Senin, April 28

Cerpen: Tukang Tunjuk


Perang adalah bencana. Perang adalah kejahilan dan kebrutalan. Perang membawa korban terutamanya di kalangan yang tidak ikut berperang. Di kalangan rakyat berderai yang tidak ikut dan tidak mengerti kenapa terjadi perang. Mereka biasanya yang paling banyak menderita. Perang adalah tempat dimana fitnah dan dendam bisa dikobarkan. Alasan untuk berperang sejak jaman belum ber belum hampir selalu sama. Untuk melampiaskan hawa nafsu di satu fihak dan untuk mempertahankan diri di fihak yang lain. Hawa nafsu serakah ingin berkuasa, hawa nafsu ingin melanggengkan kekuasaan, hawa nafsu karena pantang kelintasan, hawa nafsu nyata-nyata ingin merampok dan menguasai milik orang lain. Maka dikobarkanlah perang. Sebuah negeri diserang, dihancurkan, hunian penduduknya dibumi hanguskan, penduduknya dipecundangi, dilecehkan, dihinakan, dibunuh dengan semena-mena.

Perang juga memecah belah masyarakat. Masyarakat terpaksa, dengan alasannya masing-masing harus berfihak kepada salah satu kelompok dari yang berperang. Berpihak kepada salah satu pihak dalam jaman perang tentu beresiko. Tapi juga memberi jaminan seandainya luput dari resiko.
***
Si Poan punya alasan tidak suka dengan orang PRRI. Tidak suka dengan orang kampung yang mendukung dan membantu orang PRRI. Alasannya karena partai orang tuanya berseberangan dengan partai orang-orang PRRI. Orang-orang PRRI itu kebanyakan adalah orang Masyumi. Orang yang memandang enteng kepada partai ayahnya, PKI. Tapi Poan juga tahu bahwa di kampung boleh dikatakan 99% orang pro PRRI. Poan tahu betul siapa-siapa di antara temannya, anak muda yang ikut lari ke luar, bergabung dengan tentara pemberontak. Diapun pernah diajak ikut. Tentu saja dia menolak. Dengan cara halus.

Suatu hari tentara APRI masuk kampung. Menggeledah rumah-rumah mencari tentara PRRI. Mencari anak-anak muda yang dicurigai ikut jadi tentara PRRI. Anak-anak muda yang ada di kampung berketabungan lari untuk menghindar. Sebenarnya sangat konyol yang mereka lakukan itu. Tiga orang terlihat oleh tentara pusat. Diteriakinya supaya berhenti dan mengangkat tangan. Anak-anak muda itu tidak tahu aturan seperti itu. Tidak mengerti aturan berhenti dan mengangkat tangan. Yang ada di dalam benak mereka hanyalah lari untuk menyelamatkan diri. Sementara tentara APRI yang ‘ringan-ringan tangan’ itu, sesudah sekali diperintahkan berhenti tidak didengar langsung membidik kepala anak-anak muda malang itu. Dor! Anak muda itupun tersungkur. Langsung terjilapak. Inna lillahi wainnaa ilaihi raaji’uun. Si tentara APRI tidak mempedulikan sedikitpun. Dia mencari dan mengejar lagi yang lain. Dan mendornya pula.

Beberapa orang masuk ke rumah-rumah. Memeriksa ke sana ke mari. Dengan sepatu bot yang tidak dibuka. Berderak-derak bunyi tapak sepatu mereka di rumah kayu penduduk. Ada yang sampai memanjat ke atas loteng lalu menyenter-nyenter. Bahkan masuk ke dalam kandang di bawah rumah. Sambil membentak-bentak, menghardik-hardik, menanyakan dimana disembunyikan tentara PRRI. Rakyatpun mati kuncun semuanya.

Si Poan duduk tenang-tenang di rumah. Dengan sangat yakin. Dia tidak akan diapa-apakan oleh tentara APRI itu seandainya mereka naik ke rumah. Dua orang tentara ternyata memang naik ke rumahnya dengan terlebih dahulu menerjang pintu masuk. Soalnya di halaman terjemur tiga helai celana panjang laki-laki. Di ruang atas didapatinya Poan sedang duduk dengan tenang di tikar.

‘Angkat tangan! Kamu pemberontak, ya?!’ teriak seorang dari kedua serdadu itu.

‘Tidak pak. Ambo rakyat,’ jawab Poan dengan tenang.

Tentara itu menodongkan senjatanya ke kepala Poan sambil matanya melotot mencari-cari entah apa di rumah itu. Mata itu akhirnya hinggap di sebuah gambar yang ditempel di pintu lemari. Gambar palu arit.

‘Siapa yang PKI di rumah ini?’ tanya tentara itu dengan nada suara tidak lagi garang.

‘Apak saya, pak,’ jawab Poan.

‘Kau ikut dengan kami ke Bukit Tinggi!’ perintah tentara itu pula.

Dan Poan dibawa. Dinaikkan ke atas mobil truk reo. Dia ditahan dua hari di kantor Balayon B di Bukit Tinggi tapi sesudah itu dijinkan pulang.
***
Tentara APRI makin sering masuk kampung. Dan sekarang menangkapi beberapa orang kampung yang lalu dibawa ke markas Batalyon B dekat lapangan kantin di Birugo. Yang ditangkap umumnya adalah mereka yang punya anggota keluarga ikut lari ke luar alias jadi tentara PRRI. Dan kebanyakan adalah wanita. Yang suaminya atau saudaranya atau anaknya ikut PRRI. Entah dari mana tentara pusat itu tahu. Ditangkap dan dibawa ke Batalyon B itu sangat mengerikan. Banyak orang yang dibawa kesana, terutama yang laki-laki, tidak pulang dan hilang lenyap bak ditelan bumi. Tapi untunglah tidak demikian dengan rombongan ibu-ibu. Setelah ditahan sekitar beberapa minggu, dan diinterogasi siang dan malam, mereka umumnya diijinkan kembali pulang.

Orang kampung curiga. Dimana tentara-tentara pusat itu tahu bahwa ada anggota keluarga wanita-wanita itu orang PRRI? Dengan sebegitu jelasnya? Tentu ada yang memberi angin agaknya. Tapi siapa?

Si Poan boleh dikatakan satu-satunya anak muda yang bisa hidup tenang-tenang saja di kampung. Sekali sepekan dia pergi ke Bukit Tinggi. Pergi menggalas barang mudo. Membawa cabai merah, kentang dan sayur-sayuran yang dikumpulkan dari petani. Tiba-tiba saja dia sudah jadi seorang penggalas. Anehnya dia hanya membawa barang dagangan itu ke pasar Bukit Tinggi saja. Tidak pernah ke pekan-pekan berhampiran. Padahal kebanyakan orang menghindar untuk pergi ke pasar Bukit Tinggi. Takut di geledah dan dibentak-bentak tentara pusat. Tentara pusat memang selalu merazia setiap penumpang bendi yang menuju Bukit Tinggi. Penumpang laki-laki, meski orang tua-tua sekalipun disuruh turun. Digeledah dan ditanyai macam-macam. Barang bawaan ibu-ibu di dalam kambut atau karung diobok-obok.

Pada suatu petang, ketika akan membayar sesudah minum teh telur di lepau mak Tangkudun, selembar kertas yang dikeluarkan Poan dari saku bajunya terjatuh. Mak Pakiah yang duduk di dekatnya mengambil kertas itu dari lantai.

‘Kertas apa ini Poan?’ tanya mak Pakiah sambil menyerahkannya kembali.

‘Catatan jual beli lado mah, mak,’ jawab Poan sambil memasukkan kertas itu kembali ke saku celananya.

‘Si Nuraini kan ndak ada berkebun lado. Kenapa ada pula namanya di kertas itu?’ tanya mak Pakiah sambil lalu tanpa curiga apa-apa.

Nuraini adalah kemenakan mak Pakiah. Suaminya ikut ke luar. Nuraini sampai hari itu sudah hampir sebulan ditahan di Batalyon B.

‘Itu si Nuraini orang penggalas di pasar mah, mak. Pedagang yang membeli lado yang ambo bawa,’ jawab Poan mantap.

‘Oooo, mantun,’ jawab mak Pakiah pula.

Mak Tangkudun, pemilik lepau, menyimak saja soal jawab singkat itu. Setelah Poan berlalu tidak tahan juga hatinya untuk berkomentar.

‘Berdetak saja hatiku,’ kata mak Tangkudun ketika di lepau itu yang tinggal mak Pakiah seorang saja lagi.

‘Tentang apa?’ tanya mak Pakiah.

‘Tentang musang berbulu ayam.’

‘Hah? Siapa pula yang jadi musang?’

‘Apa yang Pakiah baca di kertas yang jatuh sebentar ini?’ tanya mak Tangkudun.

‘Kertas yang mana?’

‘Kertas yang dikembalikan ke si Poan.’

‘Ada tersurat nama Nuraini. Entah kenapa nama itu pula yang tertangkap di mata ambo. Ada nama si Fadilah di bawah itu dan nama-nama entah siapa lagi.’

‘Si Fadilah kan sama-sama dijemput dan dibawa tentara pusat? Tidak ada lagi nama yang lain yang teringat terlihat tadi?’

‘Rukayah….. Ya di atas nama si Nuraini ada Rukayah.’

Mak Tangkudun menghempaskan kopiahnya ke meja.

‘Pastilah kalau begitu. Si Nuraini, si Fadilah dan si Kayah sampai hari ini belum juga pulang dari Birugo. Ndak berdetak hati Pakiah ada kaitan nama-nama di kertas tadi itu dengan kenyataan ibu-ibu yang ditangkapi itu? Kalau ambo sangat yakin ambo sekarang,’ kata mak Tangkudun.

‘Jadi?’ mak Pakiah mulai ikut berpikir. Mulai agak menangkap maksudnya.

‘Tukang tunjuk,’ jawab mak Tangkudun.
***
Alhamdulillah, ibu-ibu yang ditangkap itu akhirnya dilepaskan juga semuanya. Hanya, sesudah itu rumah mereka selalu diintai tentara pusat. Beberapa kali di antara ibu-ibu itu terkejut ketika pergi ke sumur di waktu subuh terserobok dengan tentara sedang duduk bersiaga dekat pintu sumur. Mungkin tentara itu semalaman menanti-nanti tentara luar anggota keluarga penghuni rumah itu. Siapa tahu mereka pulang ke rumah.
***
Seminggu sesudah percakapan mak Tangkudun dan mak Pakiah di lepau, si Poan dijemput orang tengah malam. Tidak sedikitpun dia curiga. Ketika pintu diketuk dan namanya dipanggil, dan yang memanggil itu berbahasa Indonesia, Poan segera turun. Tentu saja dia kaget ketika sampai di halaman. Yang menjemputnya adalah tentara bersenjata tidak berseragam. Poan menghilang tidak tentu rimbanya sejak saat itu.

Beberapa hari sesudah itu wali nagari didatangi tentara pusat. Habis dia ditampari dan dibentak-bentak ketika tentara pusat itu menanyakan kemana perginya si Poan. Wali nagari menjawab sejujurnya bahwa dia tidak tahu. Wali nagari dan wali jorong dibawa ke Birugo dan ditahan sebulan disana. Sesudah sebulan, mereka diantarkan kembali ke kampung dalam keadaan lusuh dan kurus.

Wassalamu’alaikum,

Tidak ada komentar: