gelisah ketika ibu menjerit kesakitan di ruang bersalin saat mengantarkan hadirku di dunia.
Dia yang berdoa semoga istri, dan anak kesayangan, yang bahkan belum pernah sekalipun dilihatnya, selamat.
Dia yang walaupun tak mengorbankan darah, tapi memeras keringatnya demi memberikan putri kesayangannya kehidupan yang layak.

Dia, sosok itu, ayah.
Sering luput dari perhatianku betapa kasih sayang ayah tak sedikit pun lebih kecil dari kasih sayang ibu.
Sesungguhnya kasih itu sama besarnya, kalau saja aku memperhatikan.
Tapi dari beberapa yang luput dari perhatianku, ada beberapa yang kuingat tentang kasih ayah yang jelas nyata kurasa, meski terlambat kusadari.

Aku ingat saat aku berusia sekitar 3 atau 4 tahun, atau ini bahkan mungkin terjadi sejak usiaku lebih kecil, hanya saja ya itu tadi, hal ini begitu saja luput dari perhatianku.
Saat itu, setiap selesai menjalankan kewajiban shalatnya, ia memintaku duduk di pangkuannya dengan isyarat tangannya.
Aku kemudian tanpa bicara mendatangi sajadah, lalu duduk di pangkuannya, sesuai perintahnya.
Dan kemudian ia mengambil telapak tanganku meletakkannya di atas telapaknya lalu menengadahkan tangan itu dan mengajakku berdoa.
Aku tak tahu pasti apa yang ia rapalkan dalam doanya, yang kuingat adalah pada sela-sela doanya, ia berkali-kali menciumi kepalaku, sambil bershalawat.
Tangan yang menengadah, ciuman, serta rapalan doa itu tak kumengerti maknanya pada saat itu.
Tapi kini, saat aku mengingatnya kembali, tenggorokanku terasa tercekat dan mataku basah oleh air mata.
Air mata bahagia karena beruntung telah hidup dengan aliran doa ayah di dalam tubuhku.

Saat aku menginjak usia sekolah, kesempatanku bermain-main dengan ayah berkurang.
Ayah bekerja sejak sore, hingga dini hari, dan ini otomatis membuatnya harus menambah waktu tidurnya di pagi hari, sehingga hanya ciuman di pipi kanan kiri dan pesan untuk belajar sungguh-sungguh yang kudapat saat menghampirinya pamit untuk pergi ke sekolah, itu pun hanya dari atas tempat tidurnya.
Ia tidak mengantarku sampai ke pintu, tapi aku mengerti, bahkan pada usia itu pun aku mengerti, bahwa ayah butuh istirahat.
Di siang hari, saat aku pulang sekolah, ayah sering menyiratkan bahwa sesungguhnya ia ingin bermain-main denganku, tapi aku yang baru kembali dari sekolah terlalu lelah untuk bermain, dan lebih memilih untuk beristirahat tidur. Dan sore hari, saat aku bangun, ayah sudah terlanjur berangkat bekerja.

Tapi aku tidak sedih, karena aku tahu pasti ayah merindukanku. Karena diam-diam setiap dia baru tiba di rumah sepulang ia bekerja, ia menghampiri kamarku, bahkan sebelum dia menghampiri ibu, membenarkan letak selimutku, lalu menciumiku yang lelap dalam tidurku.
Dan kadang, jika aku sedang rindu, aku sengaja membiarkan diriku tertidur di ruang tv, semata-mata hanya agar aku punya kesempatan digendong ayah, yang tak pernah tega membagunkanku untuk berjalan sendiri ke kamarku.
Dan sesungguhnya aku selalu terbangun tiap kali ayah melakukan itu, tapi aku sengaja pura-pura tidur untuk tetap berada dalam gendongannya.

Betapa sesungguhnya aku punya begitu banyak kenangan tentang ayah, yang seringnya kulupakan saat ia memarahiku saat aku terlalu malam pulang ke rumah, atau saat dia menolak permintaanku untuk membeli sesuatu.
Dan saat itu, dengan teganya, aku justru menuduhnya tak memberiku cukup kebebasan, cukup kepercayaan, dan tak hanya itu, aku bahkan menuduhnya tak cukup sayang padaku untuk meluluskan permintaanku.
Padahal yang kusebut tak cukup sayang itu bisa jadi justru rasa sayangnya yang kusalahartikan. Seperti ketika aku menolak permintaan adikku yang terus-terusan meminta permen, bukan karena aku tak sayang padanya, tapi justru karena aku peduli dan tak ingin giginya rusak karena terlalu banyak memakan permen.
Ya, pasti begitu maksud ayah.
Dan yang kusebut tidak memberi cukup kebebasan dan kepercayaan itu sesungguhnya adalah rasa sayang yang begitu besar, hingga membuatnya khawatir bahwa sesuatu akan menimpaku saat aku luput dari penjagaannya.

Maka, ayah, atas segala kasih sayang yang luput dari perhatianku, yang menyebabkan aku begitu saja menuduhmu, dan menyebabkanku menyakiti hatimu, aku mohon maaf.
Atas segala pengorbananmu yang begitu saja kuabaikan, aku berterima kasih.
Dan atas segala doa yang tak henti kau rapalkan, aku sungguh-sungguh mengucap syukur.

Dan, ayah, pasti aku takkan mampu membalas apa yang telah kau, dan ibu lakukan.
Tapi ayah, aku akan berusaha semampuku membahagiakan kalian dengan yang kupunya.
Dan sungguh ayah, aku tahu itu pun takkan pernah cukup membalas segala yang kau lakukan untukku.
Maka ayah, kali ini biar aku yang menengadahkan tanganku, sambil menciumi pipimu, dan memohonkan segala kebaikan untukmu dan ibu kepada Sang Pemilik Segala.

Karena sungguh ayah, atas segala kasih sayang yang kalian curahkan, tak ada yang lebih pantas membalas selain Sang Maha Penyayang.
Maka kepada-Nya lah aku berdoa :
" Rabb ighfirliy wa li walidayya wa rhamhuma kama rabbayani shaghira "

(¯`*•.¸♥Lelaki Yang Bernama "AYAH" ♥¸.•*´¯)

oleh Ricko Bahemar pada 07 Februari 2011 jam 18:56

(Diambil dari catatan seorang teman)

Ayah…
Bagiku seorang yang namanya jarang kusebut.
Mengapa?
Sebab bagiku (wanita), sosok seorang ayah itu tidak memberi definisi apa-apa dalam kehidupanku.

Seseorang yang hampir dikatakan tidak ada rasa kepedulian terhadap anaknya.
Entah mengapa begitu dingin seorang yang dinamakan ‘Ayah’ itu.

Bila ditanya, siapakah orang yang paling aku sayang di dunia ini,  jawabannya tentulah ibuku.
Karena bagiku, sosok ibulah yang paling berperan penting dalam kehidupanku selama ini.

Entah seperti anak-anak lainnya atau tidak, tapi yang pasti, aku kurang merasakan peran seorang ayah.
Ia sering pulang malam, dan ketika sampai rumah pun,  tidak ada kehangatan yang diberikan olehnya.

Sosok yang membuatku geram dan akhirnya tidak ada penghormatan sama sekali padanya.
Saat itu ku ingat pasti tatkala usiaku beranjak 9 tahun, aku pernah mencemoohnya dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan seorang anak pada ayahnya.
Hanya karena keinginanku tidak bisa dipenuhi olehnya.
Aku hanya berfikir, bahwa kalau sudah tidak mendapat perhatian darinya, paling tidak bentuk perhatian itu bisa tergantikan dengan terpenuhinya kebutuhanku.
Minta dibelikan mainan, baju baru dan sebagainya.
Namun ternyata itu nihil semua.

Semakin jengkel lah aku, bahkan aku tidak ingin dikecup keningnya oleh orang yang dinamakan ayah tersebut pada saat syukuran sederhana di hari ulang tahunku.

Beranjaknya usia, ketika saat itu aku masuk Sekolah Menengah Pertama, itulah pertama kalinya sejarah dalam hidupku, peran orang tua khususnya ayah sangat berarti besar.
Betapa paniknya aku, ketika pulang sekolah rok biru seragamku basah oleh cairan yang berwarna merah.
Aku pun kaget dan panik luar biasa, padahal saat itu ibuku tengah naik haji ke tanah suci bersama nenekku.
Yang ada di rumah, hanyalah aku bersama adik dan sosok yang dinamakan ‘Ayah’.

Ia lah yang menyambutku, tatkala aku menangis tersedu-sedu sampai rumah dalam keadaan sedih dan karena ditambah dengan perutku yang sakitnya luar biasa.

Aku malu. Lalu aku masuk kamar tanpa berkata apa-apa terhadap ayahku.
Ia menyusul ke kamarku dan menanyakan apa yang terjadi, lalu aku pun luluh dan mau menjelaskan keadaanku padanya saat itu.

Ayahku tersenyum dan berkata, “Gak apa-apa, ini pertanda anak gadis ayah sudah dewasa.
Kamu sudah mendapat tamu bulanan.
Nanti ya ayah belikan pembalut dulu.”.

Degg… hatiku teriris dengan kata-kata lembut darinya.
Ohh Tuhan, di saat kritis dan aku tidak tahu harus berbuat apa, justru ialah yang hadir menemaniku.
Ialah yang menenangkanku disaat kondisiku seperti itu, tanpa hadirnya peran ibu disampingku.

Semakin tersadar, ayahku mempunyai peran berarti dalam hidupku. Tidak hanya ibuku. Ialah sosok yang hebat itu, sosok yang hadir disaat aku membutuhkannya.

Pun saat aku menginjak usia dewasa, aku semakin mengerti arti dari hadirnya seorang ayah. Aku melihat beban berat sedang ditanggungnya. Aku melihat segala hal yang menjadi kebutuhanku perlahan terpenuhi.. Satu per satu bisa aku dapatkan. Bersama itu pula satu per satu uban putih muncul diantara rerimbunan rambut ayahku.

Ya. Semakin hari aku tersadar, banyak perubahan yang terjadi pada diri ayahku.
Warna rambutnya yang berubah, kerutan di wajahnya yang tidak lagi tersembunyi dan itu membuatku semakin yakin, bahwa ayahku tengah berjuang keras dalam membahagiakan keluarganya.
Seperti tatkala ia telat pulang kerja malam hari karena ada rapat di kantornya, ia selalu membawakan kami makanan yang bersisa dari rapat di kantornya.
Melihat wajahnya yang sumringah benar-benar menandakan rasa senangnya ketika bisa membawakan makan malam untuk anak serta istrinya.

Karena ayahku adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat.
Bahkan ketika ia tidak kuat untuk tidak menangis.
Ia harus terlihat tegas bahkan saat ia ingin memanjakanku.

Ayahku ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, dan tidak tergantung pada siapapun tapi selalu membutuhkan kehadirannya.

Ayahku pernah berkata “Ayah akan selalu memelihara janggut, meski telah memutih,
agar kamu bisa ‘melihat’ para malaikat bergelantungan disini dan agar kamu selalu bisa mengenali ayah.”

Dan ayah juga penah berpesan: "Mbak, jangan cengeng ya meski kamu ini adalah seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecil ayah dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak!
Seorang laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kamu gantikan posisi Ayah di hatimu."

Ohh ayah.
Baru aku meyakini, bahwa betapa beruntungnya aku memiliki ayah sepertimu.
Ayah terbaik sepanjang perjalanan hidupku.
Seorang ayah yang memberi banyak pelajaran kehidupan.

Ayah..
Namamu kan selalu terpatri.
Meski sedikit perhatian yang tercurah.
Bagiku sudah sangat berarti.
Ketika peluhmu mengalir.
Yang begitu agung, maka..
Tercucilah rindu.
Pada alunan kata yang sejuk.

Terima kasih ayahku......
Untuk setiap peluh yang kau teteskan,
untuk setiap kerut dahimu yang tidak sempat kuhitung,
untuk setiap jaga sepanjang malam ketika aku sakit dan ketika kau merindukanku,
untuk tetes ‘air mata laki-laki’ yang begitu mahal ketika kau mengkhawatirkan aku,
untuk kepercayaanmu padaku, meski seringkali ku hianati.
Sungguh tidak akan pernah bisa terbalas segalanya.
Dan aku mencintaimu karena-Nya.
 
· · Bagikan · Hapus

Menteri Pariwisata Baru Kita: " Thanks ya.. Julia Robert..!"

oleh Ricko Bahemar pada 29 Oktober 2009 jam 17:32
Inilah, mestinya, sebuah promosi pariwisata yang dampaknya bisa lebih besar daripada hasil kerja tiga menteri pariwisata sekaligus: Julia Roberts. Peraih Oscar ini bukan hanya pergi ke Bali Indonesia. Julia Roberts tinggal di Bali untuk lebih dari satu bulan. Bahkan, dia sedang syuting film Hollywood sebagai pemeran utama dalam film Eat, Pray, Love.

Bisa dibayangkan betapa besarnya gema Bali dan Indonesia setelah pemutaran film itu nanti. Bahkan, mestinya sudah sejak pembuatannya sekarang. Kita pasti masih ingat betapa pariwisata Selandia Baru mendapat durian runtuh ketika film Lord of The Rings dibuat di negeri dingin itu.

Julia Roberts, Hollywood, dan film yang didasarkan pada novel laris dunia: bentuk promosi apa lagi yang lebih hebat daripada itu..?

Seluruh APBN kita di bidang pariwisata pun (tahun 2009 hanya sekitar Rp 1,4 triliun) belum tentu cukup untuk merayu Hollywood agar mau bikin film yang bagus untuk mempromosikan Bali Indonesia. Itu, kedatangan Julia Roberts itu, tidak mencuil sedikit pun APBN kita.

Padahal, Malaysia saja harus menghabiskan dana besar agar "Gedung Jagung" (baca: menara kembar Petronas) yang menyandang gelar sebagai gedung kembar tertinggi di dunia itu bisa menjadi latar belakang atau setting film Entrapment, yang dibintangi aktris Catherine Zeta-Jones dan aktor Sean Connery, salah satu bintang film James Bond. Padahal, dalam film itu, Gedung Jagung hanya kelihatan beberapa kilas.

Kita sungguh harus berterima kasih kepada Julia Roberts. Tentu juga kepada Hollywood. Lebih khusus lagi kepada Elizabeth Gilbert yang telah menulis novel dengan setting Bali, khususnya Ubud (Gianyar) dan Jimbaran (Badung).

Tapi, sampai hari ini, saya belum melihat ada orang Indonesia yang secara terbuka mengucapkan terima kasih kepada mereka. Kalau saja saya presiden Indonesia, saya akan menjamu Julia Roberts. Setidaknya kalau saya menteri pariwisata. Kita buat Julia Robert sangat terkesan selama di Bali.

Dengan kehadiran bintang film top dunia di Bali itu, apalagi untuk waktu yang lama, apalagi untuk syuting film bagus, apalagi mengenai daya tarik Bali, apalagi jalan ceritanya sangat menarik, rasanya baru kali ini Bali mendapat promosi gratis ke seluruh dunia lewat media yang sangat abadi ini: film. Memang, Bali pernah mendapat promosi melalui penyanyi Filipina, Maribeth, dengan lagunya Denpasar Moon. Namun, lagu itu tidak mendunia."Saya tidak jadi menyesal membeli properti di Bali," ujar seorang pengusaha Surabaya. "Harga properti di Bali pasti akan naik," tambahnya. Pengusaha itu memang pernah mengeluh setelah terjadi bom Bali. Kini ke mana-mana dia bercerita mengenai Julia Roberts yang lagi syuting film di Bali.

Begitu serunya pengusaha tersebut bercerita, sampai-sampai saya harus membeli novel yang sedang difilmkan dengan judul yang sama itu: Eat, Pray, Love. Cover novel itu sendiri sudah menarik: tulisan Eat-nya menggunakan keju. Pray-nya menggunakan untaian tasbih atau rosari. Love-nya menggunakan rangkaian kelopak bunga anggrek. Itulah novel karya penulis Amerika Serikat bernama Elizabeth Gilbert. Itulah novel yang masuk dalam daftar buku terlarisnya The New York Times. Itulah novel yang meski ditulis pada 2006, tapi masih terus menjadi perbincangan di Amerika. Terutama di kalangan yang khusus ini: wanita, umur 30?40-an tahun, mapan, dan berstatus janda. Jumlah mereka ini tidak kecil di AS mengingat kebiasaan cerai dan menjadi single mother sangat umum di sana.

Novel itu memang berkisah mengenai wanita pada umur yang mudah goyah tersebut. Kegoyahan yang berakibat pada gangguan kejiwaan yang sangat berat. Liz, yang akan diperankan oleh Julia Roberts, seperti layang-layang putus setelah bercerai dari suaminya. Dia begitu benci kepada suaminya itu sampai-sampai dia menolak kata-kata bijak "kalau engkau mau mengetahui lebih banyak tentang suamimu, maka ceraikanlah dia?. Dia benar-benar bercerai justru karena ingin berhenti mengetahui lebih jauh mengenai suaminya.

Sebagai orang Kristen KTP, dia memang percaya Tuhan. Tapi, dia merasa belum pernah bisa bertemu Tuhan. Sampai-sampai dia ragu bagaimana harus menyebut Tuhan: He (dia untuk laki-laki) atau She (dia untuk perempuan). Dia begitu ingin bertemu Tuhan dan mendapatkan kedamaian jiwa. Dia mengelana ke Italia, India, dan akhirnya ke Bali. Di Bali, Liz menemui Ketut Liyer yang dia anggap bisa menjawab pertanyaan dasar yang sulit ini: bagaimana bisa menyatu dengan Tuhan, dicintai dan mencintai Tuhan seumur hidup tapi tidak harus jadi pendeta atau ulama dan tetap bisa menikmati segala kenikmatan dunia.

Bali mendapat promosi yang luar biasa. Bali yang digambarkan di novel itu sebagai satu-satunya surga di dunia, yang bisa menyelesaikan persoalan rumit Liz: dia mendapatkan ketenteraman jiwa dan kemurnian cinta dari seorang pria asal Brazil yang tinggal di Bali dengan alasan yang sama.

Julia, maafkan kalau sampai Anda pulang nanti, tidak ada sambutan hangat untuk Anda dan rombongan. Maafkan kalau kami kurang berterima kasih kepada Anda"


    • Irwan Rusli
      Thank utk tulisannya pak dahlan..dan thank for julia and team..but mereka melakukan kerja bisns dinegri kita ini sesuai aturan..ya silahkan..biasa aja lagi..dan tentang dampak plus atau. Miinusnya ya berjlan. Apa adanya. Ada..ngak usah terl...Lihat Selengkapnya

      29 Oktober 2009 jam 17:53 ·

    • Ricko Bahemar makasih pak irwan ... Kata pak dahlan...!
      29 Oktober 2009 jam 18:32 ·

    • Dua Hsp Bravo utk penulis..
      Thank u sdh dtag,Ricko,,
      Smg teman2ku pd baca,,

      29 Oktober 2009 jam 18:51 ·

    • Ricko Bahemar sama2.... buk dua...!
      29 Oktober 2009 jam 19:11 ·

    • Puty Jiejim Xiftroid Young Aq juga mw jadi menteri ???? Kira2 lulus ga yawh ???
      Mantaaappppffffff Rick !!!
      Hªª=Dhªª=))hªª=Dhªª...

      30 Oktober 2009 jam 14:01 ·

    • Ricko Bahemar ‎@234,, jadi julia robert se lah buk jim....! wkwkwkw wak jadi ketut liyer... hahahahhaa....
      30 Oktober 2009 jam 23:33 ·

    • Dayu Darwin Ricko mantap makasih alah di tag ka amak yo onde sabana rancak ko tulisannyo ko
      31 Oktober 2009 jam 7:05 ·

    • Dayu Darwin Onde iyo jempol untuak ricko jo julia robert ko salut wak kagum deh kita ya bravo ciek untuak sadonyo yg terlibat dlm pembuatan film tu mantap great cihuy eng ing eng kapan beredar nya kooo? Jan lupo agiah tau ka amak yo
      31 Oktober 2009 jam 7:08 ·

15 Fakta Menarik Tentang Tubuh Kita

oleh Ricko Bahemar pada 26 Februari 2011 jam 23:22
1. Asam lambung kita sebenarnya cukup kuat untuk mencerna seng dan timah.
Untungnya sel-sel pada dinding lambung kita diperbarui dengan sangat cepat sehingga asam lambung gak sempet berbalik jadi “senjata makan tuan”.

2. Paru-paru terdiri dari 3 milyar capillaries (urat nadi kecil).
Kalo urat-urat ini disambung jadi satu panjangnya bisa mencapai 2400 km.

3. Testikel pria menghasilkan 10 juta sperma baru tiap hari.
Cukup untuk mengganti semua manusia di muka bumi ini hanya dalam waktu 6 bulan.

4. Tulang kita tu sangat kuat, sekuat batu granit dalam menahan beban.
Percobaan dengan sepotong tulang dengan ukuran sebesar korek api bisa menahan beban sampai 9 ton – 4 kali lebih kuat dari besi beton..

5. Kuku kita perlu waktu 6 bulan untuk tumbuh dari pangkal sampai ke ujung jari

6. Organ terbesar dalam tubuh kita adalah kulit. Laki-laki dewasa luas kulitnya sekitar 1,9 m2. Kulit terus menerus diperbarui oleh tubuh kita dan sepanjang hidup setiap orang menghasilkan limbah kulit seberat 18 kg

7. Ketika kamu tidur tubuhmu mengembang sekitar 8 mm.
Saat kamu bangun tubuhmu mengerut lagi seperti semula.
Kenapa bisa begitu ?
Ternyata tulang rawan kita bisa mengembang dan mengerut (saat berdiri dan duduk) seperti spon karena pengaruh gravitasi.

8. Rata-rata orang bule makan 50 ton dan minum 50 ribu liter air sepanjang hidupnya (orang indonesia gak tau ni berapa).

9. Setiap ginjal terdiri dari 1 juta filter tunggal yang menyaring rata-rata 1,3 liter darah per menit dan menghasilkan 1,4 liter urin sehari.

10. Otot pada bola mata kita bergerak sekitar 100 ribu kali sehari.
Sebagai perbandingan kalo diterapkan pada otot kaki kita sama dengan berjalan 80 km setiap hari.

10. Otot pada bola mata kita bergerak sekitar 100 ribu kali sehari.. Sebagai perbandingan kalo diterapkan pada otot kaki kita sama dengan berjalan 80 km setiap hari.

11. Dalam waktu 30 menit panas rata-rata tubuh kita cukup buat merebus setengah galon air.

12. Satu sel tunggal tubuh kita hanya perlu waktu 60 detik untuk mengelilingi tubuh kita.

13. Kulup dari bayi yg disunat bisa tumbuh dari seukuran prangko menjadi seluas 3x lapangan basket.
Hebat kan. Keajaiban dari science. Laboratorium menumbuhkan kulit ini untuk mengganti kulit korban luka bakar.

14. Sejak kita lahir sampai sekarang hanya ada satu bagian tubuh kita yg ukurannya gk pernah berubah yaitu Bola Mata.

15. Menurut Darwin (dan beberapa ilmuwan lain) usus buntu itu dulu sebenarnya adalah bagian ketiga dari sistem pencernaan kita. Fungsinya untuk mencerna daun! Oleh karena manusia berhenti makan daun mentah dan mulai memasak semua makanannya akhirnya usus buntu kehilangan pekerjaannya