Senin, April 28

Lubuk Kuali di Sawahlunto

Rute Perjalanan Ke Lubuk Kuali

Beberapa tahun terakhir, citra Sawahlunto sebagai kota arang, bergeser dengan mulai dikenalnya Sawahlunto sebagai kota pariwisata. Sejak dicanangkannya Sawahlunto sebagai Kota Tambang Berbudaya oleh pemerintah daerah di bawah kepemimpinan Bapak Walikota Amran Nur, geliat wisatawan yang berkunjung ke Sawahlunto makin bertambah dari tahun ke tahun. Wisata sejarah dengan gedung-gedung peninggalan Belanda, museum gudang ransum maupun wisata buatan seperti Waterboom ataupun Taman Satwa Kandi adalah sebagian dari objek wisata yang telah dibenahi dan mulai dikenal di Indonesia, khususnya Sumatera Barat.

Pada kenyataannya, Sawahlunto bukan hanya memiliki gedung-gedung peninggalan Belanda ataupun objek wisata buatan, seperti Waterboom dan objek wisata danau Kandi. Keindahan alam di beberapa daerah berpotensi besar untuk dikembangkan dan menjadi daya pikat pariwisata Sawahlunto, jika digarap serius. Bukan tidak mungkin, pengembangan objek-objek alam di Sawahlunto bisa menjadikan Sawahlunto sebagai salah satu Kota Destinasi Utama Pariwisata Indonesia.

Sayangnya, objek-objek yang ada belum sepenuhnya dikelola dengan baik, beberapa diantaranya bahkan belum tersentuh kemajuan teknologi sama sekali. Air Terjun Sungai Bikan di Desa Wisata Rantih, adalah salah satu objek wisata yang belum maksimal dikembangkan. Memang diperlukan kerja yang lebih keras dan dana yang tidak sedikit dalam pembenahan dan pengelolaan untuk membuat lebih baik demi mewujudkan misi Desa Rantih sebagai Desa Wisata.

Gerusan Air Sungai pada Sebuah Batu
Begitupun dengan objek Lubuk Kuali yang minggu lalu sempat saya sambangi bersama rekan-rekan kerja di Taman Satwa Kandi, terlihat sama sekali belum tersentuh oleh kemajuan. Perjalanan kami untuk melihat Lubuk Kuali cukup sulit karena beberapa kali harus menaklukan medan yang menantang. Meskipun dipandu oleh seorang teman (Kasmeri) yang pernah lebih dari satu kali berkunjung ke objek tersebut, toh rute yang ditempuh tetaplah tidak mudah. Jalur yang dipandu oleh Kasmeri hanya mengandalkan "feeeling" karena rentang waktu saat ini dengan saat dia mengunjungi objek Lubuk Kuali untuk terakhir kalinya sudah relatif lama.

Melalui jalan setapak yang notabene adalah akses menuju hutan lebat di mana objek Lubuk Kuali berada. Beberapa kali nyaris tergelincir saat berpijak pada batu-batu licin berlumut yang ditemukan sepanjang perjalanan. Jalan mendaki ataupun menurun yang dipenuhi oleh semak belukar; kami juga harus menyingkirkan atau membabat sedikit ranting kayu atau pohon yang menghalangi jalan. Menyusuri sungai yang cukup panjang. Bahkan, saat menuju arah pulang sempat melewati rute yang agak ekstrem, yaitu mendaki lereng bukit yang mempunyai kemiringan sangat tajam.

Walaupun demikian, menemukan sensasi berbeda merupakan kenikmatan, kala kulit merasakan kecipak air sungai yang sejuk. Menjumpai pemandangan langka, seperti pohon dengan batang cukup besar (melebihi lingkar kedua tangan orang dewasa) dengan warna kemerahan; batu berlubang oleh hantaman air sekian lama, dan kami juga menemukan sebuah lubuk berbatu cekung, dimana bentuk cekungannya berlapis-lapis sehingga menyerupai kambium pada kayu. Sepertinya batu ini terbentuk karena gerusan pusaran air yang sangat kencang ketika sungai meluap.

Lubuk Kuali yang Menakjubkan
Detik berlalu, menit terlewat, kurang lebih 2 jam perjalanan sampailah kami pada sebuah lubuk dengan air terjun yang tidak besar. Tidak sampai disitu, kami jadi penasaran setelah diberi penjelasan dari pemandu, bahwa air terjun di Lubuk Kuali tersebut bertingkat. Tanpa pikir panjang, seluruh rombongan memutuskan untuk memanjat pinggiran tebing guna melihat sumber air terjun yang dimaksud.

Luar biasa ... pemandangan menakjubkan terhampar di depan mata. Bukan sekedar gambar bercat dalam pigura, tapi gambar nyata yang dilukis oleh Sang Pencipta. Terbayar sudah cucuran keringat dan tapak demi tapak penuh tantangan yang telah kami lalui.

Di balik air terjun pertama, terdapat air terjun yang lebih tinggi dengan lubuk sendiri. Aliran air jernih dari ketinggian sangat serasi berbaur dengan tebing-tebing cadas yang menjulang tinggi di sekelilingnya. Saat ingin mengabadikan pesona Lubuk Kuali, kamera saku abal-abal yang saya bawa tidak mau diajak kompromi, masalahnya Low Bat.

Akhirnya, berenang sampai puas sebelum memutuskan pulang. Kami menempuh rute yang tidak sama ketika pulang, yaitu mengikuti arah aliran sungai. Lagi-lagi saya harus menyesal karena tidak bisa membidik pemandangan eksotis lainnya.

Pada perjalanan pulang, di tempat yang berbeda dari sebelumnya dijumpai air terjun yang tak kalah menarik. Uniknya, air meleleh di antara tingginya tebing yang menjulang. Pada air terjun kebanyakan, aliran airnya tumpah dari puncak, kemudian jatuh meluncur lurus hingga dasar. Namun, air terjun yang saya tidak tahu namanya tersebut, aliran airnya merayap deras, mengarah ke samping mengikuti alur tebing batu yang melatarinya. Persis di tengah terjunnya, air berbelok arah, karena terhalang oleh tebing yang menonjol.

Hantaman air yang terus menerus, menjadikan tonjolan tersebut berlubang pas di tempat beradunya air dengan batu bersangkutan. Yang menarik terbentuknya lubang pada tonjolan batu tersebut, digenangi oleh air layaknya sebuah kolam. Setelah terhalang oleh tonjolan batu, aliran terjunnya jatuh agak lurus hingga dasar.
Tip:
1 Gunakan jasa pemandu yang mengenal daerah ini dengan baik. 
2 Pakailah sepatu yang tapaknya tidak licin ketika menginjak bebatuan, atau ketika menempuh rute yang naik turun. 
3 Sediakan baju ganti karena dipastikan anda akan berbasah-basahan ketika menempuh rute perjalanan. 
4 Jangan bawa beban yang terlalu berat mengingat medan perjalanan yang cukup sulit. 
5 Bawalah makanan dan minuman secukupnya.

Tidak ada komentar: