Kamis, April 24

Benteng Fort De Kock


Benteng Fort de Kock merupakan benteng peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang berdiri di atas Bukit Jirek di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, yang dibangun pada tahun 1825 oleh Kapten Bauer dan digunakan sebagai kubu pertahanan Belanda dalam menghadapi Perang Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol.

Semula Benteng Fort de Kock ini dinamai Sterrenschans, namun kemudian diubah menjadi Fort de Kock mengikuti nama Baron Hendrick Merkus de Kock, yang saat itu menjabat sebagai Komandan de Roepoen dan Wakil Gubernur Jenderal Pemerintah Hindia Belanda.

Jalan masuk ke Benteng Fort de Kock, yang juga merupakan nama lama Kota Bukittinggi, adalah melalui Jl. Yos Sudarso, dengan pintu masuk berada di GPS: -0.301370, 100.367880, dengan tempat parkir yang cukup luas di bawah naungan pepohonan yang rindang. Setelah membayar retribusi sebesar Rp 5.000 (hari libur Rp 8.000), kami pun masuk ke dalam area Benteng Fort de Kock yang cukup teduh ini.

Gerbang masuk ke Benteng Fort de Kock, yang dari sini juga sekaligus bisa masuk ke Taman Margasatwa Budaya Kinantan, tanpa dipungut bayaran lagi. Jika ingin berolahraga pagi di area ini, pengunjung cukup membayar Rp.500 saja. Untuk pengambilan foto komersial di dalam area ini dikenakan biaya Rp 75.000/jam, dan pengambilan video Rp 100.000/jam.

Suasana di dalam kawasan Benteng Fort de Kock, dengan lingkungan bersih, pepohonan yang cukup rindang, sangkar-sangkar besar dan kecil rapi berjajar berisi berbagai satwa unggas, serta lampu-lampu antik berdiri tegak menghias taman.

Tengara Benteng Fort de Kock yang dibuat dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, menceritakan riwayat berdirinya benteng yang diresmikan pada 15 Maret 2003 ini.

Inilah Benteng Fort de Kock, berupa sebuah bangunan setinggi 20 m bercat putih yang dilengkapi dengan meriam di keempat sudutnya. Tangga berpagar teralis besi tampak melingkari benteng menuju ke puncaknya.

Benteng ini tampak sudah memerlukan pengecatan ulang, dan anak tangga paling bawah pun memerlukan perbaikan karena agak sedikit susah bagi pengunjung untuk menapaki tangga menuju ke bagian atas benteng ini.

Pemandangan ke arah sebagian Kota Bukittinggi yang dilihat dari sisi bagian tengahBenteng Fort de Kock, sesaat setelah menapaki tangga yang pertama.

Sebuah gardu kecil di puncak Benteng Fort de Kock, dengan sebuah antena pemancar radio, yang dicapai setelah naik melalui anak tangga kedua berkemiringan 45 derajat. Anak-anak tangga yang menuju puncak benteng ini juga sudah membutuhkan perbaikan, agar pengunjung merasa lebih nyaman dan aman ketika menapakinya.

Deretan anak tangga Benteng Fort de Kock.

Pemandangan dari puncak benteng dimana bisa dilihat salah satu meriam yang di pasang di sudut-sudut Benteng Fort de Kock ini.

Pipa-pipa saluran air yang masih terlihat kuat dan kokoh.

Benteng Fort de Kock dilihat dari arah jalan menuju ke Jembatan Limpapeh, yang digunakan untuk menyeberang ke Taman Margasatwa Budaya Kinantan, melintas di atas Jl. Ahmad Yani Bukittinggi.

Tidak ada komentar: