Kamis, April 24

Jembatan Limpapeh


Sebagai penghubung antara Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan dengan Benteng Fort De Kock maka terdapat sebuah Jembatan yang bernama Jembatan Limpapeh yang dibangun dengan konstruksi beton dengan arsitektur atap yang berbentuk gonjong khas rumah adat Minangkabau.

Jembatan ini berdiri di atas Jalan A. Yani dan dari sini kita dapat menyaksikan keindahan alam Bukittinggi dan keramaian Jalan A. Yani.

Jembatan Limpapeh merupakan sebuah jembatan gantung yang melintas di atas Jl. Ahmad Yani Bukittinggi, yang menghubungkan kawasan Benteng Fort de Kock dan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Jembatan Limpapeh yang dibuat 16 tahun lalu ini ditopang ditengahnya oleh bangunan beton beratap gonjong khas Minangkabau, serta oleh empat kabel baja tempat bergelantungnya kawat-kawat baja yang memegang jembatan.

Bangunan beton ditengah jembatan inilah yang ditembus oleh Jl. Ahmada Yani. Karenanya, saya mulai memotret Jembatan Limpapeh dari Jl. Ahmad Yani, dan baru kemudian memotret Jembatan Limpapeh ini dari dalam kawasan Benteng Fort de Kock, ketika berjalan kaki melintasinya menuju ke Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan yang berada di seberang jalan.

Bangunan beton beratap gonjong di tengah Jembatan Limpapeh yang ditembus oleh Jl. Ahmad Yani. Di sebelah kiri adalah area Benteng Fort de Kock, dan di sebelah kanannya adalah kawasan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Pengunjung bisa masuk baik dari kiri maupun kanan Jembatan Limpapeh, dengan hanya sekali membayar.

Ornamen berwarna kuning hijau pada dinding bangunan tengah Jembatan Limpapeh, dengan salah satu pucuk atapnya tampak miring, barangkali karena terpaan angin kencang.

Entah sampai kapan kabel-kabel telepon dan listrik yang sangat mengganggu pemandangan di sekitar Jembatan Limpapeh ini bisa dibenamkan ke dalam tanah, sehingga terlihat lebih rapi dan enak dipandang mata.

Bangunan beton Jembatan Limpapeh dilihat dari bawah.

Rel-rel baja berjejer rapi di kiri-kanan bagian bawah badan Jembatan Limpapeh, yang menjadi penyangga pelat-pelat alumunium yang dilalui oleh para pejalan. Penggantian papan kayu dengan pelat aluminium ini baru selesai dilakukan pada September tahun yang lalu dengan menghabiskan dana Rp. 308 juta.

Atap gonjong yang berada di pintu masuk Jembatan Limpapeh dari arah Benteng Fort de Kock. Papan keterangan proyek seharusnya dipasang ditempat lain, sehingga tidak mengganggu pemandangan.

Bentangan Jembatan Limpapeh yang memiliki panjang 90 meter dan lebar 3,8 meter, dengan kawat-kawat baja yang memegangi batang jembatan, serta pelat-pelat alumunium pada permukaan jembatan yang masih terlihat baru dan rapi. Berjalan melewati Jembatan Limpapeh ini sangat nyaman dengan sedikit getaran dan ayunan yang menyenangkan.

Jam Gadang Bukittinggi dan beberapa bangunan beratap gonjong, serta rumah-rumah penduduk yang bisa dilihat dari atas Jembatan Limpapeh, tampak seperti hutan-hutan beton gersang dengan menyisakan sedikit hijau pepohonan.

Jam Gadang di ujung kiri, hotel the Hills di ujung jalan, serta Gunung Singgalang berwarna biru hijau di kejauhan; panorama yang bisa dinikmati para pejalan dari atas Jembatan Limpapeh.

Sebuah bangunan besar bercorak Minangkabau berdiri di atas sebuah bukit yang dilihat dari atas Jembatan Limpapeh. Lahan persawahan di bagian lembah tampak seperti terkepung rapat oleh perumahan penduduk, menyisakan sangat sedikit ruang yang terbuka.

Tidak ada komentar: