Selasa, April 29

Taman Rekreasi Sari Manggis - Gunung Talang

Topografi alam yang bergelombang, kadang bisa menjadi sebuah alasan untuk tidak berbuat apa-apa. Namun berbeda halnya kalau kondisi alam yang sulit itu dilihat dengan kacamata harapan, segalanya bisa memberikan berkah bagi kepentingan bersama.Yang kami maksud adalah Taman rekreasi Sari Manggis yang dilatar belakangi oleh kehijauan Gunung Talang, panorama itu lebih seperti lukisan minyak diatas kanvas besar.Objekrekreasi Sari Manggis yang dilengkapi dengan fasilitas kolam renang berikut taman hutan yang relatif luas untuk kegiatan serimonial, menjadi alternative tersendiri diantara pilihan-pilihan objek wisata keluarga di Sumatera barat.

Lokasi objek wisata Sari manggis sangat mudah dijangkau dari arah manapun, karena berada di pinggir jalan raya Solok-Padang dalam kenagarian Guguk, atau sekitar 18 kilometer dari Kota Solok. Jika datang dari arah kota Padang, taman rekreasi ini hanya berjarak sekitar 40 KM.


Wisata Solok Selatan

Mencari tempat pelesiran alternatif, terutama yang menawarkan petualangan, Kabupaten Solok Selatan pantas menjadi salah satu tempat tujuan. Ada pesona alam bernuansa pegunungan, ada keunikan bangunan budayanya dan tidak ketinggalan atraksi-atraksi bernuansa adat yang mengilhami kehidupan sehari-hari masyarakat yang menjanjikan pengalaman yang tak mudah untuk dilupakan.

Solok Selatan memang lebih dikenal sebagai salah satu kabupaten baru di Sumbar. Umurnya baru tiga tahun. Jaraknya yang jauh dari ibukota Padang, mencapai ratusan km, daerah ini memang tidak banyak didengar khabarnya. Satu hal yang membuatnya mudah diingat adalah soal keelokkan rasa beras Muarolabuhnya.

Perjalanan darat yang jauh menjadi tantangan untuk mengunjungi Solok Selatan. Jangan pernah membayangkan medan jalan yang lurus dan mulus, setiap depal jalan yang ditempuh ke sana akan disapa oleh tikungan tajam. Bagi yang tidak tebiasa, harus mempersenjatai diri dahulu dengan obat anti mabuk. Menegangkan, justru di sanalah nilai petualangannya.

Sepanjang perjalanan dari Padang menuju Solok Selatan, walau terasa berat dengan tikungan-tikungan tajam, namun setiap kali mata memandang dijamin tidak akan merasakan kekecewaan. Memasuki Taman Hutan Raya Bung Hatta, keindahan Kota Padang dari Sitinjau Laut sudah menggoda hasrat berpelesiran. Sesampai di Kayu Aro yang kini menjadi ibukabupaten Solok, singgahlah sebentar untuk menikmati makanan khas dendeng batokok. Hawa yang sejuk ala pegunungan, dijamin akan mampu menggugah selera.

Memasuki Alahan Panjang, mulailah takjub dengan pesona perkebunan teh yang memiliki sejarah panjang sebagai peninggalan Belanda. Jangan hanya sekadar melihat hamparan kebun teh seperti permadani hijau dari balik jendela mobil, berhentilah sejenak di pinggir jalan. Untuk melihat aktivitas pemetik teh sangatlah mudah dari tepi jalan. Mau berphoto-photo, di sini pulalah tempat yang terbaik dengan mengambil latar alam yang menakjubkan.

Belum puas rasanya menikmati perjalanan darat ke Solok Selatan sebelum memandang sepuasnya keindahan Danau Kembar. Mampirlah di sebuah kedai yang banyak di sepanjang jalan. Sambil menikmati teh panas di tengah hawa yang sejuk tentu akan semakin berkesan dengan hamparan Danau Kembar yang nampak keseluruhan dari puncak bukit.

Sesampai di Pantai Cermin, kemolekkan alam itu belumlah habis. Di kawasan ini bisa dilihat hamparan bukit-bukit tandus yang curam, seperti Grand Canyon-nya di Amerika Serikat.

Gerbang pertama memasuki Solok Selatan adalah Muarolabuh. Daerah pelintasan ini memperlihatkan denyut nadi Solok Selatan. Dari daerah-daerah yang ada di sana, Muarolabuhlah yang paling ramai.

Dari Muarolabuh menuju ibukabupaten di Padang Aro, jaraknya kurang lebih sama antara Padang menuju Padang Panjang. Di tengah perjalanan, jangan lupa melihat-lihat ke arah kanan. Di sebuah tikungan jembatan, terpampanglah objek wisata air panas Sapan Maluluang.

Air panas Sapan Maluluang adalah salah satu objek wisata unggulah Solok Selatan. Dari jalan raya Padang Aro, butuh perjalanan enam kilo meter menuju ke objek air panas Sapan Maluluang. Namun, perjalanan itu tidak akan sia-sia. Pemkab Solsel sudah membenahi jalan menuju ke objek wisata itu. Sudah mulus, dan cocok untuk bersepeda gunung. Di sepanjang jalan akan ada pemandangan menarik, yaitu hamparan kebun karet yang meneduhkan jalan.

Air panas Sapan Maluluang terletak di tebing bukit. Inilah menariknya, karena dari sana bisa dilihat hamparan lembah yang luas yang masih ditempati hutan-hutan yang perawan. Tentu saja aroma yang ditawarkan adalah kesejukkan alam ala pegunungan.

Mulai dari wisata seribu Rumah Gadang di nagari Koto Baru – Muaro Labuah, pemandian air panas Sapan Maluluang, Air Terjun Timbulun, Kayaking batang Lambai, panorama tepian hulu batang Hari, markas PDRI nagari Bidar Alam ditutup dengan sesi adventure menyusuri batang hari dari nagari Abai hingga ke Sungai Dareh/Pulau Punjung kab. Dharmasraya.


Wisata Pesisir Selatan


Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km² dan populasi 400.000 jiwa. Ibu kotanya ialah Painan.

Penduduk dari Kecamatan XI Koto Tarusan dan Kecamatan Bayang secara historis umumnya berasal Luhak Kubuang Tigo Baleh terutama dari Muaro Paneh, Kabupaten Solok sekarang dan Sungai Pagu, Solok Selatan sekarang. Sebagian nenek moyang Nagari Inderapura ada yang berasal dari Pariangan Padang Panjang, Padang Panjang. Dan sebagian kecil dari Bengkulu dan Kerinci terutama penduduk Tapan dan Lunang.

Dulu hampir seluruh wilayah kabupaten Pesisir Selatan sekarang merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Inderapura. Juga pernah dikenal sebagai Banda Sapuluah atau Bandar Sepuluh karena ia terdiri dari sepuluh kota kecil atau bandar yang sekarang merupakan ibukota kecamatan. Tapi Bayang, Sebelas Koto Tarusan, Inderapura, Tapan dan Lunang tidak termasuk kedalam Banda Sapuluah tersebut.[rujukan?]

Sementara itu Banda Sapuluah merupakan wilayah rantau dari Sungai Pagu, Solok Selatan

Di Pesisir selatan dikenal rendang lokan (sebangsa kerang hijau) bercangkang hitam. Lokan banyak terdapat dimuara sungai Indrapura dengan kedalaman ± 16 m'. Saat pengambilan Lokan penyelam tidak memakai alat bantu sama sekali

Di Pesisir Selatan banyak terdapat objek wisata baik objek wisata alam maupun wisata sejarah dan budaya. Ada beberapa objek wisata yang terkenal antara lain:

1. Pantai Mandeh (Tarusan)
2. Jembatan Akar (Bayang)
3. Air Terjun Bayang Sani (Bayang)
4. Puncak Langkisau (Painan)
5. Pantai Carocok (Painan)
6. Benteng Portugis di Pulau Cingkuk (Painan)
7. Bekas pertambangan emas di Salido
8. Pantai Pasir Putih di Kambang
9. Puing-puing Istana Kerajaan Inderapura di Muaro Sakai (Inderapura)
10. Istana Mande Rubiah di Lunang

Dan banyak tempat wisata lainnya yang bisa dikunjungi.


Pesona Panorama Tabek Patah

Panorama Tabek Patah
Berwisata adalah salah satu cara bagi sebagian orang untuk membuang kesuntukan karena rutinitas kerja. Negara Indonesia dengan ribuan pulau-pulau yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, menjadikan wisatawan mempunyai banyak pilihan mengunjungi obyek wisata pantai. Selain pantai, sebagian wisatawan gemar mengunjungi tempat-tempat yang memiliki pemandangan alam yang indah. Sumatera Barat, selain memiliki pantai-pantai ciamik juga memiliki keunggulan dengan banyaknya panorama alamnya. Salah satunya adalah panorama alam Tabek Patah yang berada di Batusangkar, ibukota Kabupaten Tanah Datar.

Sepanjang Jalur Hijau Batusangkar - Bukittinggi 

Dari Kota Batusangkar, obyek wisata ini berjarak sekitar 16 km. Dari Kota Batusangkar menuju Tabek Patah, mata akan sering dimanjakan hijaunya hamparan sawah dan pohon oleh karena jalan utama di tempat tersebut ditetapkan oleh Pemda Tanah Datar sebagai jalur hijau. Aturan dikukuhkan pada Perda No. 5 Tahun 1994 tentang “Kawasan Agro dan Jalur Hijau". Panorama Tabek patah berada pada ketinggian tertentu karena terletak di pinggang gunung Merapi. Dari ketinggian inilah pemandangan di bawahnya terlihat menakjubkan; sawah yang berjenjang dengan latar belakang gunung Merapi.

Jika tidak disempatkan untuk berhenti dan hanya melihat sekilas di sekitar areal mungkin tidak akan pernah melihat indahnya panorama alam di tempat tersebut, karena jalan menuju panorama kurang menarik dengan pintu gerbang yang nampak mulai kusam. Namun, wisatawan akan terkesima oleh pemandangan yang luar biasa indah setelah melewati gerbang yang bertuliskan “Panorama Tabek Patah” tersebut. Nagari Tabek Patah dianugerahi dengan udara yang sejuk sehingga menyegarkan ketika terhirup. Juga akan tercium harum pucuk-pucuk pinus sebab di sekitar lokasi terdapat hutan pinus yang semakin melengkapi kesejukan di panorama Tabek Patah.


Senin, April 28

Danau Singkarak

Danau Singkarak adalah sebuah danau yang membentang di dua kabupaten di provinsi Sumatera Barat, Indonesia, yaitu kabupaten Solok dan kabupaten Tanah Datar. Danau ini memiliki luas 107,8 km² dan merupakan danau terluas ke-2 di pulau Sumatera.

Danau Singkarak berada pada letak geografis koordinat 0, 36 derajat Lintang Selatan (LS) dan 100,3 Bujur Timur (BT) dengan ketinggian 363,5 meter diatas permukaan laut (mdpl). Luas permukaan air Danau Singkarak mencapai 11.200 hektar dengan panjang maksimum 20 kilometer dan lebar 6,5 kilometer dan kedalaman 268 meter. Danau ini memiliki daerah aliran air sepanjang 1.076 kilometer dengan curah hujan 82 hingga 252 melimeter per bulan.


Ikan Bilih
Di danau Singkarak terdapat spesies ikan yg hanya hidup di danau ini, ikan ini disebut dengan nama ikan bilih (Mystacoleucus padangensis). selain ikan bilih terdapat 18 jenis spesies ikan lainnya, antara lain: Asang/Nilem (Osteochilus brachmoides) dan Rinuak. Spesies ikan lainnya yang hidup di Danau Singkarak adalah, Turiak/turiq (Cyclocheilichthys de Zwani), Lelan/Nillem (Osteochilis vittatus), Sasau/Barau (Hampala mocrolepidota) dan Gariang/Tor (Tor tambroides). Kemudian, spesies ikan Kapiek (Puntius shwanefeldi) dan Balinka/Belingkah (Puntius Belinka), Baung (Macrones planiceps), Kalang (Clarias batrachus), Jabuih/Buntal (Tetradon mappa), Kalai/Gurami (Osphronemus gurami lac) dan Puyu/Betok (Anabas testudeneus). Selanjutnya, spesies ikan Sapek/Sepat (Trichogaster trichopterus), Tilan (mastacembelus unicolor), Jumpo/Gabus (Chana striatus), Kiuang/Gabus (Chana pleurothalmus) dan Mujaie/Mujair (Tilapia pleurothalmus).


Akses dari Bandara Internasional Minangkabau Padang ditempuh hanya sekitar 1,5 jam-2 jam dengan angkutan umum. Juga, jika menaiki kereta api dari Padang melalui simpang tiga pekan Solok, pasti melewati danau ini. Dan bila menyusur dari Bukittinggi yang telaknya hanya sekitar 36 Km dari Bukittinggi, akan melewati banjaran gunung yang terbungkam di sebelah kiri jalan. Di kaki gunung, suasana petak-petak sawah.



Objek Wisata Cagar Alam Lembah Anai

 

Lembah Anai terletak di Nagari Singgalang Kecamatan X Koto persisnya di jalan raya Padang-Bukittinggi dengan jarak sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Batusangkar (via Padang Panjang). Lembah Anai terkenal dengan objek wisata air terjunnya. Lembah Anai sendiri merupakan daerah cagar alam yang dilindungi. Di dalam rindangnya hutan terdapat beberapa tanaman langka yang sekaligus menjadi daya tarik dari Cagar Alam Lembah Anai, salah satunya adalah bunga bangkai (amorphyphalus titanum).

Bunga bangkai ini tumbuh subur di tengah hutan. Selain bunga bangkai ada juga beberapa tumbuhan kayu yang menjadi daya tarik kawasan cagar alam ini, di antaranya cangar, sapek, madang siapi-api (litsea adinantera), cubadak/cempedak air (artocarpus sp), madang babulu (gironniera nervosa), dan lain-lain.Cagar Alam Lembah Anai merupakan salah satu kawasan hutan lindung yang terdapat di Sumatra Barat. Kawasan ini memiliki hamparan hutan hujan tropik yang lebat dengan aneka ragam jenis flora dan fauna. Hutan yang terletak di jalan raya menghubungkan Kota Padang = Bukittinggi ini, ditetapkan sebagai kawasan konservasi cagar alam semenjak pemerintahan Kolonial Belanda. Hal ini dapat diketahui melalui surat keputusan No. 25 Stbl No. 756 yang dikeluarkan pada tanggal 18 Desember 1922 oleh pemerintah Hindia Belanda.

Saat itu, kawasan yang ditetapkan sebagai cagar alam mencakup areal seluas 221 ha dan masih dipertahankan hingga sekarang. Walaupun penetapan hutan Lembah Anai menjadi kawasan cagar alam sudah cukup lama, tetapi keberadaannya bisa dibilang kurang dikenal. Hal ini disebabkan, kurangnya sosialisasi dan promosi yang dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Tanah Datar. Di samping itu, daya tari obyek wisata Air Terjun Lembah Anai lebih banyak dikenal dari pada Cagar Alam Lembah Anai.


Hutan Lembah Anai berfungsi untuk menjaga kelestarian dan keseimbangan ekosistem alam agar tidak rusak dan tercemar. Lebatnya Hutan Lembah Anai berguna sebagai penjaga kestabilan iklim mikro, memasok produksi oksigen, dan menyerap CO2. Oleh sebab itu, keberadaan kawasan Cagar Alam Lembah Anai bisa menjadi paru-paru alam untuk sirkulasi udara di Provinsi Sumatra Barat.

Banyak keistimewaan yang terdapat di dalam Cagar Alam Lembah Anai, mulai dari keindahan alam hingga kekayaan flora dan fauna langka. Keindahan alam yang dapat disaksikan, yaitu tiga air terjun dan satu telaga yang airnya berwarna kebiru-biruan. Ketiga air terjun tersebut terletak di bagian barat Cagar Alam Lembah Anai. Salah satu di antaranya terletak di pinggir jalan yang sering dikenal dengan Air Terjun Lembah Anai. Sementara dua air terjun lainnya tertutup oleh lebatnya hutan, sehingga belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Bagi para wisatawan yang ingin menyaksikan dua air terjun tersebut dapat menempuh perjalanan sekitar 15 menit dari lokasi Air Terjun Lembah Anai. Para pelancong yang penasaran dengan keindahan panorama telaga juga dapat menyaksikannya dengan menempuh perjalanan sekitar 15 menit dari tepi jalan raya.

Ada pula hewan langka yang hampir punah, di antaranya harimau sumatra (phantera tigris sumatrensis), rusa (cervius timorensis), siamang (hylobates syndactylus), kera ekor panjang (macaca fascicu- laris), beruk (macaca nemestrena), trenggiling (manis java- nica), kancil (tragulus sp), tapir, dan biawak. Hewan yang sering dijumpai oleh wisatawan ketika melewati kawasan ini, adalah kera ekor panjang, siamang, dan beruk. Ketiga hewan ini selalu bergerak untuk mencari buah-buahan yang terdapat di kawasan hutan hingga ke pinggir jalan raya.

Sementara itu, untuk melihat hewan yang lain diperlukan tenaga pendamping yang mengantar pengunjung langsung ke tempat hewan tersebut biasa bermain dan mencari makan. Selain hewan-hewan tersebut, Cagar Alam Lembah Anai juga dihuni oleh aneka burung, seperti elang (accipitriade sp), burung balam (bolumbidae), burung punai, dan burung puyuh. Burung elang biasanya hidup di atas pohon tinggi. Apabila beruntung, wisatawan dapat melihatnya ketika burung tersebut terbang mengelilingi hutan untuk mencari mangsa.

Lokasi
Cagar Alam Lembah Anai terletak di Kecamatan X (Sepuluh) Koto, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia.

Akses
Untuk mencapai lokasi ini perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum (bus), mobil sewaan, atau mobil pribadi. Jika menggunakan angkutan umum, perjalanan dimulai dari Bandar Udara Ketaping Padang menuju Kawasan Cagar Alam Lembah Anai dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Di dalam kawasan cagar alam terdapat beberapa tenda posko yang digunakan oleh tenaga konservasi Cagar Alam Lembah Anai. Bagi wisatawan yang lelah menjelajah kawasan cagar alam dapat beristirahat di posko tersebut

Pesona Danau Kembar Nan Menawan


Berbicara tentang tentang objek wisata yang ada di Sumatera Barat tak akan ada habis-habisnya. Sumatera Barat memang sebuah daerah yang kaya dan unik. Tidak hanya kaya akan budaya, tradisi, kuliner, sejarah namun juga sangat kaya akan panorama alam yang luar biasa indahnya yang sayang untuk dilewatkan.

Kali ini saya akan mencoba membagikan pengalaman jalan-jalan ke beberapa objek wisata yang ada di Solok, Sumatera Barat. Jalan-jalan itu dilakukan pada tahun lalu ketika saya masih sempat pulang ke kampung karena liburan panjang selama lebih kurang dua bulanan lebih. Jalan-jalan kali itu sangat berkesan dan saya rasa memang pantas untuk dibagikan kepada teman-teman sekalian.

Saya kesana bersama dengan teman-teman satu angkatan. Kami melakukan perjalanan wisata kali itu lebih kurang dua hari dua malam. Karena mengunjungi Solok kami rasa tak cukup hanya satu hari full saja. Menikmati keindahan alam disana tak harus tergesa-gesa dan seperti keburu waktu. Agar keindahan alam disana bisa dinikmati sepuas hati maka kami rela menyediakan waktu demi memanjakan mata dan menenangkan batin dan pikiran ini.

Kebetulan disana kami menumpang tinggal dirumah saudara salah seorang teman. Karena ada tumpangan gratis itulah maka kesempatan kali itu tak bisa disia-siakan untuk sepuas-puasnya menikmati keindahan alam di Solok.

Jumlah rombongan cukup ramai dan untung pula ada teman yang saudaranya punya mobil dan ia kebetulan juga bisa nyopir. Akhirnya untuk akomodasi dan transportasi semuanya beres. Perjalanan dimulai pukul 08.00 WIB. Jarak antara Payakumbuh dan Solok lebih kurang 106 KM.

#Hari Pertama: Danau Kembar dan Gunung Talang

Ketika hari menjelang siang kami pun telah menginjakkan kaki di kota Solok. Perjalanan yang cukup jauh dan cukup melelahkan pula. Selama berjam-jam hanya duduk di bangku mobil. Untuk meregangkan otot kami berhenti sejenak di kawasan Arosuka. Sebuah kawasan di kota Solok nan asri dan menarik untuk disinggahi. Banyak para wisatawan yang singgah disana. Di kawasan Arosuka ini juga ada monumen patung ayam jantan. Banyak wisatawan yang berkunjung kesana tak mau melewatkan untuk mengabadikan foto mereka dengan latar ayam jantan itu.
Arosuka
wisatawan yang mengabadikan fotonya bersama si ayam janan
Kemudian setelah lama bersantai di kawasan Arosuka, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Seakan tak ingin menyia-nyiakan waktu yang tersisa kami pun sepakat untuk langsung menikmati keindahan Danau Kembar dan panorama lainnya di lokasi yang sangat kami nantikan.

Apakah masih ada yang belum tahu tentang Danau Kembar? Ya.. Danau Kembar… Danau ini dikatakan kembar karena posisi kedua danau yang saling berdekatan. Danau kembar ini bagi masyarakat Sumatera Barat lebih dikenal dengan nama Danau Diateh (Diatas) Danau Dibawah.

Seperti apakah Danau Diatas dan Danau Dibawah itu? Bagaimana posisinya, apakah ada yang diatas dan ada yang dibawah?

Bagaimana ya cara menjelaskannya? Yang jelas kedua danau ini saling berdekatan dan bisa dinikmati sekaligus. Ketika kita ada di Danau Dibawah, Danau Diatas seperti ada diatas bukit. Ketika kita ingin melihat Danau Diatas, kita bisa melihatnya diatas bukit atau spot yang sudah ada disana. Agak susah memang untuk dipahami. Mungkin akan lebih baik jika suatu saat anda langsung kesana dan membuktikan keajaibannya sendiri dengan sepasang mata anda.

pesona danau kembar nan menawan dengan latar gunung talang nan berdiri menantang serta langit biru dengan komposisi awan nan indah
danau diatas
Kedua danau ini memiliki air yang super jernih. Dari dekat kita seakan bisa bercermin. Sedangkan dari kejauhan airnya seperti berwana biru. Di ujung sisi danau yang lain kita akan melihat gugusan beberapa bukit kecil dan juga Gunung Talang yang berdiri menantang.
danau yang dikelilingi gugusan bukit-bukit dan gunung talang
Danau Dibawah
Di danau itu kita bisa bermain air sepuasnya. Bisa juga memancing ikan yang ada di danau. Berjalan-jalan di tepian danau yang airnya begitu tenang membuat hati kita terasa begitu damai dan terasa begitu tenang pula.

Cuaca pada hari itu juga sangat cerah. Matahari bersinar dengan angkuhnya seakan tak mau ketinggalan mencicipi jernihnya air danau. Langit begitu indah. Dengan komposisi awan yang menawan. Menyergap kita untuk memandanginya. Susana kali itu sungguh luar biasa dan tak akan terlupakan. Seakan kita berada di sebuah tempat di belahan bumi yang lain. Hati sungguh terasa damai. Ketakjuban langsung menyergap. Hati dibuat menjadi luluh dengan keindahan ciptaan Tuhan yang tak tertandingi itu. Alhamdulillah, puji Tuhan kami diberi kesempatan untuk menimati itu semua sepuas hati.
jangan perhatikan orang yang tertangkap kamera tapi perhatikan komposisi awan di atas langit sana
Sebenarnya untuk memandangi dan menikmati semua yang ada disana tak akan cukup waktu beberapa jam saja. Mata kita tak akan dibuat bosan. Sebenarnya kami ingin berlama-lama di tepian danau namun karena cuaca yang cukup panas di siang itu kami beranjak ke panorama yang ada diatas bukit dekat dengan danau.
memandangi rumah warga serta perkebunan
Di panorama itu kita bisa memandangi sekeliling danau serta juga ke pepohonan hijau yang membentang. Di panorama itu kita bisa bersantai-santai. Disana ada banyak pedagang yang berjualan. Kali itu juga ada yang unjuk kebolehan dengan memainkan Saluang (alat musik tiup khas Minang). Bagi anda yang sedang berbaik hati bisa menyisihkan beberapa rupiah untuk bapak itu.
ada tempat yang disediakan untuk para pedagang berjualan
Hmm… lengkap sudah keindahan yang kami dapati kali itu. Setelah memandangi danau yang airnya begitu jernih, pemandangan bukit dan Gunung Talang yang berdiri kokoh menantang, langit biru yang begitu cerah dengan komposisi awan yang begitu menawan serta tak ketinggalan diiringi alunan bunyi Saluang nan merdu, sungguh begitu menenangkan batin dan alam bawah sadar kita.

Setelah puas menikmati suguhan pemandangan alam yang luar biasa siang itu kami kembali ke penginapan. Karena hari yang sudah mulai beranjak petang. Energi harus kembali dipulihkan. Agar keesokan harinya tubuh semakin fresh dengan bola mata yang sudah siap-siap untuk menggerayangi seluruh kenikmatan yang disuguhkan oleh alam Solok yang mempesona.

#Hari Kedua: Kebun Teh yang Hijau Merona
Hari berikutnya masih ada waktu untuk memanjakan mata sepuas-puasnya dengan keindahan alam yang luar biasa membentang. Hari kedua itu kami mengunjungi kebun teh di kaki Gunung Talang.

Kebun teh yang ada disana begitu luas membentang. Dari kejauhan, lahan perkebunan teh terlihat hijau berseri. Suasana disana begitu sejuk, menyegarkan mata, dan jauh dari kebisingan. Suasana perkebunan teh terasa cukup sunyi yang ada hanya suara-suara burung berkicau dan suara serangga yang menciut-ciut.

Hmmm… ketika menghirup nafas panjang, dada terasa lega. Yang mengganjal di dalam dada dan pikiran seakan terbang hilang begitu saja bersama nafas yang keluar dari hidung melewati tenggorokan.

Teh yang ada disana tumbuh subur. Daunnya hijau berseri. Tumbuhnya sejajar dan teratur. Sebuah komposisi alamiah dengan pola yang unik. Coba anda bayangkan saja sendiri saat anda berada di tengah-tengah hijaunya kebun teh. Duh… indahnya…
hijaunya kebun teh
Itulah kenikmatan yang kami rasakan selama disana. Kenikmatan yang tiada tara. Jiwa dan pikiran menjadi tenang. Keindahan alam yang diciptakan Tuhan mampu membius kami semua yang mencuri indahnya suguhan yang ditampilkan alam.

Semua terasa seperti bermimpi saja. namun apa yang akan kita rasakan disana sungguhlah benar-benar nyata adanya. Sebuah kenangan indah yang tak terlupakan. Sehingga sampai-sampai keindahan yang pernah kami cicipi itu seakan membisikkan syair-syair indah di telinga yang menyuruh kami untuk datang kembali kesana.

Hmmm… suatu saat saya pasti akan kembali kesana. Selagi nafas masih dikandung badan, selagi jiwa masih belum ditarik malaikat dari ubun-ubun dan sebelum dunia ia kiamat, saya harus menyempatkan diri untuk datang kembali kesana. He he he…

Bagi anda semua jangan ragu untuk ikut merasakan sensasi kenikmatan yang disuguhkan oleh panorama di Danau Kembar, Gunung Talang, kebun teh serta objek-objek wisata lainnya yang ada di Solok khususnya dan Sumatera Barat pada umumnya.

Karena kekayaan yang dimiliki Sumatera Barat tak kalah dengan tempat lain di Indonesia ini. anda tak akan rugi sdikitpun malah akan meraup keuntungan yang berlipat. Bagaimana tidak! ketika anda telah benar-benar menginjakkan kaki disana kita akan mendapatkan berbagai kenikmatan. Alam nan indah, sejarahnya yang beragam, jiwa dan pikiran tenang serta tentu kulinernya yang membangkitkan nafsu. Ibarat pepatah, sekali melangkah dua tiga pulau terlalui. Sekali menginjakkan kaki, dua tiga kenikmatan sudah pasti ditangan.
ada kapal juga tuh
Sekali lagi saya ajak teman-teman untuk kapan-kapan sempatkan diri untuk menyambangi keindahan alam disana. Cobalah suatu saat nanti agar anda tak hanya sekedar bisa membayangkannya namun harus bisa menginjakkan kaki di tanahnya.

Untuk promosi wisata yang ada disana saya rasa saat ini memang agak kurang. Tak seaktif beberapa tahun kebelakang. Namun saya rasa itu akan menjadi poin tersendiri. Maksudnya? Ya… ketika alam masih sedikit terjamah oleh kehadiran manusia maka alam itu akan lebih senantiasa terjaga. Kejernihan air, kesegaran udara, dan segalanya yang ada disana akan lebih terjaga keasliannya. Maka bagi mereka yang sempat mencuri kealamian alam itu akan menjadi sebuah pengalaman berharga yang sangat mahal dan tak bisa digantikan dengan materi.

Itulah cerita yang bisa saya bagikan ketika mengunjungi beberapa objek wisata yang ada di Solok tepatnya ke Danau Kembar, Gunung Talang dan ke kebun teh. semua keindahan yang ada disana merupakan sebuah pesona yang luar biasa dan menakjubkan. Destinasi wisata diatas bisa menjadi alternatif tempat wisata yang bisa anda masukkan ke dalam kalender liburan anda. tandai lalu segeralah kesana… oke..! :)












Cerpen: Mengitung Hari

Aku sedang menghitung hari. Menjelang hari yang ditunggu-tunggu. Dan karena sedang menjelang hari H yang ditulis dengan huruf besar ini, kami berkumpul-kumpul dirumah. Mamak rumah datang, ipar-ipar datang. Ramai di rumah.

Ramai ciloteh, cerita, nostalgia, memori. Ramai hotar. Ke kiri dan ke kanan. Dan ditengah keceriaan itu kami buka album-album lama. Album foto-foto yang terkumpul sejak lebih tiga puluh tahun yang lalu. Diantaranya ada foto-foto ketika aku masih bujangan di Bandung. Masih muda mentah, masih gagah…… dan ganteng. Seandainya mau pantas benar untuk jadi bintang sinetron kala itu, seandainya waktu itu sudah ada sinetron-sinetronan. Lalu foto ketika kami menikah dua puluh enam tahun yang lalu. Ehem…. Kami tampan dan cantik ketika itu. Lalu foto-foto ketika anak pertama lahir, ketika bayi kecil itu berumur beberapa bulan sampai dia berumur beberapa tahun. Sampai ketika adiknya lahir pula hampir tiga tahun kemudian. Ketika kami berwisata ke Bali, ke Dieng, ke Jogya. Jangan dihitung lagi ketika kami pulang kampuang, naik bendi. Berjalan-jalan ke kebun binatang, ke Atas Ngarai pergi ke tempat pical si Kai. Atau ketika kami menyaksikan perayaan khatam Quran di kampung.

Foto-foto itu bercerita banyak sekali. Rekaman foto-foto itu, yang selama ini tersimpan rapi di rak, tidak pernah dilihat-lihat lagi sejak lama, sekarang kami buka, kami lihat. Aku menari-nari diatas kenangan demi kenangan itu. Semua kembali segar dalam otakku. Seolah-olah iyanya baru kemarin saja. Baru kemarin rasanya aku berkeliaran di Bandung. Baru kemarin rasanya aku berkenalan dengan calon istriku lalu menikahinya. Baru kemarin kami punya anak yang datang satu persatu. Lalu pindah ke Jakarta dari Kalimantan Timur ketika anak-anak sudah bersekolah semua. Lalu mengukur jalan-jalan macet Jakarta setiap pagi dan petang. Larut dalam hiruk pikuk Jakarta. Padahal semua itu adalah sebuah perjalanan panjang berbilang puluhan tahun.

Malu-malu aku berkaca sesudah itu. Sendiri. Aku lihat raut wajah yang sudah kentara sekali berumur. Rambut yang sudah banyak putihnya dan memang kubiarkan putih. Biar ingat. Biar jangan lupa bahwa aku sedang menghitung hari. ‘Wahai manusia, sesungguhnya engkau sedang bekerja keras menemui Rabb mu dan engkau pasti menemuiNya’.

Dan sekarang aku berada di penghujung pergantian generasi. Anak-anak yang kutimang-timang selama ini, yang kulihat pertumbuhannya dari sehari ke sehari. Mereka telah bertumbuh dewasa. Telah tiba giliran mereka untuk melanjutkan amanah kekhalifahan ini. Dan aku sedang menghitung hari.

Aku bersyukur atas nikmat Allah ini. Yang tak terperikan besar dan banyaknya.
Allah Yang Maha Pemurah telah melimpahiku dengan nikmat yang sangat luar biasa.
Nikmat usia, nikmat sehat, nikmat kehidupan, nikmat keturunan, dan yang terutama nikmat iman dan Islam.

Pada kemarin yang dekat, seorang anak muda datang menghadapku sesuai dengan permintaanku sesudah sebelumnya kedua orang tuanya juga datang melamar anak gadisku yang paling tua. Tidak banyak yang aku rundingkan dengan anak muda yang menyatakan bersungguh-sungguh menginginkan anakku untuk menjadi istrinya itu. Tahukah kamu ma’na dari pernikahan dan ma’na dari menjadi seorang suami, tanyaku kepadanya. Agak terbata-bata dia menjawab. Menjadi suami, kataku, adalah kamu mengambil alih tanggung jawab terhadap seorang wanita untuk urusan dunia sampai akhirat. Apakah kamu paham? tanyaku pula. Anak muda yang bersemangat itu mengangguk. Dan aku ingatkan kepadanya firman Allah SWT, ‘Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari ancaman api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Padanya ada malaikat yang sangat tegas dan keras yang tidak mendurhakai Allah atas apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan mereka selalu melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka.’

Dan kini aku sedang menghitung hari yang sangat cepat sekali berganti.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,

Cerpen: Batang Kampar

Pabilo ambo muloi maninggaan kampuang dalam arati pai ʽmarantauʼ bukan pai pakansi?
Di awal taun 1967. Katiko baru tamaik SMP 3 Tanjuang Alam di Bukiktinggi. Sadang maso pancaroba, sadang puber. Baru ka tau di anak gadih nan rancak, baru ka pandai kanai ati. Baru ka pandai maisok. Baru ka pandai bauru-uru di labuah, mamadek-madek labuah ka ilia ka mudiak. Sarato jo parangai cingkahak lainno. Di kampuang kami di Koto Tuo Balai Gurah, alah ado urang tuo-tuo nan ʽmaramalkanʼ, nampak-nampakno, ka tamaik sampai di SMP tu sin pulo sakola paja tu no du.

Katiko sadang karitis tu, kakak sapupu ambo manyalamaik-an jo mambao pai marantau, manaruih-an sakola ka Pakan Baru dek awakno bakarajo di Caltex di Rumbai maso itu.

Katiko itu, untuak pai ka Pakan Baru dari Kiktinggi paralu wakatu 14 sampai 16 jam (untuak malalui jarak nan 221 kilo tu). Barangkek dari Bukiktinggi kiro-kiro sasudah pukuah tigo patangari, jo Batang Kampar nomor 10. Supirno si Duruih (Idrus), urang mudo nan elok baso. Sambia mambao oto jo tangan kida, tangan suokno ‘bagaritiak’ di kalason, muncuangno banyanyi sagalo macam lagu. Lai kajadi di kelok sambilan, indak baranti-baranti kalason tu badendang doh.

Barangkek antaro pukuah tigo pukuah ampek sasudah asa. Tibo di Lubuak Bangku manjalang mugarik. ‘Pasisia’ (pasasi) turun, makan ciek dulu. Ari dingin-dingin, nasi angek bagabun-gabun, makan jo ayam panggang, indak dapek nan kadisabuik. Sudah sumbayang mugarik, ari muloi malam, maetek-eteklah Batang Kampar mandaki pandakian kelok sambilan. Lapeh sain dari kelok sambilan, manuju ka Lubuak Jantan, jalan indak ado nan elok saketek juo lai tu doh. Sarupo naiak buaian kaliang awak di ateh oto tu. Kacapatan oto indak labiah pado limo jo sapuluah kilo sajam. Labiah capek jalan kuretangin pado jalan oto tu. Tiok sabanta turun naiak sitokar macaliak-an jalan nan kaelok kaditampuah oto. Namun kalason babunyi juo, si Duruih indak baranti juo badendang. Lagu-lagu saluang.

Oto bus saisuak nan basampik-sampik sangaik tu, sabana bagadimpik. Pasisia nan lalok, lalok juo. Nan maisok-maisok, juo. Alah kajadi duduakno di tangah, rokokno indak putuih-putuih. Iyo sabana tinggi toleransi awak katiko itu. Sanasib, sapanangguangan, indak banyak cencong. Oto maetek-etek juo laguah lagah. Kadang-kadang amuah talakak kapalo awak katunggak (ado tunggak bagai di dalam oto tu). Malalui rimbo gadang. Masih ado ‘inyiak’ malinteh biasono di jalan. Malalui Pangkalan Koto Baru, taruih ka Anam Koto, taruih ka Tanjuang Pauah, taruih ka Tanjuang Balik taruih ka Muaro Maek. Disiko ado jambatan ba ampang-ampang di ateh. Oto nan sarek muatan di ateh tenda, tapaso babongka dulu muatan tu. Di subarangan ciek-ciek, diangkek, ado pulo tukang angkek di sinan. Baitu masuak propinsi Riau sajak dari Tanjuang Balik, labuah lah rancak, lah dapek oto balari. Lapeh dari Muaro Maek, manjalang lubang kalam. Di dalam lubang kalam tu batambah bagaritiak kalason si Duruih (ano ko jaleh lah tuo pado ambo katiko itu). Ba’echo’ bunyi kalason. Tajago pasisia nan lalok.

Lapeh tangah malam tibo di Rantau Barangin. Alah baririk oto disinan mananti ‘kamalayang’. Tibo-tibo ‘malesat’ Sinar Riau dari balakang, mandaului oto nan antri sabanyak tu. Dek ‘Liau’ ko oto pos. Jadi dapek prioritas.

Dan palayangan di Rantau Barangin atau Danau Bingkuang saisuak tu, talok mambao duo buah bis, atau ciek bis jo ciek oto parah sakali ‘malayang’ no.

Kiro-kiro pukuah duo baru dapek giliran kami malayang ka subarang. Sadang diateh palayangan tu baganti tukang ‘garitiak’ kalason. Dari oto nan lain, sabab rupono kalason oto si Duruihko kabano lasuah. Baa ka indak, dek sabana dipaliarono di si Duruih.

Pukuah satangah tigo tibo di subarang. Jalan lah rancak, baaspal elok, lalu di Kuok, Aia Tirih, Bangkinang. Taruih ka Kampar. Tibo di Danau Bingkuang ari alah pukuah satangah ampek. Diulang pulo antri baliak. Pukuah limo baru dapek manyubarang. Pukuah satangah anam tibo di subaliak. Si Duruih indak mangalason lai. Sabab sajak dari Danau Bingkuang malalui Rimbo Panjang, ano lalok. Sitokar nan mambao oto. Lewaik saketek pado pukuah anam tibo di Pakan Baru. Di parantian oto nan sabalah kamari saketek dari Pasa Pusek. Itulah ari partamu ambo pai marantau, di awal taun 67.

Cerpen: Surat Untuk Kanti

Kampung, Awal Juni 2008

Kanti,
Lama sungguh kita berpisah. Aku tersadar tentang itu ketika konco palangkin kita pulang kepetang ini. Panjang cerita kami. Nostalgia sejak kita berhuru-huru di kampung di awal tahun tujuh puluhan, sejak kita masih terlibat gotong royong sabit-irik, sejak kita ikut-ikut pergi berburu ke kaki gunung. Tentu saja kami mengabsen semua kanti-kanti kita kala itu. Kau adalah salah satunya. Kenangan itu mengingatkanku bahwa sejak itu pula kita tidak pernah lagi bersua. Aku mendengar bahwa kau pernah sekali waktu pulang ke kampung tapi berkebetulan ketika itu aku sedang dibawa kemenakan raun ke Medan. Sehingga kita tidak bertemu.

Konco palangkin kita bercerita tentang pencapaianmu di rantau. Aku ikut senang mendengarnya. Syukurlah, bahwa elok peruntunganmu. Mudah-mudahan tetaplah seperti itu untuk seterusnya. Sebenarnya sebelum itu, aku sering juga mendengar cerita bahwa sumbangan pembangunan Taman Bacaan Al Quran yang atas nama Hamba Allah itu satu diantaranya berasal darimu. Tentu saja kami di kampung sangat bangga dengan uluran tangan dunsanak-dunsanak dari rantau seperti ini.

Antara lantas dengan tidak sebenarnya anganku menyampaikan cerita ini. Khawatir kau akan salah mengerti, seolah-olah aku ingin memangurmu.

Begini! Ingatkah kau hotar kita ketika selesai mairiak di sawah seberang bandar? Ketika kita terkapar kekenyangan sesudah sebelumnya terbit peluh menggumpal pairiakan? Ketika kita menghirup dalam-dalam asap rokok Soor? Dan seperti asap rokok yang bergulung ke udara, ketika itu kau berangan-angan bahwa kalaulah nanti ada orang kampung ini yang cukup kaya, akan kau datangi dia untuk mengusulkan agar orang itu bersedia memodali pembelian sebuah traktor yang sekaligus alat untuk memanen padi seperti yang kita lihat gambarnya di majalah robek Dunia Amerika. Agar orang kampung tidak pecah-pecah lagi kakinya menjaja dan membalik tanah. Melindih dan menyikat di dalam genangan air berlunau. Agar tangan mereka tidak terancam sabit tajam ketika menyabit. Agar kaki mereka tidak lagi gatal-gatal kena miang padi.

Kanti,
Telah berpuluh tahun berlalu. Angan-anganmu dulu itu tentulah hanya sekedar angan-angan yang terbang melayang bersama asap rokok. Karena sampai sekarang masih seperti itu juga kami menjaja sawah. Masih seperti itu juga cara kami menyabit dan mengirik. Bedanya hanyalah bahwa sekarang tidak ada lagi gotong royong seperti dulu itu. Anak-anak muda tidak ada lagi yang pandai menghalau kerbau penarik bajak. Tidak ada lagi yang pandai menyabit dan mengirik. Gelinggaman mereka merancah air berlunau dan gelinggaman pula mereka memegang tongkat pairiak.

Inilah yang mencemaskanku, Kanti. Kalau-kalau sebentar lagi tidak ada lagi orang yang mau bertani. Yang masih meneruskan pekerjaan bertani seperti cara-cara seisuk itu, serupa benar dengan bayangan kau ketika dulu berangan-angan. Sudah terampun-ampun kaki mereka retak-retak. Sudah hampir tidak sanggup mereka meneruskannya lagi. Karena cara bertani masih seperti itu juga.

Itulah yang mengingatkanku kepadamu, Kanti. Seandainya kau masih ingat peristiwa itu. Ketika angan-anganmu bergabun-gabun dengan asap rokok Soor. Adakah mungkin kiranya kau mencari orang kampung kita yang sudah cukup kaya di rantau sana, untuk mau membekali anak negeri ini dengan traktor seperti di dalam angan-anganmu dulu itu.

Seandainya saja kau dapat meluangkan waktu untuk pulang pula. Tentulah dapat kita bernostalgia. Berjalan-jalan di kampung. Akan aku perlihatkan kepadamu beberapa tumpak sawah yang sudah beberapa tahun dibiarkan liat. Yang punya sawah sudah di rantau semua. Yang akan menguruskan sudah setengah hati mengerjakan karena sudah tidak sanggup lagi. Tinggallah sawah itu tidak terurus.

Siapa tahu kau akan tergugah. Dan berpikir kembali dengan angan-angan lama itu. Kalau kau pulang, salah satu yang berubah, rokok Soor tidak dijual orang lagi. Pabriknya di Siantar sudah lama di tutup orang.

Sehingga inilah dulu Kanti. Kalau kau jadi pulang, bernostalgia kita di Darek Balai.

Wassalam dan maaf dari Konco Palangkin
Tan Baro

Cerpen: Air Mancur

Aku dalam perjalanan menuju Bukit Tinggi, untuk mengikuti sebuah seminar yang dilangsungkan di kota itu. Dari kantor kami ada dua orang utusan, aku dan Suprapto. Kami berangkat bersama-sama dari Jakarta. Suprapto berharap akan lebih menikmati kunjungan ke Bukit Tinggi karena berangkat bersamaku.

Dari bandara kami langsung menuju Bukit Tinggi dengan sebuah taksi. Prapto sudah untuk ketiga kalinya berkunjung ke Sumatera Barat. Dia sangat mengagumi keelokan pemandangan di negeri ini seperti yang diceritakannya kepadaku. Kami berbincang-bincang santai.

Tak terasa, kami sudah memasuki lembah Anai, dengan jalan berliku di bawah tebing terjal berbatu. Aku mengingatkan sopir taksi agar nanti berhenti di Air Mancur. Prapto yang sedikit mengerti bahasa Minang menoleh kepadaku sambil tersenyum.

ʽPasti kau mengingatkan pak sopir untuk berhenti di air terjun lembah Anai,ʼ katanya.

ʽBenar. Rupanya kau mengerti bahasa Minang,ʼ jawabku.

ʽAku mengerti ketika kau menyebutkan nama dengan istilah yang salah kaprah itu. Kalian menyebut air terjun itu air mancur. Bukankah itu keliru ?ʼ Prapto berkomentar agak sedikit berlebihan.

ʽHe.. he..he.. kau yakin itu salah kaprah?ʼ tanyaku.

ʽYa, iyalah. Kau tentu mengerti arti kata memancur. Air yang menyembur ke atas. Menyembur ke atas itu yang disebut memancur. Masak kau tidak pernah melihat air mancur di depan Hotel Indonesia?ʼ dia semakin sok tahu.

ʽBagaimana dengan air mata?ʼ aku memancing dengan sebuah pertanyaan.

ʽMaksudmu? Apakah air mata juga sama dengan air macur, begitu?ʼ

ʽBukan. Apa istilahnya ketika air mata keluar? Ketika kita menangis?ʼ tanyaku lagi.

ʽYa mengeluarkan air mata. Aku tidak mengerti maksudmu,ʼ jawabnya agak sedikit bingung

ʽPernah mendengar istilah mencucurkan air mata?ʼ tanyaku.

ʽYa, pernah. Mencucurkan air mata. Artinya mengeluarkan air mata. Artinya menangis. Apa hubungannya?ʼ

ʽBegini, den Mas. Mencucur itu artinya keluar dari suatu tempat, lalu setelah itu jatuh. Mencucurkan air mata, artinya mengeluarkan air dari mata dan akhirnya air mata itu jatuh ke bawah. Ke pipi, ke sisi hidung. Itu artinya mencucur. Ketika yang mengeluarkan air itu adalah mata, kita menyebut mencucurkan air mata. Nah, sebentar lagi kau akan melihat air mencucur. Air jatuh dari sela batu di atas bukit yang ketinggian. Dalam bahasa Minang disebut ayia mancucua, yang oleh karena pengucapan secara cepat berubah menjadi ayia mancua. Nah! Apakah kau masih menyangka kami sala kaprah?ʼ

ʽOo. Jadi begitu ceritanya. Lalu apa bahasa Minangnya air mancur ?ʼ

ʽAir mancur sebenarnya juga bukan bahasa Indonesia yang benar. Yang benar adalah air memancur. Dalam bahasa Minang disebut ayia manyambua. Atau air menyembur dalam bahasa Indonesia.ʼ

ʽTapi, sebentar. Bukankah orang Minang juga mengenal kata pancuran? Apakah ini juga seharusnya pancucuran?ʼ

ʽAwalan pan atau pen dalam bahasa Indonesia menunjukkan tempat. Akhiran an menunjukkan kejadian yang berulang atau berketerusan. Nah, lalu apa kata dasarnya? Pasti bukan cur. Cur tidak ada maknanya. Yang ada makna adalah cucur. Jadi yang benar, adalah pencucuran atau dalam bahasa Minang pancucuran. Dalam pengucapan terjadi penyederhanaan menjadi pancuran. Dalam bahasa Indonesia disebut secara salah kaprah lagi, seperti istilahmu, pancuran. Orang Jakarta menyebutnya pancoran.ʼʼ

ʽHebat juga analisamu.ʼ

ʽAku bukan ahli bahasa. Aku bahkan tidak tahu istilah yang tepat untuk pemendekan ucapan seperti mancucua menjadi mancua tadi.ʼ

ʽBaiklah. Aku ralat dan aku cabut pernyataanku bahwa orang Minang salah kaprah ketika menyebut Ayia Mancua di Lembah Anai,ʼ ujar Prapto tersenyum.

Taksi kami terus melaju. Di sebelah kanan, terlihat sungai dengan batu-batu besar di dasarnya. Lebih jauh lagi adalah tebing yang ditumbuhi pohon kayu yang cukup rapat. Di bawah pohon-pohon kayu itu adalah semak belukar. Taksi ini berhenti di pelataran parkir sekitar 50 meter dari Ayia Mancua. Aku dan Prapto turun dari mobil. Kami berjalan mendekati kolam di dasar air terjun. Prapto membasuh mukanya dengan air dingin yang sejuk itu.

Kami berjalan-jalan di sekitar tempat itu. Melihat ke arah lembah dengan batang air di bawah. Dengan rel kereta yang bagaikan tergantung di atas lembah.

Kami kembali ke taksi untuk meneruskan perjalanan.

ʽTempat ini sebenarnya mempunyai makna tersendiri bagiku,ʼ ucap Prapto seolah-olah kepada dirinya sendiri, ketika kami mulai melanjutkan perjalanan.

ʽTempat ini? Ayia mancua atau Lembah Anai ini?ʼ tanyaku.

ʽAku tidak tahu tempatnya yang pasti. Tapi ayahku dulu terkorban disini,ʼ tambahnya.

ʽMaksudmu korban lalu lintas?ʼ

ʽBukan. Beliau gugur sebagai anggota TNI yang dikirim memerangi PRRI di tahun 1958. Aku belum lahir ketika itu.ʼ

Aku terdiam mendengar ceritanya. Kami sama-sama terdiam untuk beberapa saat.

ʽTahun 1958?ʼ tanyaku memecah kesunyian.

ʽYa di sekitar bulan Mai 1958. Begitu menurut cerita yang aku dengar. Rombongan ayahku dihadang pasukan PRRI di Lembah Anai ini. Beliau terkorban bersama beberapa orang tentara lainnya. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di Padang,ʼ Prapto menambahkan.

Kami kembali terdiam.

ʽPerang itu meninggalkan banyak sekali luka,ʼ aku berkomentar asal-asalan.

ʽAku tahu. Perang itu tidak seharusnya terjadi.ʼ

ʽTapi toh dia sudah terjadi,ʼ komentarku, sekali lagi asal-asalan.

ʽAdakah anggota keluargamu yang jadi korban?ʼ tanya Prapto.

Kemenakan ayahku. Dia bukan tentara. Seorang murid SMA. Waktu tentara APRI datang ke kampung kami, anak-anak muda seumurnya lari ketakutan. Mereka lari ke daerah persawahan. Mungkin mereka bermaksud untuk bersembunyi di sawah, di dalam kerimbunan padi. Tapi mereka dipergoki oleh tentara APRI dan ditembaki tanpa ampun. Pada hari yang sama ada lima orang anak muda mati tertembak di kampung kami.ʽ

ʽSebuah perang yang sangat kejam….,ʼ Prapto menarik nafas, mendesah lirih.

ʽBegitu adanya,ʼ aku menambahkan.

ʽKau tentu juga belum lahir kala itu ?ʼ dia bertanya.

ʽBelum. Tapi cerita itu aku dengar dari ayahku sendiri.ʼ

ʽAyahmu ikut jadi tentara PRRI ?ʼ

ʽTidak. Ayahku seorang petani.ʼ

ʽSebagai petani beliau tidak mendapat kesulitan dari tentara APRI?ʼ

ʽBoleh dikatakan tidak. Beliau disuruh ikut latihan ketentaraan bersama-sama orang kampung lain. Yang memenuhi persyaratan diangkat menjadi OPR, tentara lokal bentukan APRI. Ayahku yang tidak menyukai ketentaraan dinyatakan gagal dalam latihan itu. Bahkan sejak latihan baris berbaris. Ayah sengaja menampilkan diri beliau seperti orang bodoh. Tidak satupun perintah pelatih tentara itu yang beliau turuti secara benar.ʼ

ʽPelatihnya tidak marah?ʼ

ʽTentu marah. Ayah ditempelengnya. Tapi sesudah itu dilarang mengikuti latihan. Justru itu yang beliau harapkan.ʼ

ʽAku sangat membenci yang namanya perang,ʼ ucap Prapto.

ʽKarena ayahmu terbunuh di dalam peperangan?ʼ tanyaku sedikit menyelidik.

ʽEntahlah. Tapi aku benci karena perang pada umumnya sangat bengis. Tidak beradab. Korban yang paling banyak adalah rakyat yang tidak ikut berperang,ʼ ujar Prapto bersungguh-sungguh.

ʽAku setuju dengan yang kau katakan. Perang itu bengis dan biadab. Lihatlah apa yang terjadi di Aceh beberapa tahun yang lalu. Bukankah kita mengikuti beritanya?ʼ aku mengingatkan.

ʽBetul sekali yang kau katakan. Perang seperti di Aceh itu sangat mengenaskan. Perang yang mengambil korban di kalangan rakyat yang tidak terlibat tapi dicurigai. Jadi korban dari kedua belah pihak yang berperang.ʼ

ʽDan kau lihat lagi perang di Irak. Di Afghanistan,ʼ aku menambahkan.

ʽBetul. Perang akibat nafsu angkara murka. Pemimpin-pemimpin negara yang menyulut peperangan. Yang menggiring rakyatnya masuk ke dalam kancah peperangan. Akibatnya selalu sangat memilukan. Kehancuran dimana-mana. Tapi…. Syukurlah Sumatera Barat tidak hancur ketika terjadi perang PRRI.ʼ

ʽTidak hancur secara fisik, tapi moral masyarakat cukup hancur,ʼ jawabku.

ʽAku mendengar tentang itu. Masyarakat Minangkabau berbondong-bondong meninggalkan kampung halaman mereka, pergi merantau sesudah perang PRRI.ʼ

ʽKecuali sebagian. Termasuk ayahku yang tetap bertahan sebagai petani di kampung sampai usia tuanya,ʼ jawabku.

ʽAyahmu masih ada kan?ʼ

ʽBeliau berpulang dua tahun yang lalu.ʼ

ʽHuh, jadi kemana-mana cerita kita. Hanya karena aku mengingat Lembah Anai.ʼ

ʽTadi kau bilang, kau belum lahir ketika ayahmu meninggal. Tentulah ibumu sangat sedih ditinggal ayahmu.ʼ

ʽTentu saja. Tapi begitulah kehidupan. Ibuku berjodoh dengan seorang laki-laki dari Minang. Seorang duda. Beliau menikah waktu aku masih berumur empat tahun. Laki-laki suami ibuku itu sangat baik. Aku memanggilnya ayah, dan beliau benar-benar seperti ayah kandungku. Ibuku melahirkan tiga orang adik-adikku. Ayahku itu yang pertama kali membawa kami mengunjungi negeri ini ketika aku masih murid SMA.ʼ

ʽBeliau masih hidup?ʼ

ʽMasih. Ayah dan ibuku tinggal di Bogor.ʼ

Taksi kami merangkak mengikuti iringan bus dan truk yang terampun-ampun mendaki di Silaing Kariang. Ayia Mancua dan Lembah Anai sudah kami tinggalkan di belakang kami. Kami masih melanjutkan obrolan ke hilir ke mudik.

Bukik Tinggi


Pakan nan lapeh ambo pulang. Lalok di Bukik Tinggi ampek malam. Karano ado hajatan. Ado kaparaluan.

Nan partamo, ipa ambo baminantu.
Nan kaduo ado karajo gadang nan alah sajak lambek dimuloi di kampuang. Alah baransua jaleh juo. Insya Allah taun ko alah ka dimuloi manjalankan karajo nan alah dirintis sajak lamo tu.

Ikolah laporan pandangan mato nan iyo paralu ambo sampaikan. Alah ado kamajuan tampak di ambo.

Di Bandara, ambo ambiak taksi (ampek bulan nan lapeh ambo di japuik dunsanak sapupu dan diantaanno pulo baliak ka bandara). Aturan taksi alah sarupo jo di Tabiang daulu, ado tampek awak mamasan taksi. Lai jaleh ongkoih nan ka dibayia sajak samulo.

Untuak ka Bukik Tinggi dalam kota ongkoihno Rp 220,000. Arago ko baru sajo naiak dari 185,000 sabalun BBM naiak. Biaya sakitu itu mungkin agak sabandiang sajo jo arago di Jakarta, muskipun di Jakarta awak mabayia sasuai jo argometer. Tapi manuruik pandapek ambo bapadananlah. Onkoih ka kota Padang manuruik carito supir taksi Rp 100,000, untuak jarak 20 kilo labiah, labiah kurang sapadan bana juo jo arago di Jakarta. Dari carito supir taksi, argometer memang indak jalan di Padang atau di Bukik Tinggi do (walau alaik tu lai tapasang di oto). Ongkoih dalam kota minimum 20,000. Paralo baago-ago sabalun naiak.

Sabalun naiak taksi, dek alah bapangalaman, ambo jalehi bana di counter taksi tu nan bahaso taksi lai ba AC. Alhamdulillah lai. Sabab ambo alah bapangalaman soal nan ciek ko.

Layanan angku supir taksi standar sajo. Lai paota dan lai lamak otano. Katiko ambo ajak sato makan (alah pukuah satangah tigo siang, di pesawat kami indak dapek apo-apo), amuah no sato dan itu sah-sah sajo. Bahkan diambiakno lo rokok sabungkuih, dietong sajo biko pak, ambo indak ado pitih ketek, jano. Indak bagai juo di ambo do. Bahkan mambayia ongkoihno indak ambo kurangi saketek juo doh.

Kami manginap di mes PLN di jalan Luruih (jl A. Karim). Mambayia antaro 90,000 jo 135,000 samalam. Nan buliah manompang nan ado karik barik jo urang PLN. Ipa ambo nan baminantu ko pansiunan PLN. Mes ko sadang-sadang elok sajo, lai barasiah. Di ambo nan katuju bana dek talatak persis di muko musajik Nurul Haq, dakek ambo pai sumbayang.

Catatan nomor satu nan paralu bana ambo pelok-i, indak ado lai tadanga bunyi bakatintam-katintam tangah malam di Bukik Tinggi. Dulu katiko kami manompang pulo labiah kurang 5 tahun nan lapeh di mes ko, bunyi tu nan mamakak bana. Mariangik bana rasono, bunyi heboh nan tadanga sangaik kareh nan konon kalua dari diskotek. Manyumpah-nyumpah ambo katiko itu. Alhamdulillah rupono alah lamo baranti, baitu manuruik informasi patugas mes PLN ko.

Bukik Tinggi rami jo oto BM (dari Pakan Baru). Badirik-dirik parkir dimaa-dimaa. Tampek parkir basalingkik. Ongkoih parkir 2000 sakali tagak, indak ado kuricih. Patugas parkir indak babaju saragam bagai doh.

Pasa ateh indak ado parubahan, becek, kumuah. Urang awak maraso sangaik biaso sajo manyampak-an sarok sakandak ati. Mungkin dalam pikiran mareka, biko ado tukang sapu nan ka mambarasiahan. Ado daun bungkuih sate basalemak sajo tacampak, bukan di tampek sarok. Ambo indak singgah di kadai nasi Kapau uni Lis, nan sakali ko (maklum dalam susana baralek). Tapi carito ipa ambo, kadai tu alah barubah kini dari segi raso sarato arago. Indak sarupo daulu lai. Makan ampiang badadiah lai balakik-an juo. Nan di tangah pasa.

Jalan di muko Bank Nasional (sambungan dari jalan kampuang Cino jo jalan luruih arah ka tembok) jadi pasa lambuang di malam hari. Macam-macam galeh urang. Nasi goreng, sate, bakso, konon ado pecel lele bagai tapi indak nampak diambo. Ado nan manggaleh bandrek bagai. Banyak pulo warnet di sabalah kasuok jalan.

Panginapan cukuik banyak dan umumno panuah. Sajak dari kelas The Hills (ex Novetel) sampai ka kelas melati. Ado ciek hotel di ateh ngarai, lupo ambo namono nan kabano jadi langganan urang Malaysia.

Ari Akaik tanggal 6 Juli kapatang ari alek Katam Kaji di Bukik Tinggi jo sakitarno tamasuak di kampuang ambo. Lai talakik mancaliak arak-arak katam kaji nan heboh jo drum band sarato rabano. Masih sarupo itu juo.

Ampek malam di Bukik Tinggi, ampek kali ambo pai minum pagi ka Garegeh, ka lapau langganan ambo nan katanno lamak kamek dimakan jo goreng pisang rajo (salalu pisang rajo). Lapau ketek nan indak barubah sajak ambo singgah di taun 1990. Nan barubah di balakang lapau tu kini alah tagak rumah tembok cukuik rancak. Palanta kadaiko jadi hiasan blog ambo di Blogspot.

Bukik Tinggi di wakatu subuah adolah Bukik Tinggi nan syahdu. Azan subuah duo kali. Nan partamu pukuah satangah limo, ka untuak panjagoan urang lalok. Nan kaduo katiko masuak wakatu, pukuah limo. Ari Jumaik subuah, ambo lakik-an pai sumbayang ka musajik raya, lalu ka janjang Minang. Sabab satau ambo, sumbayang subuah di musajik ko imam mambaco surek Alif Laam Miim Tanzil jo ayaik sajadah. Iyo lai sarupo itu juo. Jamaah subuah indak sampai duo puluah urang apak-apak doh. Sasudah sumbayang subuah ado wirid (pangajian). Pagi ari kaduo jo sataruihno, dek urang rumah manuruik nak pai ka musajik samantaro awakno indak kuaik mandaki janjang, kami sumbayang di musajik Nurul Haq, persis di muko panginapan. Pulang sumbayang, komentarno, rupono ado juo NU di Bukiktinggi ko. Sabab imam mambaco qunut katiko sumbayang. Kecek ambo, disiko indak NU namono doh, tapi PERTI. Jamaah subuah di musajik Nurul Haq agak labiah banyak pado nan di musajik raya. Ado kiro-kiro 30 urang dan jamaah ibu-ibu mungkin lai sabanyak itu pulo.

Cerpen: Silat Selepas Tarawih


Kalau ada anak kecil tangka atau mada itu adalah hal biasa. Anak kecil yang kerjanya bergelut ketika orang sembahyang tarawih termasuk juga sesuatu yang biasa. Macam-macam ulah anak-anak kecil berumur kurang lebih sepuluh tahun, yang berada di shaf paling belakang. Berdorong-dorongan, tertawa cekikikan yang ditahan, membaca Amiin panjang-panjang dan keras-keras sekali, sampai berperang-perangan kentut. Membuat heboh dan bergelut itu mereka lakukan pada saat sembahyang baru dimulai. Menjelang imam mengucapkan salam, mereka berubah seperti anak-anak manis. Tetapi ketika sembahyang tarawih dilanjutkan, mereka ulangi pula membuat heboh. Orang-orang tua bolehlah nyinyir menasihati, namun mereka tetap begitu juga.

Induk angkang tangka itu bernama Pudin, berumur tiga belas tahun. Sudah tidak anak-anak lagi dibandingkan dengan teman-temannya, namun perangainya benar-benar luar biasa. Kalau dilarang atau ditegor dia pasti melawan dengan bercarut. Siapapun yang memarahinya, pasti dipercarutinya. Dan orang-orang tua jadi malas menegornya. Sebenarnya lebih tepat dikatakan takut. Takut karena dia anak Gindo Baro, mantan sitokar oto, mantan pareman pasar, orang berbadan kekar yang cepat kaki ringan tangan alias pandeka.

Pada suatu malam, karena hebohnya sudah keterlaluan, Tuanku Mesjid mengusirnya keluar. Dia keluar dari mesjid setelah terlebih dahulu mempercaruti Tuanku Mesjid. Ketika orang melanjutkan sembahyang tarawih, si Pudin mengguguh tabuh sejadi-jadinya.

Siapa yang tidak akan menggeritih melihat tingkah anak kecil seperti itu?

Keesokan harinya, ketika orang baru saja mulai sembahyang tarawih, si Pudin kembali mengulangi perangainya memukul tabuh, berketintam-ketintam.

Malam itu Safril Sutan Mudo sudah habis kesabarannya. Anak kecil itu kalau dibiarkan akan semakin maingkek-ingkek perangainya. Safril Sutan Mudo yang baru akan takbir ketika mendengar bunyi tabuh berdentam-dentam, membatalkan niatnya untuk sembahyang. Dia keluar dari barisan dan bergegas ke belakang mesjid. Si Pudin kecil tidak takut sedikitpun. Semakin berjadi-jadi kulit sapi kering itu dihantamnya. Safril menangkap tangan kecil yang sedang mengguguh tabuh itu. Anak kecil itu bercarut kepadanya. Darah Safril mendidih. Kepala anak kecil itu ditekeknya. Dua kali.

Si Pudin lari sambil merarau-rarau. Sambil bercarut-carut bungkang. Dia pergi mengadu kepada ayahnya. Safril Sutan Mudo masuk kembali ke dalam mesjid meneruskan sembahyang tarawihnya.

Ketika orang baru selesai sembahyang witir, Gindo Baro sudah berdiri di pintu mesjid. Matanya merah membulancit. Dengan suara parau di panggilnya Safril.

ʽPirin! Keluar kau !ʼ katanya dengan suara menggelegar.

Jamaah mesjid sunyi senyap menahan nafas. Antara ragu dan takut. Tapi tidak demikian dengan Safril Sutan Mudo. Dia bangkit dari duduknya dan melangkah ke pintu mesjid.

Begitu sampai di pintu, tangan kekar Gindo Baro mencoba menangkap leher baju Safril Sutan Mudo. Dia berkelit dengan tenang dan terus melangkah ke luar.

ʽKau apakan anakku?ʼ sentak Gindo Baro, sekali lagi mencoba menangkap Safril.

ʽAku tekek. Aku tekek dua kali,ʼ jawab Safril sambil tetap berkelit.

ʽHeh..heh.. kau pikir kau hebat ya. Pandai kau mengelak. Rasakan ini..ʼ kata Gindo Baro sambil menerjang ke depan.

Safril Sutan Muda dengan mudah mengelak. Gindo Baro menerjang angin.

Anak tuan itu terlalu mada. Terlalu dimanja. Kerjanya mengacau saja. Makanya aku beri pelajaran agar mengerti sedikit tata tertib,ʼ Safril berkomentar begitu terhindar dari hantaman Gindo Baro.

ʽKecing, kau. Bedebah. Belum kau rasakan makan tanganku. Pandai-pandai kau memukul anakku,ʼ kali ini Gindo Baro berusaha menyepoh kaki Safril Sutan Mudo.

Safril melompat enteng. Dia hanya mengelak saja dari tadi. Gindo Baro kembali menyerang dengan hantaman. Lagi-lagi hanya menghantam angin.

ʽOooooh rupanya santiang silat kau. Baiklah. Kalau begitu biarlah dengan silat pula aku lawan bangkai busuk kau ini,ʼ Gindo Baro semakin mendidih.

ʽBukannya tuan sudah bersilat dari tadi? Sudah mengepoh-ngepoh bunyi angin karena sepak terjang tuan,ʼ Safril sedikit mencemeeh.

Diam-diam jemaah mesjid sudah berkerumun menonton pertandingan itu dari beranda mesjid.

Gindo Baro menarik nafas berkonsentrasi. Dipasangnya kuda-kuda silat, elang mencengkeram. Anak muda ini harus diberinya pelajaran. Harus dengan sebuah pelajaran yang telak sekali karena sudah berlapis-lapis dosanya.

Safril Sutan Mudo memandang penuh waspada. Dia juga memasang kuda-kuda. Matanya tidak berkedip dari kedua kaki Gindo Baro. Gindo Baro menarik langkah ke belakang dengan gerak tipu. Menghayunkan langkah ke depan. Masih dengan gerak tipu. Tangannya menari di udara. Memancing perhatian Safril Sutan Mudo. Lawannya ini tidak mau pula main-main. Sutan Mudo memperkuat posisi kuda-kudanya. Kedua kakinya terbuka lebar. Gindo Baro kali ini menerjang dengan gerak tipu ke arah kanan, tapi tiba-tiba kaki kirinya yang main. Safril Sutan Mudo sudah membaca gerakan itu. Sekali ini ingin dia sedikit memberi pelajaran. Kaki kiri yang menerjang itu disambutnya dan didorongnya kuat-kuat. Gindo Baro terkejut ketika menyadari bahwa gayungnya bersambut. Untunglah kuda-kudanya cukup kuat. Dia mundur tiga langkah dan berdiri kokoh. Sesudah itu dia kembali maju dengan loncatan tupai. Kakinya seolah-olah mempunyai per, dan tubuhnya berayun turun naik. Tangan Gindo Baro berputar di udara seperti tupai memutar buah pisang. Yang ditujunya kepala Sutan Mudo.. Sutan Mudo menangkis tangan kanan Gindo Baro dan kakinya menyepoh kuda-kuda Pendekar garang itu. Gindo Baro tidak pantas disebut pendekar kalau tidak bisa mengelak dari sepohan Sutan Mudo.

Persilatan itu berlangsung semakin seru. Safril Sutan Mudo lebih banyak mengelak saja dari tadi.

ʽKalau kita hentikan saja sampai disini bagaimana tuan ? Bukankah sudah cukup peluh alir keluar?ʼ tanya Safril dalam pertempuran yang tetap seru, sambil kembali mengelak dari jotosan tangan kanan Gindo Baro.

ʽAnak kencing kau. Sebelum kutampar mukamu untuk membalas sakit anakku, aku belum akan berhenti,ʼ kali ini Gindo Baro mencoba menampar.

ʽSaya takut, kita akan berhabis hari saja. Kalaulah perlu saya minta maaf karena sudah menekek si Pudin, biarlah saya minta maaf,ʼ jawab Sutan Mudo kembali berkelit. Dari tadi dia lebih banyak terlihat seperti menari-nari saja.

ʽTidak bisa begitu bedebah ! Kau harus kutampar. Baru langsai hutang,ʼ jawabnya, kali ini sambil bersalto dengan gerakan satu kaki dan dua tangannya menyerang di tiga titik, menuju pelipis, dada dan selangkangan Sutan Mudo.

Yang diserang merunduk dan meliuk. Lagi-lagi hanya angin yang jadi sasaran.

ʽTuan akan berhabis hari. Sudah sebanyak itu tuan menampar dari tadi, sudah berlapoh-lapoh bunyi angin. Hari sudah semakin larut juga, apakah tidak sebaiknya kita berhenti saja ?ʼ

ʽTidak perlu kau banyak cingcong bedebah. Hutang harus berbayar, piutang berterima. Akan kupecahkan kepala bebalmu itu. Biar berkapas hidungmu,ʼ katanya semakin garang.

ʽTidak baik begitu tuan. Ini bulan suci. Berdosa besar kita,ʼ jawab Sutan Mudo sambil tetap seperti orang menari-nari.

ʽKeluarkan semua silat kau Pirin. Jangan hanya mengelak-elak saja kepandaianmu.ʼ Gindo Baro berusaha memancing emosi Sutan Mudo.

ʽTidak baik menyakiti orang tuan. Ini bulan puasa. Tidak baik, berdosa kita.ʼ

ʽBangkai mak kau. Anakku kau pukul, pandai pula kau berketubah. Kau rasakan ini,ʼ kata Gindo Baro kembali menerjang.

ʽAnak tuan itu nakal. Kerjanya menggaduh orang sembahyang. Itu sebabnya aku tekek.ʼ

ʽTidak ada hak kau memukul anakku, bedebah. Kau benar-benar harus mati ditanganku!ʼ

ʽMengucaplah tuan. Baca istighfar. Tuan sesat namanya,ʼ Sutan Mudo meliukkan badannya.

ʽManusia pancirugahan kau. Hanya itu saja kepandaianmu? Hanya menari-nari itu saja kepandaianmu?ʼ

ʽTidakkah tuan penat menerjang-nerjang angin sedari tadi? Lebih baik kita berhenti saja. Banyak lagi yang lebih elok dikerjakan.ʼ

ʽBoleh. Tapi kau rasakan dulu ini….ʼ Gindo Baro kembali menyerang dengan kaki dan tangannya ke arah dada Sutan Mudo.

ʽBenar-benar berkandak tuan kelihatannya,ʼ Sutan Mudo mulai habis kesabarannya.

ʽPencirugahan kau bedebah. Bersilatlah seperti pendekar. Jangan hanya menari-nari saja. Biar kucoba menahan makan tangan burukmu itu,ʼ Gindo Baro memancing.

ʽKalau begitu baiklah. Saya mohon maaf sebelumnya, tuan,ʼ katanya sambil melangkah lincah.

Tubuh Safril Sutan Mudo berputar cepat. Berdesir keras bunyi angin. Tangannya yang menari-nari di udara juga menimbulkan desiran. Gindo Baro gugup melihatnya. Alangkah cepatnya gerakan anak muda itu. Entah dari mana dia akan menyerang. Gindo Baro berusaha mengimbangi gerakan berputar Sutan Mudo itu dengan menyerang pula berayun-ayun. Tapi tiba-tiba……., plak-plak. Dua tamparan mendarat di pipi kiri dan kanannya.

Gindo Baro terhuyung dan melompat mundur. Dari balik bajunya dikeluarkannya sebilah pisau siraut. Dia kembali menerjang dengan menggunakan pisau yang berkilat-kilat itu. Pisau itu seperti taji ayam saja di tangannya.

Orang yang menonton dari beranda mesjid terkesiap melihat kilatan pisau. Tapi tidak berani berbuat apa-apa. Apakah akan terjadi pertumpahan darah? Di pekarangan mesjid? Di bulan suci ini?

Kedua pendekar itu masih bersilat dengan seru. Berdesir-desir bunyi angin. Perkelahian itu sudah berlangsung lima belas menit. Yang sebelumnya terlihat seperti main-main karena Safril Sutan Mudo memang terlihat seperti menari-nari saja. Tapi kali ini lebih menegangkan. Silat Gindo Baro ternyata lebih bagus dengan menggunakan senjata pisau siraut.

Safril Sutan Mudo menyadari itu. Dia berusaha bersilat lebih hati-hati. Namun tetap dengan keinginan tidak untuk melukai lawannya. Sementara sang lawan sangat bernafsu untuk menghabisinya.

Setelah beberapa jurus, Sutan Mudo menangkap bahwa gerakan Gindo Baro dari kiri selalu lemah. Setiap kali dia berusaha menerjang dari arah itu dia selalu terhuyung. Sekarang Sutan Mudo menyerangnya dari arah itu. Benar saja, siku tangan kanan Gindo Baro yang memegang pisau siraut dapat ditangkapnya dan pisau itu berhasil direbutnya. Gindo Baro terkesiap. Dia melompat mundur.

ʽBagaimana tuan? Sudah cukup?ʼ

ʽSatu hari akan kubunuh kau. Percayalah!ʼ ujar Gindo Baro yang mulai merasa jeri.

ʽTidak baik, tuan. Membunuh itu dosa besar,ʼ jawab Sutan Mudo.

ʽKali ini aku mengaku kalah. Tapi hutang akan berbayar. Kau tunggu masanya,ʼ kata Gindo Baro, dia bersisurut sebelum melangkah pergi.