Tampilkan postingan dengan label Minangkabau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Minangkabau. Tampilkan semua postingan

Jumat, Januari 20

Simpang Ampek, BUKAN Simpang Empat..!


Ibukota Pasaman Barat Simpang Empat sejak tanggal 19 September 2011 resmi namanya disebut Simpang Ampek. Kecamatan Gunung Tulas, diresmikan namanya jadi Gunuang Tuleh, dan Sungai Aur diresmikan menjadi Sungai Aua.

Hal itu disampaikan Bupati Pasbar H. Baharuddin R yang didampingi Wabup Pasbar H. Syahrul Dt Marajo, dalam peresmian nama ibukota Pasbar, dan nama kecamatan, nagari, jorong, dan nama jalan di halaman kantor bupati Simpang Ampek, Senin (19/9).

Hadir juga dalam peresmian tersebut, Ketua LKAAM Sumbar Drs. H. M. Sayuti Dt Panghulu, M.Pd. Pemangku Adat Simpang Ampek Hendri Eka Putra.SE Daulat Parik Batu, dan sejumlah tokoh masyarakat di Pasbar.

Pengembalian nama-nama daerah ke bahasa aslinya itu, kata Baharuddin, sebagai realisasi Perda nagari yang telah disahkan DPRD setempat baru-baru ini.

Selanjutnya, sebut Baharuddin, untuk nama Kecamatan Parit, diganti dengan Parik Koto Balingka. Ujung Gading, diresmikan namanya Ujuang Gadiang. Kecamatan Silaping diresmikan sebutannya dengan Silapiang.

Sebutan bundo kandung, dikembalikan namanya bundo kanduang. Sebutan Suka Menanti, disesuaikan lagi dengan Suko Menanti. Selama ini sebutan Padang Tujuh, juga dikembalikan menjadi Padang Tujuah. Dan Air Bangis dikembalikan kenama aslinya Aia Bangih. Nagari Sinurut, dikembalikan kenama aslinya Sinuruik.

Dengan demikian seluruh nama nama-nama kecamatan, nagari, jorong, di Pasaman Barat dikembalikan kepada nama-nama aslinya. Sehingga budaya Minangkabau itu di Pasaman Barat, imbuh bupati akan tetap selalu eksis dan masyarakat bangga dengan bahasa sendiri atau bahasa aslinya.

Ditempat yang sama Ketua LKAAM Sumbar M Sayuti Dt Panghulu, memberikan apresiasi kepada bupati Pasbar H. Baharuddin R yang punya inisiatif untuk mengembalikan nama-nama daerah ke bahasa aslinya Minangkabau. Sebab, tidak semua bahasa Minang yang bisa dijadikan bahasa Indonesia, yang mengandung arti yang benar.

”Di Sumbar baru Pasaman Barat yang pertama punya inisiatif mengembalikan nama-nama kecamatan, nagari, kampung, jalan ke bahasa aslinya Minangkabau,” kata Sayuti.

Seiring dengan itu, kata Sayuti, falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah itu, diharapkan akan berjalan dengan baik di bumi Pasaman Barat

" AYO KEMBALIKAN LAGI KE EJAAN MINANG " 

Saya sangat setuju seandainya nama yang telah diIndonesiakan tersebut dikembalikan ke bentuk bahasa asalnya.
Seperti nama Pauh Kambar dikembalikan menjadi Pauah Kamba, Sungai Sarik dikembalikan menjadi Sungai Sariak, Alang Lawas dikembalikan menjadi Alang Laweh dan lain sebagainya. Saya melihat nama-nama daerah atau kota yang telah diIndonesiakna itu seakan menyiratkan ketidakpercayaan diri orang Minang sebagai putra Minang. Sangat kontradiktif dengan perilaku dan budaya Minang yang memperlihatkan dominasinya di kancah Nasional. Sebut saja Bapak Pendiri Bangsa ini yang kebanyakan adalah Putra Minang, seperti Tan Malaka, M Hatta, Sutan Syahrir, M Natsir, dll.

Bagitu juga dengan budaya kuliner yang sudah terkenal di seluruh pelosok Tanah Air bahkan ke mancanegara. Rumah Makan Padang atau Masakan Padang sudah menjadi kalimat yang tak lazim lagi bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. Sangat ironi dengan penamaan daerah tadi yang bahkan telah merambah ke dalam bidang pemerintahan.

Pemerintah Daerah dan Kota di Sumatera Barat seakan menyetujui penamaan yang telah salah ini. Saya tidak mengetahui pasti kenapa masyarakat Minang membiarkan hal ini sampai terjadi. Apakah hal tersebut dikaitkan dengan peristiwa PRRI atau yang lainnya, sepertinya harus diperlukan pembuktian lebih lanjut.

Kita lihat daerah lain selain Sumatera Barat, dimulai dari Aceh sampai ke Papua, mereka sangat bangga memakai nama tempat atau daerahnya dengan bahasa setempat. Contoh: Meulaboh (Aceh), Aek Pining (Sumut), Kuto Besak (Sumsel), Dayehkolot (Jabar), Nabire (Papua) dan masih banyak lainnya.

Suatu kali ketika saya berbincang-bincang dengan teman-teman yang berasal bukan dari Sumatera Barat, mereka menanyakan tentang arti dari nama daerah yang ada di Sumatera Barat. Waktu itu mereka menanyakan arti “Tabing”. Awalnya saya dengan ringan menjawab, dalam bahasa Minang kata tersebut dilafalkan dengan “Tabiang” yang berarti Tebing. Lalu saya kaget sendiri dengan kata dalam bahasa Indonesia nya yang disebut dengan “Tabing” bukan “Tebing”. Pengalaman ini menggelitik saya dan dengan spontan mengingat nama-nama lain yang kebanyakan tidak memiliki padanan yang sesuai dengan bahasa Indonesia yang benar.

Lewat tulisan ini saya menghimbau agar masyarakat Minang kembali menyadari bahwa dengan mengembalikan nama tempat atau daerah tersebut adalah salah satu sikap untuk memajukan budaya dengan berbahasa Minang seutuhnya. Dalam istilah Minang disebut “Indak saparo ula saparo baluik (Tidak sebagian ular sebagian belut)” yang berarti tidak plin plan. Sebagai orang Minang saya tidak ingin dicap sebagai orang yang tidak berbudaya. Bagaimana dengan anda?

Translator / Kamus Minang - Indonesia, Indonesia - Minang

Indonesia Minang
Softaware ini berguna bagi orang minang maupun non minang untuk menterjemahkan bahasa minang ke indonesia ato sebaliknya, juga bermanfaat bagi orang minang yang lahir di perantauan dan belum mengerti bahasa minang.
Software ini dibuat oleh Nur Evida Kurniawati. Walaupun Evi bukanlah berdarah minang, ketertarikannya dengan khasanah adat budaya minang khususnya Bahasa Minang membuat materi Ujian Akhir untuk kuliah nya di Univ Ahmad Dahlan berbuah software translator indonesia minang ini.
Mudah mudahan hasil jerih payah Evi ini bisa berguna untuk kita semua dan mendapat balasan yg setimpal dari  Allah SWT.
Software ini mempunyai fitur fitur antara lain : 
  • Input dapat berupa file (txt atau rtf) ataupun pengetikan langsung (on the fly) pada jendela software
  • Database Kosa kata yg bisa di update
  • Pada saat ini terdapat kurang lebih 5000 database kata
  • Database Kosa kata diambil dari kamus Minang tulisan Gouzali Saydam
  • Dapat berfungsi sebagai kamus yg bisa di Search
Software ini mempunyai manfaat :
  • Aplikasi ini dapat membantu mengenalkan bahasa Minang kepada mansyarakat Minang di perantauan, terutama anak kemenakan yg lahir dan besar di rantau
  • Aplikasi ini dapat memperkenalkan bahasa Minang kepada masyarakat umum
  • Aplikasi ini dapat menjadi salah satu alat bantu untuk  melestarikan kebudayaan daerah Minang, khususnya bahasa daerah
Silahkan download secara gratis dengan klik tombol Download dibawah, software ini dipercayakan kepada cimbuak.net untuk mendistribusikannya secara gratis kepada dunsanak semua nya.
Download disini
MIRROR
Wempi Mirror Download

Daftar Nama Nagari di Sumatera Barat

Kabupaten Agam

Kabupaten Agam terdiri dari 16 kecamatan dan 82 nagari,
dengan ibukota pemerintahan di Lubuk Basung.

I. Kecamatan Baso
  1. Simarasok
  2. Padang Tarok
  3. Koto Tinggi
  4. Tabek Panjang
  5. Salo
  6. Koto Baru
II. Kecamatan IV Angkek Candung
  1. Batu Taba
  2. Biaro Gadang
  3. Balai Gurah
  4. Lambah
  5. Panampuang
  6. Ampang Gadang
  7. Pasia
III. Kecamatan Sungai Pua
  1. Padang Laweh
  2. Sungai Pua
  3. Batagak
  4. Batu Palano
  5. Sariak
IV. Kecamatan Banuhampu
  1. Padang Lua
  2. Sungai Tanang
  3. Taluak Ampek Suku
  4. Pakan Sinayan
  5. Kubang Putiah
  6. Ladang Laweh
  7. Cingkariang
V. Kecamatan IV Koto
  1. Koto Tuo
  2. Balingka
  3. Guguak Tabek Sarojo
  4. Koto Panjang
  5. Sianok Anam Suku
  6. Sungai Landia
  7. Koto Gadang
VI. Kecamatan Malalak
  1. Malalak Utara
  2. Malalak Selatan
  3. Malalak Barat
  4. Malalak Timur
VII. Kecamatan Canduang
  1. Canduang Koto Laweh
  2. Lasi
  3. Bukik Batabuah
VIII. Kecamatan Kamang Magek
  1. Kamang Mudiak
  2. Magek
  3. Kamang Hilia
IX. Kecamatan Tilatang Kamang
  1. Koto Tangah
  2. Kapau
  3. Gaduik
X. Kecamatan Palupuh
  1. Nan Tujuah
  2. Pagadih
  3. Koto Rantang
  4. Pasia Laweh
XI. Kecamatan Tanjung Raya
  1. Maninjau
  2. Tanjung Sani
  3. Koto Kaciak
  4. Koto Gadang VI Koto
  5. Koto Malintang
  6. Duo Koto
  7. Paninjauan
  8. Sungai Batang
  9. Bayua
XII. Kecamatan Matua
  1. Lawang
  2. Matua Mudik
  3. Matua Hilia
  4. Panta Pauh
  5. Tigo Balai
  6. Parik Panjang
XIII. Kecamatan Palembayan
  1. IV Koto Palembayan
  2. Sipinang
  3. Sungai Pua
  4. Baringin
  5. Tigo Koto Silungkang
  6. Salareh Aia
XIV. Kecamatan Lubuk Basung
  1. Garagahan
  2. Kampung Tangah
  3. Lubuk Basung
  4. Manggopoh
  5. Kampung Pinang
XV. Kecamatan Ampek Nagari
  1. Batu Kambing
  2. Bawan
  3. Sitanang
  4. Sitalang
XVI. Kecamatan Tanjung Mutiara
  1. Tiku Utara
  2. Tiku Selatan
  3. Tiku Limo Jorong

Kabupaten Dharmasraya

Kabupaten Dharmasraya terdiri dari 11 kecamatan dan 52 nagari,
dengan ibukota pemerintahan di Pulau Punjung.

I. Kecamatan Pulau Punjung
  1. IV Koto Pulau Punjung
  2. Sungai Kambul
  3. Gunung Selasih
  4. Sungai Dareh
  5. Tabing Tinggi
  6. Sikabu
II. Kecamatan IX Koto
  1. Silago
  2. Lubuk Karak
  3. Koto Nan IV Dibawah
  4. Balai
III. Kecamatan Sitiung
  1. Siguntur
  2. Sitiuang
  3. Gunung Medan
  4. Sungai Duo
IV. Kecamatan Timpeh
  1. Timpeh
  2. Taratak Tinggi
  3. Tabek
  4. Panyuharangan
  5. Ranah Palabi
V. Kecamatan Koto Salak
  1. Koto Salak
  2. Padukuan
  3. Pulau Mainan
  4. Simalidu
  5. Ampalu
VI. Kecamatan Tiumang
  1. Tiumang
  2. Koto Baringin
  3. Sipangkur
  4. Sungai Langkok
VII. Kecamatan Padang Laweh
  1. Padang Laweh
  2. Batu Rijal
  3. Sopan Jaya
  4. Muaro Sopan
VIII. Kecamatan Koto Besar
  1. Koto Besar
  2. Abai Siar
  3. Bonjol
  4. Koto Gadang
  5. Koto Laweh
  6. Koto Tinggi
  7. Koto Ranah
IX. Kecamatan Asam Jujuhan
  1. Sungai Limau
  2. Sinamar
  3. Lubuk Besar
  4. Tanjung Alam
  5. Alahan Nan Tigo
X. Kecamatan Koto Baru
  1. Koto Baru
  2. Ampang Kuranji
  3. Sialang Gaung
  4. Koto Padang
XI. Kecamatan Sungai Rumbai
  1. Sungai Rumbai
  2. Sungai Rumbai Timur
  3. Kurnia Koto Salak
  4. Kurnia Selatan

Kabupaten Lima Puluh Koto

Kabupaten Lima Puluh Koto terdiri dari 13 kecamatan dan 79 nagari,
dengan ibukota pemerintahan di Sarilamak.

I. Kecamatan Situjuah Limo Nagari
  1. Situjuah Gadang
  2. Situjuah Banda Dalam
  3. Situjuah Ladang Laweh
  4. Situjuah Batur
  5. Tungka
II. Kecamatan Luhak
  1. Mungo
  2. Andaleh
  3. Sungai Kumayang
  4. Sikabu-Kabu Tanjung Aro
III. Kecamatan Harau
  1. Tarantang
  2. Sarilamak
  3. Solok Bio-Bio
  4. Harau
  5. Gurun
  6. Lubuk Batingkok
  7. Koto Tuo
  8. Batu Balang
  9. Bukik Limbuku
  10. Taram
  11. Pilubang
IV. Kecamatan Payakumbuh
  1. Taeh Bukik
  2. Taeh Baruah
  3. Koto Tangah Simalanggang
  4. Koto Baru Simalanggang
  5. Simalanggang
  6. Piobang
  7. Sungai Baringin
V. Kecamatan Lareh Sago Halaban
  1. Ampalu
  2. Halaban
  3. Sitanang
  4. Tanjuang Gadang
  5. Labuah Gunung
  6. Balai Panjang
  7. Bukik Sikumpa
  8. Batu Payuang
VI. Kecamatan Akabiluru
  1. Koto Tangah Batuhampar
  2. Batu Hampar
  3. Sariek Laweh
  4. Sungai Balantiak
  5. Suayan
  6. Pauh Sangik
  7. Durian Gadang
VII. Kecamatan Guguak
  1. Sungai Talang
  2. Guguak VIII Koto
  3. Kubang
  4. Simpang Sugiran
  5. VII Koto Talago
VIII. Kecamatan Mungka
  1. Mungka
  2. Jopang Mangganti
  3. Talang Maur
  4. Simpang Kapuak
  5. Sungai Antuan
IX. Kecamatan Suliki
  1. Suliki
  2. Kurai
  3. Sungai Rimbang
  4. Limbanang
  5. Tanjuang Bungo
  6. Andiang
X. Kecamatan Gunuang Omeh
  1. Koto Tinggi
  2. Talang Anau
  3. Pandam Gadang
XI. Kecamatan Bukik Barisan
  1. Baruah Gunuang
  2. Sungai Naniang
  3. Koto Tangah
  4. Banja Loweh
  5. Maek
XII. Kecamatan Pangkalan Koto Baru
  1. Koto Alam
  2. Mangilang
  3. Pangkalan
  4. Gunuang Malintang
  5. Tanjuang Balik
  6. Tanjuang Pauh
XIII. Kecamatan Kapur IX
  1. Koto Lamo
  2. Lubuak Alai
  3. Muaro Paiti
  4. Koto Bangun
  5. Durian Tinggi
  6. Sialang
  7. Galugua

Kabupaten Padang Pariaman

Kabupaten Padang Pariaman terdiri dari 17 kecamatan dan 60 nagari,
dengan ibukota pemerintahan di Parik Malintang.

I. Kecamatan Sungai Geringging
  1. Malai III Koto
  2. Kuranji Hulu
  3. Batu Gadang Kuranji Hulu
  4. Sungai Sirah Kuranji Hulu
II. Kecamatan IV Koto Aur Malintang
  1. III Koto Aur Malintang
  2. III Koto Aur Malintang Utara
  3. III Koto Aur Malintang Selatan
  4. III Koto Aur Malintang Timur
  5. Balai Baiak Malai III Koto
III. Kecamatan Sungai Limau
  1. Kuranji Hilir
  2. Koto Tinggi Kuranji Hilir
  3. Guguak Tinggi Kuranji Hilir
  4. Pilubang
IV. Kecamatan V Koto Kampung Dalam
  1. Campago
  2. Sikucur
V. Kecamatan Batang Gasan
  1. Malai V Suku
  2. Gasan Gadang
VI. Kecamatan V Koto Timur
  1. Gunuang Padang Alai
  2. Kudu Gantiang
  3. Limau Puruik
VII. Kecamatan Padang Sago
  1. Koto Baru
  2. Batu Kalang
  3. Koto Dalam
VIII. Kecamatan Patamuan
  1. Sungai Durian
  2. Tandikek
  3. Tandikek Utara
IX. Kecamatan VII Koto
  1. Lurah Ampalu
  2. Lareh Nan Panjang
  3. Balah Air
  4. Sungai Sariak
X. Kecamatan Nan Sabaris
  1. Kapalo Koto
  2. Padang Bintungan
  3. Pauh Kambar
  4. Kurai Taji
  5. Sunur
XI. Kecamatan VI Lingkung
  1. Pakandangan
  2. Toboh Ketek
  3. Parit Malintang
  4. Koto Tinggi
  5. Gadur
XII. Kecamatan 2x11 Enam Lingkung
  1. Sicincin
  2. Lubuk Pandan
  3. Sungai Asam
XIII. Kecamatan 2x11 Kayu Tanam
  1. Kapalo Hilalang
  2. Kayu Tanam
  3. Anduriang
  4. Guguak
XIV. Kecamatan Lubuk Alung
  1. Lubuk Alung
  2. Pasie Laweh Lubuk Alung
  3. Punggung Kasiak Lubuk Alung
  4. Aie Tajun Lubuk Alung
  5. Sikabu Lubuk Alung
XV. Kecamatan Batang Anai
  1. Katapiang
  2. Kasang
  3. Sungai Buluh
  4. Buayan Lubuk Alung
XVI. Kecamatan Ulakan Tapakis
  1. Ulakan
  2. Tapakis
XVII. Kecamatan Sintuk Toboh Gadang
  1. Sintuak
  2. Toboh Gadang

Kabupaten Pasaman

Kabupaten Pasaman terdiri dari 12 kecamatan dan 32 nagari,
dengan ibukota pemerintahan di Lubuk Sikaping.

I. Kecamatan Tigo Nagari
  1. Malampah
  2. Ladang Panjang
  3. Binjai
II. Kecamatan Simpang Alahan Mati
  1. Simpang
  2. Alahan Mati
III. Kecamatan Bonjol
  1. Koto Kaciak
  2. Limo Koto
  3. Ganggo Hilie
  4. Ganggo Mudiak
IV. Kecamatan Lubuk Sikaping
  1. Tanjung Beringin
  2. Jambak
  3. Durian Tinggi
  4. Pauah
  5. Aia Manggih
  6. Sundata
V. Kecamatan Mapatunggul Selatan
  1. Silayang
  2. Muaro Sungai Lolo
VI. Kecamatan Panti
  1. Panti
VII. Kecamatan Padang Gelugur
  1. Padang Gelugur
VIII. Kecamatan Rao Selatan
  1. Tanjung Betung
  2. Lansek Kadok
  3. Lubuk Layang
IX. Kecamatan Rao
  1. Tarung-Tarung
  2. Padang Mantinggi
X. Kecamatan Rao Utara
  1. Koto Rajo
  2. Koto Napan
  3. Languang
XI. Kecamatan Mapatunggul
  1. Lubuk Gadang
  2. Pintu Padang
  3. Muaro Tais
XII. Kecamatan Duo Koto
  1. Cubadak
  2. Simpang Tonang

Kabupaten Pasaman Barat

Kabupaten Pasaman Barat terdiri dari 11 kecamatan dan 19 nagari,
dengan ibukota pemerintahan di Simpang Ampek.

I. Kecamatan Talamau
  1. Kajai
  2. Talu
  3. Sinuruik
II. Kecamatan Sungai Beremas
  1. Aia Bangih
III. Kecamatan Lembah Malintang
  1. Ujung Gadiang
IV. Kecamatan Ranah Batahan
  1. Batahan
  2. Desa Baru
V. Kecamatan Koto Balingka
  1. Parit
VI. Kecamatan Pasaman
  1. Lingkuan Aua
  2. Aia Gadang
  3. Aua Kuniang
VII. Kecamatan Gunung Tuleh
  1. Muaro Kiawai
  2. Robi Jonggor
VIII. Kecamatan Sasak Ranah Pasisie
  1. Sasak
IX. Kecamatan Sungai Aua
  1. Sungai Aua
X. Kecamatan Luhak Nan Duo
  1. Koto Baru
  2. Kapa
XI. Kecamatan Kinali
  1. Kinali
  2. Katiagan Mandiangin

Kabupaten Pesisir Selatan

Kabupaten Pesisir Selatan terdiri dari 12 kecamatan dan 76 nagari,
dengan ibukota pemerintahan di Painan.

I. Kecamatan Koto XI Tarusan
  1. Siguntur
  2. Taratak Sungai Lundang
  3. Baruang2 Balantai
  4. Baruang2 Balantai Selatan
  5. Duku
  6. Batu Hampar
  7. Nanggalo
  8. Ampang Pulai
  9. Sungai Pinang
  10. Kapuah
  11. Kapuah Utara
  12. Mandeh
II. Kecamatan Bayang
  1. Pasa Baru
  2. Koto Barapak
  3. Gurun Panjang
  4. Talaok
III. Kecamatan IV Nagari Bayang Utara
  1. Puluik-puluik
  2. Koto Ranah
  3. Muaro Aie
  4. Pancuang Taba
IV. Kecamatan IV Jurai
  1. Painan
  2. Bungo Pasang Salido
  3. Salido
  4. Sago Salido
  5. Tambang
  6. Lumpo
V. Kecamatan Batang Kapeh
  1. Taluak
  2. Koto Nan Duo IV Koto Hilie
  3. Koto Nan Tigo IV Koto Hilie
  4. IV Koto Hilie
  5. IV Koto Mudiak
VI. Kecamatan Sutera
  1. Surantiah
  2. Ampiang Parak
  3. Amping Parak Timur
  4. Taratak
VII. Kecamatan Lengayang
  1. Kambang Utara
  2. Kambang Timur
  3. Kambang
  4. Kambang Barat
  5. Lakitan Utara
  6. Lakitan Selatan
  7. Lakitan Timur
  8. Lakitan
  9. Lakitan Tengah
VIII. Kecamatan Ranah Pasisia
  1. Pelangai
  2. Sungai Tunu Utara
  3. Sungai Tunu
  4. Sungai Tunu Barat
IX. Kecamatan Linggo Sari Baganti
  1. Punggasan Utara
  2. Punggasan Timur
  3. Padang XI Punggasan
  4. Punggasan
  5. Lagan Mudik Punggusan
  6. Lagan Hilir Punggasa
  7. Air Haji
X. Kecamatan Pancung Soal
  1. Muaro Sakai
  2. Tiga Sepakat
  3. Inderapura Barat
  4. Inderapura
  5. Kudo-Kudo
  6. Inderapura Selatan
  7. Inderapura Timur
  8. Inderapura Utara
XI. Kecamatan Basa IV Balai Tapan
  1. Sungai Gambir Sako Tapan
  2. Binjai Tapan
  3. Talang Koto Pulai tapan
  4. Pasa Tapan
  5. Ampang Tulak Tapan
  6. Batang Arah Tapan
  7. Tanjung Pondok Tapan
  8. Kubu Tapan
XII. Kecamatan Lunang Silaut
  1. Lunang Utara
  2. Lunang
  3. Lunang Selatan
  4. Lunang Barat
  5. Silaut

Kabupaten Sijunjung

Kabupaten Sijunjung terdiri dari 8 kecamatan dan 60 nagari dan 1 desa,
dengan ibukota pemerintahan di Muaro Sijunjung.

I. Kecamatan Kupitan
  1. Padang Sibusuk
  2. Pamuatan
  3. Batu Manjulur
  4. Kampung Baru (desa)
II. Kecamatan Koto VII
  1. Limo Koto
  2. Padang Laweh
  3. Guguak
  4. Tanjung
  5. Palaluar
  6. Bukit Bual
III. Kecamatan Sumpur Kudus
  1. Kumanih
  2. Tanjung Bonai Aua
  3. Tanjung Bonai Aua Selatan
  4. Tamparungo
  5. Tanjuang Labuang
  6. Sumpur Kudus
  7. Sumpur Kudus Selatan
  8. Sisawah
  9. Silantai
  10. Unggan
  11. Mangganti
IV. Kecamatan Sijunjung
  1. Sijunjung
  2. Muaro
  3. Pematang Panjang
  4. Aia Angek
  5. Paru
  6. Durian Gadang
  7. Solok Ambah
  8. Silokek
  9. Kandang Baru
V. Kecamatan IV Nagari
  1. Palangki
  2. Koto Tuo
  3. Koto Baru
  4. Muaro Bodi
  5. Mundam Sati
VI. Kecamatan Lubuk Tarok
  1. Lubuk Tarok
  2. Lalan
  3. Buluh Kasok
  4. Silongo
  5. Latang
  6. Kampung Dalam
VII. Kecamatan Tanjung Gadang
  1. Timbulun
  2. Pulasan
  3. Taratak Baru
  4. Taratak Baru Utara
  5. Tanjung Gadang
  6. Tanjung Lolo
  7. Sibakur
  8. Sinyamu
  9. Langki
VIII. Kecamatan Kamang Baru
  1. Sungai Lansek
  2. Muaro Takung
  3. Kamang
  4. Aie Amo
  5. Sungai Betung
  6. Padang Tarok
  7. Tanjung Kaliang
  8. Siaur
  9. Maloro
  10. Lubuk Tarantang
  11. Parik Rantang

Kabupaten Solok

Kabupaten Solok terdiri dari 14 kecamatan dan 74 nagari,
dengan ibukota pemerintahan di Arosuka.

I. Kecamatan Pantai Cermin
  1. Lolo
  2. Surian
II. Kecamatan Lembah Gumanti
  1. Alahan Panjang
  2. Sungai Nanam
  3. Salimpat
  4. Aia Dingin
III. Kecamatan Hiliran Gumanti
  1. Talang Babungo
  2. Sariak Alahan Tigo
  3. Sungai Abu
IV. Kecamatan Tigo Lurah
  1. Rangkiang Luluih
  2. Tanjuang Balik Sumiso
  3. Batu Bajanjang
  4. Garabak Data
  5. Simanau
V. Kecamatan Lembang Jaya
  1. Batu Banyak
  2. Batu Bajanjang
  3. Selayo Tanang Bukik Suleh
  4. Koto Laweh
  5. Limau Lunggo
  6. Koto Gadang Koto Anau
VI. Kecamatan Danau Kembar
  1. Simpang Tanjuang Nan IV
  2. Kampuang Batu Dalam
VII. Kecamatan Gunung Talang
  1. Cupak
  2. Talang
  3. Koto Gadang Guguak
  4. Jawi - Jawi
  5. Sungai Janiah
  6. Batang Barus
  7. Aie Batumbuak
  8. Koto Gaek Guguak
VIII. Kecamatan Bukik Sundi
  1. Muaro Paneh
  2. Kinari
  3. Bukik Tandang
  4. Parambahan
  5. Dilam
IX. Kecamatan IX Koto Sungai Lasi
  1. Taruang Taruang
  2. Siaro Aua
  3. Pianggu
  4. Sungai Durian
  5. Bukik Baih
  6. Sungai Jambua
  7. Guguak Sarai
  8. Koto Laweh
  9. Indudur
X. Kecamatan Kubung
  1. Koto Baru
  2. Salayo
  3. Panyangkalan
  4. Gaung
  5. Tanjuang Bingkuang
  6. Gantuang Ciri
  7. Saok Laweh
  8. Koto Hilalang
XI. Kecamatan Payuang Sakaki
  1. Supayang
  2. Sirukam
  3. Aie Luo
XII. Kecamatan X Koto Singkarak
  1. Sumani
  2. Tikalak
  3. Koto Sani
  4. Singkarak
  5. Aripan
  6. Kacang
  7. Tanjuang Alai
  8. Saniang Baka
XIII. Kecamatan X Koto Diatas
  1. Sulik Aia
  2. Tanjuang Balik
  3. Paninjauan
  4. Kuncir
  5. Katialo
  6. Pasilihan
  7. Bukit Kanduang
  8. Siberambang
  9. Labuah Panjang
XIV. Kecamatan Jujuang Sirih
  1. Paninggahan
  2. Muaro Pingai

Kabupaten Solok Selatan

Kabupaten Solok Selatan terdiri dari 7 kecamatan dan 39 nagari,
dengan ibukota pemerintahan di Padang Aro.

I. Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh
  1. Pakan Rabaa
  2. Pakan Rabaa Utara
  3. Pakan Rabaa Tengah
  4. Pakan Rabaa Timur
II. Kecamatan Sungai Pagu
  1. Pasir Talang
  2. Pasir Talang Utara
  3. Pasir Talang Selatan
  4. Pasir Talang Barat
  5. Sako Pasia Talang
  6. Koto Baru
  7. Pulakek
  8. Pasa Muara Labuah
  9. Bomas
  10. Sako Utara Pasia Talang
  11. Sako Selatan Pasia Talang
III. Kecamatan Pauh Duo
  1. Alam Pauh Duo
  2. Pauh Duo Nan Batigo
  3. Luak Kapau Alam Pauh Duo
  4. Kapau Alam Pauh Duo
IV. Kecamatan Sangir
  1. Lubuk Gadang
  2. Lubuk Gadang Selatan
  3. Lubuk Gadang Timur
  4. Lubuk Gadang Utara
V. Kecamatan Sangir Balai Tigo
  1. Sungai Kunyit
  2. Sungai Kunyit Barat
  3. Talao Sungai Kunyit
  4. Talunan Maju
VI. Kecamatan Sangir Jujuan
  1. Lubuk Malako
  2. Padang Air Dingin
  3. Bidar Alam
  4. Padang Limau Sundai
  5. Padang Ganting
VII. Kecamatan Sungai Batang Hari
  1. Ranah Pantai Cermin
  2. Lubuak Ulang Aling
  3. Lubuak Ulang Aling Selatan
  4. Lubuak Ulang Aling Tangah
  5. Dusun Tangah
  6. Sitapus
  7. Abai

Kabupaten Tanah Datar

Kabupaten Tanah Datar terdiri dari 14 kecamatan dan 75 nagari,
dengan ibukota pemerintahan di Batusangkar.

I. Kecamatan Batipuah
  1. Gunuang Rajo
  2. Andaleh
  3. Sabu
  4. Batipuah Ateh
  5. Batipuah Baruah
  6. Pitalah
  7. Tanjung Barulak
  8. Bungo Tanjuang
II. Kecamatan Batipuah Selatan
  1. Sumpur
  2. Guguak Malalo
  3. Batu Taba
  4. Padang Laweh Malalo
III. Kecamatan Rambatan
  1. Padang Magek
  2. Simawang
  3. Rambatan
  4. III Koto
  5. Balimbing
IV. Kecamatan Limo Kaum
  1. Limo Kaum
  2. Cubadak
  3. Baringin
  4. Parambahan
  5. Labuah
V. Kecamatan Tanjuang Ameh
  1. Pagaruyung
  2. Saruaso
  3. Tanjung Barulak
  4. Koto Tangah
VI. Kecamatan Sungayang
  1. Minangkabau
  2. Sungai Patai
  3. Sungayang
  4. Tanjung
  5. Andaleh Baruh
VII. Kecamatan Sungai Tarab
  1. Sungai Tarab
  2. Gurun
  3. Koto Tuo
  4. Pasie Laweh
  5. Rao-Rao
  6. Kumango
  7. Koto Baru
  8. Padang Laweh
  9. Simpuruik
  10. Talang Tangah
VIII. Kecamatan Salimpaung
  1. Situmbuk
  2. Lawang Mandahiling
  3. Supayang
  4. Salimpaung
  5. Sumaniak
  6. Tabek Patah
IX. Kecamatan Tanjuang Baru
  1. Barulak
  2. Tanjung Alam
X. Kecamatan Pariangan
  1. Sawah Tangah
  2. Sungai Jambu
  3. Simabur
  4. Pariangan
  5. Tabek
  6. Batu Basa
XI. Kecamatan Padang Ganting
  1. Atar
  2. Padang Gantiang
XII. Kecamatan Lintau Buo
  1. Taluak
  2. Buo
  3. Pangian
  4. Tigo Jangko
XIII. Kecamatan Lintau Buo Utara
  1. Batu Bulek
  2. Balai Tangah
  3. Tanjung Bonai
  4. Lubuak Jantan
  5. Tapi Selo
XIV. Kecamatan X Koto
  1. Singgalang
  2. Paninjauan
  3. Pandai Sikek
  4. Panyalaian
  5. Aie Angek
  6. Tambangan
  7. Jaho
  8. Koto Baru
  9. Koto Laweh

Ketika Sariak Menjadi Sarik



" POSKO TV One: Pasar Pauh Kambar Padang Pariaman ". 
Demikian running text di layar televisi berita itu pascagempa mengguncang Sumatera Barat, 30 September lalu. Yang menggelitik dari kalimat di atas adalah upaya mengindonesiakan nama Pauh Kambar, satu daerah di Kabupaten Padang Pariaman, yang juga luluh-lantak terkena lindu berkekuatan 7,9 skala Richter itu.

Nama asli ibu kota Kecamatan Nan Sabarih (sering diterjemahkan menjadi Nan Sabaris) itu, sesuai dengan dialek sehari-hari masyarakat adalah Pauah Kamba. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah mangga kembar. Kepopuleran nama itu bagi masyarakat Padang Pariaman seperti menyebut Mangga Dua bagi warga Jakarta.
Kata Pauah mungkin wajar bila diindonesiakan menjadi Pauh karena masih memiliki kesamaan arti. Namun, ketika Kamba menjadi Kambar, nama ini terdengar aneh. Lagi pula kata tersebut tidak mempunyai arti yang jelas karena tidak dikenal dalam bahasa Minang. Kalaupun kambar versi Indonesia dilekatkan pada nama tersebut, artinya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kura-kura. Tentu sangat meleset dari makna kata kembar.

Inilah salah satu contoh salah kaprah yang sudah lama terjadi di Sumatera Barat dalam hal menerjemahkan nama-nama daerah. Apalagi nama tersebut kemudian melekat ke nama sekolah, nama pasar, dan nama pusat kesehatan masyarakat.

Di Padang Pariaman, misalnya, ada daerah lain bernama Sungai Sariak. Sariak adalah sebutan untuk sejenis bambu. Artinya sungai yang di sisinya banyak terdapat pohon bambu. Namun warga, ataupun pejabat setempat, sering mengindonesiakan nama Sariak tersebut menjadi Sarik. Dalam bahasa Minang, artinya melenceng jauh dari bambu menjadi susah. Adapun dalam bahasa Indonesia kata sarik juga tidak dikenal.
Penerjemahan yang salah kaprah ini tampaknya sudah menjadi hal yang resmi. Lihat misalnya nama-nama nagari dan kecamatan di kabupaten serta kota di daerah ini. Masih di Kabupaten Padang Pariaman, Kecamatan Ulakan Tapakih berubah menjadi Ulakan Tapakis. Demikian pula Sungai Garinggiang menjadi Sungai Geringging. Tapakis tidak ditemukan artinya dalam bahasa Indonesia. Sementara itu, akan terasa lucu bila mendengar "sungai kesemutan" karena geringging berarti kesemutan menurut KBBI.

Di Kota Padang, misalnya, ada Kecamatan Lubuak Bagaluang. Artinya adalah lubuk yang melingkar. Dalam administrasi resmi pemerintahan, nama ini berubah menjadi Lubuk Begalung. Sekali lagi, kalau memang perlu nama ini diindonesiakan, kenapa tidak menjadi Lubuk Melingkar saja, karena tidak ada arti begalung dalam bahasa Indonesia.

Meskipun kata lawas dalam arti lebar dan lapang telah diadopsi KBBI, rasanya tetap kurang tepat untuk menggantikan kata laweh untuk nama daerah Padang Laweh, Ladang Laweh, Bancah Laweh, dan Koto Laweh. Demikian pula pengindonesiaan koto menjadi kota, seperti Kabupaten Limapuluh Kota atau nama daerah Kota Baru. Hal yang sama juga terjadi pada kata aia yang diubah menjadi air untuk nama daerah Sulit (dari Sulik) Air, Air Angek, atau Jambu Air.

Ada yang menyatakan bahwa semangat penerjemahan ini adalah salah satu bentuk sikap terbuka dan inklusivitas masyarakat Minang. Dengan menerjemahkan nama tersebut diharapkan pemahaman dan interaksi dari pihak luar menjadi lebih mudah. Secara politis, penerjemahan nama-nama daerah juga gencar dilakukan pascapemberontakan PRRI Permesta 1958.

Munculnya nama-nama baru ter-sebut tentu sangat disayangkan karena bisa melunturkan makna aslinya. Ia tidak sekadar menjadi pembeda satu tempat dibanding tempat lainya, tapi lebih jauh dari itu, sebagai salah satu cara bagi masyarakat Minang untuk mempertahankan dan menjaga warisan sejarah serta kekayaan budaya setempat. Bila kata sederhana seperti nama daerah tersebut sudah tercerabut dari makna dan pengertian aslinya, tentu semakin berat mempertahankan berbagai ungkapan, pantun, pepatah, dan idiom Minang yang penuh metafora.

Sudah seharusnya nama-nama terjemahan itu dikembalikan ke bentuk khasnya. Termasuk Bukik Tinggi untuk Bukittinggi, Batu Sangka untuk Batu Sangkar, Tanah Data untuk Tanah Datar, Payo Kumbuah untuk Payakumbuh, serta puluhan, mungkin ratusan nama lain yang telanjur diterjemahkan di tingkat kabupaten, kota, kecamatan, dan nagari.

Paling tidak, ada sejarah yang melekat pada nama asli ini. Salah satu contoh nama Kecamatan Banuhampu di Kabupaten Agam. Banu berasal dari bahasa Arab, yang berarti keluarga atau keturunan. Adapun kata hampu berasal dari mampu sehingga arti lengkapnya keluarga atau keturunan orang yang mampu secara ekonomi. Nama ini lahir karena daerah Banuhampu memang sangat subur sejak zaman dulu dan terkenal sebagai penghasil palawija. Kesuburan lahan inilah yang membuat orang-orang Banuhampu kuat secara ekonomi.
Untunglah nama Banuhampu yang terletak di dekat Kota Bukik Tinggi ini terpelihara dan tidak ikut diterjemahkan menjadi "banuhampa", misalnya. Kalau begitu, tentu artinya menjadi sangat tidak jelas.
Rifwan Hendri

Sabtu, April 2

Sejarah Minangkabau by Extravaganza

Pitaruah Ayah ( Yus Dt Parpatiah )

Karangan Angku YUS DT PARPATIAH, Pimpinan Balerong Grup Jakarta.
"Semoga bermanfaat bagi dunsanak sakalian, amin ya Rabbal alamin.
"Bismillahirahmanirrahim“Rabbish srahli sadri wayasirli amri wahlul u’k datam millisani yaf kahu kauli.”


Pitaruah Ayah Ka Anak Laki-Laki
Disk 1
Disk 2
Disk 3
Disk 4


Pitaruah Ayah Ka Anak Padusi
Disk 1
Disk 2
Disk 3
Disk 4

Silahkan Dengarkan.....
untuk donloadnya silahkan klik link di bawah ini
=== DOWNLOAD ===

Senin, Maret 21

Download MP3 Pitaruah Ayah karya Angku YUS Dt. PARPATIAH

Karangan Angku YUS DT PARPATIAH, Pimpinan Balerong Grup Jakarta.
"Semoga bermanfaat bagi dunsanak sakalian, amin ya Rabbal alamin.
"Bismillahirahmanirrahim“Rabbish srahli sadri wayasirli amri wahlul u’k datam millisani yaf kahu kauli.”

PITARUAH AYAH UNTUK ANAK PEREMPUAN
- (Download Seri 1)
- (Download Seri 2)
- (Download Seri 3)
- (Download Seri 4)

PITARUAH AYAH UNTUK ANAK LAKI-LAKI
- (Download seri 1)
- (Download seri 2)
- (Download seri 3)
- (Download seri 4)

RATOK MAK ENGGI
- (Download seri 1)
- (Download seri 2)
- (Download seri 3)
- (Download seri 4)

PITUAH PERKAWINAN
- (Download seri 1)
- (Download seri 2)
- (Download seri 3)
- (Download seri 4)

PITUAH UNTUK CALON PENGHULU
- (Download seri 1)
- (Download seri 2)
- (Download seri 3)
- (Download seri 4)

KONSULTASI ADAT MINANGKABAU

- (Download seri 1)
- (Download seri 2)
- (Download seri 3)
- (Download seri 4)

CERITA MINANG - BAKARUAK ARANG

- (Download seri 1)
- (Download seri 2)
- (Download seri 3)
- (Download seri 4)

CERITA MINANG - KUMARI BEDO

- (Download seri 1)
- (Download seri 2)
- (Download seri 3)
- (Download seri 4)

Bagi yang berkeinginan melakukan donasi silahkan menghubungi Angku Yus Dt Perpatih Mobile : 0815-971-9761

Cara Download:
1. Anda akan masuk ke Link ADF.LY
2. Klik Skip Add di Pojok Kanan Atas
3. Silahkan Download.................

Kamis, Agustus 5

Kato Kato Pusako Padoman Hiduik

Oleh : AB. Dt. Majo Indo

Katiko ado ditahan
Lah tak ado baru dimakan
Bakulimaik sabalun habih
Ingek ingek sabalun kanai
Asa lai jio-jio patuang
Asa lai angok angok bauang
Nan tidak dicari juo
Batanam nan bapucuak
Mamaliharo nan banyawo
Dibaliak baliak mangko dibalah

Dek caba mako mularaik
Dek himaik mako kayo
Dek ameh mako kameh
Dek padi mako manjadi

Pangka cadiak kuaik batanyo
Pangka arih suko barundiang
Pangka kayo hiduik bahimaik
Pangka mularaik karano pamaleh
Pangka hino dek paduto
Pangka maliang dek panjudi
Pangka pandeka capek kaki ringan tangan
Pangka pandai rajin baguru

Nak jan sasek rajin batanyo
Nak mulie basiluruih hiduik

Bahimaik sabalun habih
Sadiokan payuang sabalun hujan
Manjilih ditapi aie
Maradeso diparuik kanyang

Kayu hutan bukan andaleh
Elok dibuek ka lamari
Tahan bahujan namuah bapaneh
Baitu caro mancari rasaki

Sasek di ujuang jalan
Baliak ka pangka jalan
Takuik di ujuang badie
Lari ka pangka badie

Diatue cupak nan duo
Dikaji kato nan ampek
Dalam tambo lah tasuo
Disinan paham mangkonyo dapek

Barang nan tingga didatakan
Mauleh mano nan singkek
Malunakkan mano nan kareh
Manganduekan mano nan tagang
Marapekkan mano nan jarang
Manjinakkan mano nan lia
Mamanuahkan mano nan lakang

Adaik limbago ateh dunie
Sampik lapang ka dirasai
Sakik sanang pamainan hiduik
Hiduik mati dirasai juo

Jikok mamacik taguah taguah
Jikok manimbang samo barek
Dek rajin pandai nan datang
Dek malu buruak nan tumbuah

Hari pagi mananti patang
Dikana diri sarato tubuah
Indak bak karabang talue itiak
Eloknyo tabuang sajo
Indak babaliak ka dapue lai

Elok tungkuih tak barisi
Gadang agak tak manyampai
Kok tasangkuik elok di nan tinggi
Kok basanda elok di nan gadang

Dibaliak pandakian ado panurunan
Dibaliak panurunan ado pandakian
Elok diambiak jo etongan
Buruak dibuang jo mupakaik
Bakato sapatah dipikiri

Bajalan salangkah maliek suruik
Muluik tadorong ameh pandahannyo
Kaki tataruang inani pandahannyo

Urang pandorong gadang kanai
Urang pandareh hilang aka
Salah tariak mangumbalikan
Sasek suruik talangkah kumbali
Salah pado Allah Tobaik
Salah ka manusia minta maaf

Kok gawa maisi
Adie nan ka dipakai
Babatulan babayaran
Basalahan bapatutan

Jikok jauah bahambatan
Jikok dakek batungguan
Jikok barabuik katangahkan

Suarang diagiah, sakut dibalah
Utang babaie, bapituang ditarimo

Kok manyalang dikumbalikan
Kok nan elok tapabuek
Basaluak carano datang
Kok nan buruak tapabuek

Batimbun sabuik dipungguang
Cancang latiah niniak moyang

Tambilang basi rang tuo tuo
Ditabeh sanak baluka
Dibuek banda baliku
Tatumbuak di bukik bagali
Tatumbuah dibatu dipahek
Tibo dibatang dikabungi
Ditaruko makonyo jadi

Duduak marauik ranjau
Tagak maninjau jarak
Hari sahari dipatigo

Malam samalan dipahampek
Nan barisuak bukan kini
Nan kini bukan kapatang

Satitiak jadikan lauik
Sakapa jadikan gunuang

Manilantang lalok mambilang kasau
Manungkuik lalok mahetong lantai
Maherang lalok mambilang dindiang

Sakali mambuka puro
Duo tigo utang salasai
Sakali mandayuang biduak
Duo tigo pulao talampaui

Mangurangi ancak ancak
Malabiahi sio sio
Mamakan habih habih
Manyuruak hilang hilang

Manusia tahan kieh
Binantang tahan palu
Kilek camin lah kamuko
Kilek baliuang lah kakaki
Tagisia labiah bak kanai
Tasingguang labiah bak jadi

Basilek diujuang lidah
Manikam diujuang karih
Bamain di ujuang padang
Tahan dikieh kato putuih
Tahu dikilek sarato bayang
Tahu digelek kato habih
Tahu dihereang jo gendeang
Sarato kurenah jo bainah
Tahu dirantiang kamalantiang
Tahu didahan nan kamahimpok

Baburu ka pinang data
Dapek ruso balang kaki
Kalau baguru kapalang aja
Bagai bungo kambang tak jadi

Anjalai tumbuah dimunggu
Sugi sugi dirumpun padi
Nak pandai sungguah baguru
Nak tinggi tingkekkan budi

Katiadoan ameh buliah dicari
Katiadoan aka putuih bicaro
Tak baameh putuih tali
Tak barak taban bumi

Kurai taji pakan sinayan
Urang tuo manggaleh lado
Capek kaki ringan tangan
Namun salero lapeh juo

Pitalah rami balainyo
Urang sumpu manjua lapiak
Sasuku gulo sakati

Tanah sabingkah alah bapunyo
Rumpuik sahalai lah bamiliak
Malu nan alun dibagi

Barakik rakik ka hulu
Barang ranang katapian
Basakik sakik dahulu
Basanang sanang kamudian

Laka jo dulang dalam lubuak
Sasah tali barendo bukan
Aka hilang paham tatumbuak
Basarah diri pado Tuhan

Urang pamberang tangga iman
Urang pambangih hilang aka
Urang pandareh lakek kanai
Urang pancameh mati jatuah
Urang parentak gadang kanai
Urang pamanjek mati jatuah
Urang panyalam mati lameh
Urang pamanggok lapa paruik
Urang pandingin mati hanyuik
Urang paningadah kalimpanan
Urang panyaba kasihan Allah

Pangka cadiak kuaik batanyo
Pangka kayo himaik jo luruih
Pangka mularaik maleh jo duto
Pangka maliang suko jo judi
Pangka pangdeka capek kaki ringan tangan
Pangka pandai rajin baguru

Mancancang balandasan
Mamikue bapa aleh
Bajalan ba aleh tapak
Malompek batumpuan
Mangaie baumpan
Bakato batipuan
Balaie manuju pulau
Malantiang manuju tampuak
Bakato manuju bana

Patah kapak batungkek paruah
Patah paruah batilakan

Sataba taba pungguang ladiang
Kok diasah katajam juo

Bia alah sabuang asa manang sorak
Bia kaniang baluluak asa tanduak makan
Bia bagantuang diikue anjiang asa salamaik kasubarang

Bukan dek takuik mandi kini
Hanyo den takuik mambuang jalo
Bukan den takuik mati kini
Hanyo den takuik hiduik marano

Baranang kahulu aie
Jan lupo dirantiang lapuak
Alah sanang hiduik didunie
Kana juo kamati isuak

Rabu, April 28

Sarantak Salam jo Sambah

SARANTAK BALAM JO barabah, barabah lalu balam mandi
Sarantah salam jo sambah, sambah kami susun jo sapuluah jari

Mano lah sagalo niniak jo mamak, cadiak pandai suluah bendang dalam nagari
Sarato bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang

Sakali aia gadang, sakali tapian barubah
Sakali musim batuka, sakali caro baganti

Namun nan kuriak iyo tatap kundi, nan sirah iyo sago
Nan baiak iyo budi, nan endah iyo baso

Itulah adai nan indak lakang dek paneh, indak lapuak di ujan,
adaik banamo sopan santun

Lamo bana punai malayang
Inggoknyo tatap ka buah palo

Lamo bana kito di rantau urang
Adaik jo limbago jan sampai lupo

Bapisah bukannyo bacarai
Jikok gantiang jan sampai putuih
Di palanta Urang Awak kito jalin silaturrahmi

Ketek usah basabuikkan namo, gadang usah bahimbaukan gala
Indak basisiah jo basibak, indak babarih jo ba balabeh
Usah dibateh jo bahinggo
Molah dunsanak kasadonyo

Namun baitu, dalam bagarah bakucindan
Raso jo pareso tatap di jago
Usah lupo jo kato nan ampek
Iyolah kato mandata, kato malereang,
Kato mandaki, sarato kato manurun

Tau jo condong ka maimpok,
sarato gadang nan ka malendo

Dijago pulo alua jo patuik, sarato ereang jo gendeng
Lamak di awak, katuju di urang

Baitu adaik Minangkabau

Sakian sambah sujuik dari kami,
Silang nan bapangka, karajo nan bapokok

Sakapua Siriah

Sakapua Siriah
Bismillahirahmanirrahim
Assalamualaikum Wr.Wb

Kapado niniak mamak nan gadang basabatuah
pucuak bulek jo urek tunggang
nan dianjuang tinggi di amba gadang
pai tampek batanyo pulang bakeh babarito
nan baumpamo kayu gadang ditangah koto
urek taserak tampek baselo
batang gadang tampek basanda
dahan kuek buliah bagantuang
daun rimbun dapek balinduang
tampek balinduang kapanehan
tampek bataduah kahujanan
nan bakato bana
aia janiah sayak nyo landai,ikan jinak hukumnyo adia.

sarato nan mudo pambimbiang dunia
nan capek kaki ringan tangan
capeknyo indak ka panaruang
ringannyo tangan indak ka pamacah
aso tarantang duo sudah
hatinyo suci bamuko janiah
tau dimalu jo sopan, ereang jo gendeang
sarato raso jo pareso

taruih pulo untuak bundo kanduang
limpapeh rumah nan gadang
sumarak di dalam kampuang hiasan dalam nagari
kok hiduik tampaik banasa kok mati tampaik baniaik
ka undang-undang kamadinah,ka payuang panji kasarugo

sarato kaurang banyak
nan indak baimbau namo dan basabuik gala
didalam cupak jo gantang dikanduang adiak jo pusako
ujuik tujuan buah rundiangan, sakiro paham di kahandaki
bahubuang dimaso nan kaditampuanh
musim nan tumbuah iko kini
syariatnyo lai bahakikat
lahia kulik manganduang isi, lahian manjadi buah ama
dek enggeran sako nan tagak
koto aman alam santoso, salamaik korong jo kampuang
nak aman anak kamanakan
tantang curaian jo paparan,bukan mahunjuak ma ajari
hanyo sekadar calak-calak pangganti asah
kok salah mintak dibatuakan kok panjang mintak dikarek
kok senteng tolong dibilai kok kurang mintak ditukuak
karano ilmu dituhan tasimpannyo kito nan bukan cadiak pandai

" dima kain ka baju, lah diguntiang indak sadang, lah takana mangko di ungkai....dima nagari kito kamaju adaik sajati nan lah hilang, dahan jo rantiang nan bapakai."

Minggu, November 29

Sejarah Sumatera Barat

Dari zaman prasejarah sampai kedatangan orang Barat, sejarah Sumatera Barat dapat dikatakan identik dengan sejarah Minangkabau. Walaupun masyarakat Mentawai diduga telah ada pada masa itu, tetapi bukti-bukti tentang keberadaan mereka masih sangat sedikit.

Masa Prasejarah

Di pelosok desa Mahat, Suliki Gunung Mas, Kabupaten Lima Puluh Kota banyak ditemukan peninggalan kebudayaan megalitikum. Bukti arkeologis yang ditemukan di atas bisa memberi indikasi bahwa daerah Lima Puluh Kota dan sekitarnya merupakan daerah pertama yang dihuni oleh nenek moyang orang Minangkabau.

Penafsiran ini beralasan, karena dari luhak Lima Puluh Kota ini mengalir beberapa sungai besar yang bermuara di pantai timur pulau Sumatera. Sungai-sungai ini dapat dilayari dan memang menjadi sarana transportasi yang penting dari zaman dahulu hingga akhir abad yang lalu.

Nenek moyang orang Minangkabau diduga datang melalui rute ini. Mereka berlayar dari daratan Asia (Indochina) mengarungi Laut Cina Selatan, menyeberangi Selat Malaka dan kemudian melayari sungai Kampar, sungai Siak, dan sungai Inderagiri.

Setelah melakukan perjalanan panjang, mereka tinggal dan mengembangkan kebudayaan serta peradaban di wilayah Luhak nan Tigo (Lima Puluh Kota, Agam, Tanah Datar) sekarang.

Percampuran dengan para pendatang pada masa-masa berikutnya menyebabkan tingkat kebudayaan mereka jadi berubah dan jumlah mereka jadi bertambah. Lokasi pemukiman mereka menjadi semakin sempit dan akhirnya mereka merantau ke berbagai bagian Sumatera Barat yang lainnya.

Sebagian pergi ke utara, menuju Lubuk Sikaping, Rao, dan Ophir. Sebagian lain pergi ke arah selatan menuju Solok, Sijunjung dan Dharmasraya. Banyak pula di antara mereka yang menyebar ke bagian barat, terutama ke daerah pesisir, seperti Tiku, Pariaman, dan Painan.

Kerajaan-kerajaan Minangkabau

Menurut tambo Minangkabau, pada periode abad ke-1 hingga abad ke-16, banyak berdiri kerajaan-kerajaan kecil di selingkaran Sumatera Barat. Kerajaan-kerajaan itu antara lain Kesultanan Kuntu, Kerajaan Kandis, Kerajaan Siguntur, Kerajaan Pasumayan Koto Batu, Bukit Batu Patah, Kerajaan Sungai Pagu, Kerajaan Dusun Tuo, dan Kerajaan Bungo Setangkai. Kerajaan-kerajaan ini tidak pernah berumur panjang, dan biasanya berada dibawah pengaruh kerajaan-kerajaan besar, Malayu dan Pagaruyung.

Kerajaan Malayu

Kerajaan Malayu diperkirakan menjadi kerajaan pertama yang didirikan oleh orang Minangkabau. Beberapa sejarawan mengatakan bahwa kata Minangkabau sendiri berarti dua sungai, merujuk pada sebuah kerajaan yang berdiri diantara dua buah sungai, yakni kerajaan Melayu yang terletak di tepian sungai Batang Hari.

Berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit, kerajaan ini dihancurkan oleh pasukan dari Sriwijaya pada tahun 683. Dari reruntuhan kerajaan ini, berdirilah kerajaan Dharmasraya yang beribukota di daerah Kabupaten Dharmasraya saat ini.

Ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275 di bawah pimpinan Kebo Anabrang dari Kerajaan Singasari, membawa dua putri Minangkabau yaitu Dara Petak dan Dara Jingga. Kedua putri tersebut dinikahkan dengan pewaris kerajaan Singasari. Dara Petak dinikahkan dengan Raden Wijaya sedangkan Dara Jingga dengan Adwaya Brahman. Dari kedua pasangan itu lahirlah Jayanagara, yang menjadi raja kedua Majapahit dan Raja Adityawarman yang menjadi raja Pagaruyung.

Kerajaan Pagaruyung

Sejarah propinsi Sumatera Barat menjadi lebih terbuka sejak masa pemerintahan Adityawarman. Raja ini cukup banyak meninggalkan prasasti mengenai dirinya, walaupun dia tidak pernah mengatakan dirinya sebagai Raja Minangkabau. Adityawarman memang pernah memerintah di Pagaruyung, suatu negeri yang dipercayai warga Minangkabau sebagai pusat kerajaannya.

Adityawarman adalah tokoh penting dalam sejarah Minangkabau. Di samping memperkenalkan sistem pemerintahan dalam bentuk kerajaan, dia juga membawa suatu sumbangan yang besar bagi alam Minangkabau. Kontribusinya yang cukup penting itu adalah penyebaran agama Buddha. Agama ini pernah punya pengaruh yang cukup kuat di Minangkabau. Terbukti dari nama beberapa nagari di Sumatera Barat dewasa ini yang berbau Budaya atau Jawa seperti Saruaso, Pariangan, Padang Barhalo, Candi, Biaro, Sumpur, dan Selo.

Sejarah Sumatera Barat sepeninggal Adityawarman hingga pertengahan abad ke-17 terlihat semakin kompleks. Pada masa ini hubungan Sumatera Barat dengan dunia luar, terutama Aceh semakin intensif. Sumatera Barat waktu itu berada dalam dominasi politik Aceh yang juga memonopoli kegiatan perekonomian di daerah ini. Seiring dengan semakin intensifnya hubungan tersebut, suatu nilai baru mulai dimasukkan ke Sumatera Barat. Nilai baru itu akhimya menjadi suatu fundamen yang begitu kukuh melandasi kehidupan sosial-budaya masyarakat Sumatera Barat. Nilai baru tersebut adalah agama Islam.

Syekh Burhanuddin dianggap sebagai penyebar pertama Islam di Sumatera Barat. Sebelum mengembangkan agama Islam di Sumatera Barat, ulama ini pernah menuntut ilmu di Aceh.

Masuknya bangsa Eropa

Pengaruh politik dan ekonomi Aceh yang demikian dominan membuat warga Sumatera Barat tidak senang kepada Aceh. Rasa ketidakpuasan ini akhirnya diungkapkan dengan menerima kedatangan orang Belanda. Namun kehadiran Belanda ini juga membuka lembaran baru sejarah Sumatera Barat. Kedatangan Belanda ke daerah ini menjadikan Sumatera Barat memasuki era kolonialisme dalam arti yang sesungguhnya.

Orang Barat pertama yang datang ke Sumatera Barat adalah seorang pelancong berkebangsaan Perancis yang bernama Jean Parmentier yang datang sekitar tahun 1529. Namun bangsa Barat yang pertama datang dengan tujuan ekonomis dan politis adalah bangsa Belanda. Armada-armada dagang Belanda telah mulai kelihatan di pantai barat Sumatera Barat sejak tahun 1595-1598, di samping bangsa Belanda, bangsa Eropa lainnya yang datang ke Sumatera Barat pada waktu itu juga terdiri dari bangsa Portugis dan Inggris.

Perang Padri

Perang Paderi meletus di Minangkabau antara sejak tahun 1821 hingga 1837. Kaum Paderi dipimpin Tuanku Imam Bonjol melawan penjajah Hindia Belanda.Gerakan Paderi menentang perbuatan-perbuatan yang marak waktu itu di masyarakat Minang, seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat (opium), minuman keras, tembakau, sirih, juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan dan umumnya pelaksanaan longgar kewajiban ritual formal agama Islam.

Perang ini dipicu oleh perpecahan antara kaum Paderi pimpinan Datuk Bandaro dan Kaum Adat pimpinan Datuk Sati. Pihak Belanda kemudian membantu kaum adat menindas kaum Padri. Datuk Bandaro kemudian diganti Tuanku Imam Bonjol.

Perang melawan Belanda baru berhenti tahun 1838 setelah seluruh bumi Minang ditawan oleh Belanda dan setahun sebelumnya, 1837, Imam Bonjol ditangkap.

Meskipun secara resmi Perang Paderi berakhir pada tahun kejatuhan benteng Bonjol, tetapi benteng terakhir Paderi, Dalu-Dalu, di bawah pimpinan Tuanku Tambusai, barulah jatuh pada tahun 1838.

Dari Perang Padri sampai Perang Belasting

Berakhirnya perang Padri menandai perubahan besar di Minangkabau. Kerajaan Pagaruyung runtuh dan di tempatnya berdiri pemerintahan Hindia Belanda.

Belanda memerintah diatur oleh perjanjian Plakat Panjang (1833). Di dalamnya Belanda berjanji untuk tidak mencampuri masalah adat dan agama nagari-nagari di Minangkabau. Belanda juga menyatakan tidak akan memungut pajak langsung. Hal ini menyebabkan para pemimpin Minangkabau membayangkan dirinya sebagai mitra bukannya bawahan Belanda.

Sebagaimana di daerah lain di Hindia Belanda pemerintah kolonial memberlakukan Tanam Paksa (cultuurstelsel) di Sumatera Barat. Sistem ini menjadikan para pemimpin adat sebagai agen kolonial Belanda.

Penjajahan Belanda berpengaruh besar pada tatanan tradisional masyarakat Minangkabau. Di Sumatera Barat Belanda membuat jabatan baru, seperti penghulu rodi. Kerapatan Nagari dijadikan sebagai lembaga pemerintahan terendah, dan kepemimpinan kolektif para penghulu ditekan dengan keharusan memilih salah seorang penghulu menjadi Kepala Nagari. Serikat nagari-nagari (laras, Bahasa Minang: lareh) yang sebenarnya merupakan persekutuan longgar atas asas saling menguntungkan, dijadikan sebagai lembaga pemerintahan yang setara dengan kecamatan.

Belanda juga berusaha mematikan jalur perdagangan tradisional Minangkabau ke pantai timur Sumatera yang menyusuri sungai-sungai besar yang bermuara di Selat Malaka, dan mengalihkannya ke pelabuhan di pantai Barat seperti Pariaman dan Padang. Pada tahun 1908 Belanda menghapus sistem Tanam Paksa dan memberlakukan pajak langsung. Perang Belasting pun meletus.

Gerakan Islam Modernis di Minangkabau

Perlawanan terhadap Belanda di Sumatera Barat pada awal abad ke-20 memiliki warna Islam yang pekat. Dalam hal ini gerakan Islam modernis atau yang lebih dikenal sebagai Kaum Muda sangat besar peranannya.

Ulama-ulama Kaum Muda mendapat pengaruh besar dari modernis Islam di Kairo, yaitu Muhammad Abduh dan Syekh Muhammad Rasyid Ridha, dan juga senior mereka Jamaluddin Al-Afghani. Para pemikir ini punya kecenderungan berpolitik, namun karena pengaruh Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang menjadi guru ulama Kaum Muda generasi pertama mereka umumnya hanya memusatkan perhatian pada dakwah dan pendidikan. Abdullah Ahmad mendirikan majalah Al-Munir (1911-1916), dan beberapa ulama kaum Muda lain seperti H. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) dan Muhammad Thaib ikut menulis di dalamnya.

Dari majalah ini pemikiran kaum muda semakin disebarkan. Ulama Kaum Muda menantang konsep agama tradisional yang sudah mapan, menentang taqlid buta, dan merangsang sikap kebebasan berpikir. Tulisan dan pidato mereka memicu pertentangan dan perdebatan sengit di ranah Minang.

Tahun 1918 sebagai kelanjutan perguruan agama tradisional Surau Jembatan Besi berdirilah sekolah Sumatera Thawalib. Selain pendirinya H. Abdul Karim Amrullah guru lain yang berpengaruh di sekolah ini adalah Zainuddin Labai el-Yunusiah yang juga mendirikan sekolah Diniyah. Berbeda dengan Sumatera Thawalib yang terutama adalah perguruan agama sekolah Diniyah menekankan pada pengetahuan umum, seperti matematika, ilmu falak, ilmu bumi, kesehatan dan pendidikan. Kedua sekolah ini berhubungan erat.

Banyak tokoh pergerakan atau ulama seperti Ahmad Rasyid Sutan Mansur, Djamaluddin Tamin, H. Dt. Batuah, H.R. Rasuna Said dan Hamka merupakan murid atau pernah mengajar di perguruan di Padang Panjang ini.
Di kedua perguruan ini berkembang berbagai gagasan radikal. Pada dasawarsa 1920-an sebuah gagasan baru mulai menarik hati para murid sekolah Padang Panjang: komunisme. Di Padang Panjang pentolan komunis ini terutama Djamaluddin Tamin dan H. Datuk Batuah. Gagasan baru ini ditentang habis-habisan Haji Rasul yang saat itu menjadi guru besar Sumatera Thawalib.

Gerakan Islam Modernis ini tidak didiamkan saja oleh ulama tradisional. Tahun 1930 ulama tradisional mendirikan Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) untuk mewadahi sekolah Islam Tradisional.

Gerakan Partai Komunis Indonesia

Djamaluddin Tamin sudah bergabung dengan PKI pada 1922. Dalam perjalanan singkat ke Aceh dan Jawa pada tahun 1923 Datuk Batuah bertemu dengan Natar Zainuddin dan Haji Misbach. Agaknya ia terkesan dengan pendapat Haji Misbach yang menyatakan komunisme sesuai dengan Islam. Bersama Djamaluddin Tamin ia menyebarkan pandangan ini dalam koran Pemandangan Islam. Natar Zainuddin kemudian kembali dari Aceh dan menerbitkan koran sendiri bernama Djago-djago. Akhir tahun itu juga Djamaluddin Tamin, Natar Zainuddin dan Dt. Batuah ditangkap Belanda.

Setelah penangkapan tersebut pergerakan komunis malah menjadi-jadi. Tahun 1924 Sekolah Rakyat didirikan di Padang Panjang, meniru model sekolah Tan Malaka di Semarang. Organisasi pemuda Sarikat Rakyat, Barisan Muda, menyebar ke seluruh Sumatera Barat. Dua pusat gerakan komunis lain adalah Silungkang dan Padang. Bila di Padang Panjang gerakan berakar dari sekolah-sekolah di Silungkang pendukung komunis berasal dari kalangan saudagar dan buruh tambang.

Sulaiman Labai, seorang saudagar, mendirikan cabang Sarekat Islam di Silungkang, Sawahlunto pada 1915. Pada tahun 1924 cabang ini diubah menjadi Sarekat Rakyat. Selain itu berdiri juga cabang organisasi pemuda komunis, IPO.

Di Padang basis PKI berasal dari saudagar besar pribumi. Salah satu pendiri PKI cabang Padang adalah Sutan Said Ali, yang sebelumnya menjadi pengurus Sarikat Usaha Padang. Di bawah kepemimpinannya mulai tahun 1923 PKI seksi padang meningkat anggotanya dari hanya 20 orang menjadi 200 orang pada akhir 1925.

Pertumbuhan gerakan komunisme terhenti setelah pemberontakan di Silungkang 1927. Para aktivis komunis ditangkap, baik yang terlibat pemberontakan ataupun tidak. Banyak di antaranya yang dibuang ke Digul.

Sumatera Barat: 1930-an

Merebaknya partai-partai politik

Meskipun komunisme menjadi sangat populer pada dasawarsa 1920-an kaum agama yang tak setuju dengan ideologi baru itu pun tetap berkembang. Awal tahun 1920 berdiri PGAI (Persatuan Guru Agama Islam) dengan tujuan mengumpulkan ulama-ulama di Sumatera Barat. Atas prakarsa H. Abdullah Ahmad tahun 1924 berdirilah sekolah Normal Islam di Padang. Sekolah ini dimaksudkan sebagai sekolah lanjutan, lebih tinggi daripada Sumatera Thawalib yang merupakan sekolah rendah.

Setelah melawat ke Jawa tahun 1925 dan bertemu pemimpin-pemimpin Muhammadiyah di sana Haji Rasul turut mendirikan cabang Muhammadiyah. Pertama di Sungai Batang dan kemudian di Padang Panjang. Organisasi ini dengan cepat menjalar ke seluruh Sumatera Barat.

Muhammadiyah berperan penting dalam menentang pemberlakuan Ordonansi Guru di Sumatera Barat tahun 1928. Dengan ordonansi ini guru agama diwajibkan melapor kepada pemerintah sebelum mengajar. Peraturan ini dipandang mengancam kemerdekaan menyiarkan agama. Sebelumnya Muhammadiyah di Jawa sudah memutuskan meminta ordonansi ini dicabut. Pada tanggal 18 Agustus 1928 diadakanlah rapat umum yang kemudian memutuskan menolak pemberlakuan ordonansi guru.

Meskipun terlibat dalam penolakan Ordonansi Guru, berbeda dengan organisasi komunis seperti Sarikat Rakyat, pada umumnya Muhammadiyah menghindari kegiatan politik. Penumpasan gerakan komunis tahun 1927 menyebabkan banyak anggota Sarekat Rakyat atau simpatisannya berpaling ke Muhammadiyah mencari perlindungan. Para anggota yang lebih radikal ini tidak puas dan kemudian banyak yang keluar untuk aktif dalam Persatuan Sumatra Thawalib. Organisasi ini pada tahun 1930 menjelma menjadi partai politik bernama Persatuan Muslim Indonesia, disingkat Permi. Dengan asas Islam dan kebangsaan (nasionalisme) Permi dengan cepat menjadi partai politik terkuat di Sumatera Barat, dan menyebar ke Aceh, Tapanuli, Riau, Jambi dan Bengkulu. Partai ini menjadi wadah utama paham Islam modernis. Tokoh-tokoh Permi yang terkenal antara lain Rasuna Said, Iljas Jacub, Muchtar Lutfi dan Djalaluddin Thaib.

Partai lain yang juga penting adalah PSII cabang Sumatera Barat yang berdiri tahun 1928, dan PNI Baru. PSII Sumatera Barat seperti Permi sangat kuat sikap anti-penjajahannya. Namun tidak seperti Permi yang berakar dari perguruan agama tokoh-tokoh PSII umumnya berasal dari pemimpin adat.

Cabang PNI Baru di Bukittinggi diresmikan Hatta tak lama setelah kepulangannya dari Belanda tahun 1932. Sebelumnya cabang Padang Panjang sudah didirikan oleh Khatib Sulaiman.

PARI pimpinan Tan Malaka (didirikan di Bangkok 1929) punya pengaruh cukup besar, meskipun anggotanya sendiri tidak banyak. Pengaruh PARI terutama lewat tulisan Tan Malaka yang disebarkan sampai tahun 1936.

Penumpasan

Pada pertengahan 1933 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan larangan berkumpul. Yang menjadi sasaran utama di Sumatera Barat adalah Permi dan PSII. Sementara itu Rasuna Said sudah ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Jawa. Tokoh-tokoh Permi dan PSII awalnya dilarang bepergian, kemudian kedua partai dikenai larangan terbatas dalam mengadakan rapat umum. Pada akhirnya tokoh-tokoh Permi dan PSII ditangkap dan dibuang ke Digul. Permi akhirnya bubar pada 18 Oktober 1937.

Pada saat yang sama di Batavia tokoh-tokoh Partindo dan PNI Baru juga ditangkap. Sukarno diasingkan ke Flores, Hatta dan Sjahrir ke Digul. Pimpinan PNI Baru cabang Sumatera Barat sendiri dibiarkan bebas karena mereka membatasi kegiatan politik partai. Sementara itu tokoh-tokoh PARI berhasil ditahan Belanda yang bekerja sama dengan dinas Intelijen Inggris. Tan Malaka, pimpinannya, lolos.

Pendudukan Jepang

Jepang memasuki Padang pada 17 Maret 1942. Sukarno yang pada saat itu berada di Padang berhasil meyakinkan sebagian besar tokoh-tokoh nasionalis di Sumatera Barat agar mau bekerja sama dengan Jepang.

Tahun 1943 Jepang memerintahkan pendirian Gyu Gun untuk membantu pertahanan. Gyu Gun di Sumatera Barat dipimpin oleh Chatib Sulaiman yang memilih dan merekrut calon perwira dari Sumatera Barat, Riau dan Jambi. Gyu Gun merupakan satu-satunya satuan ketentaraan yang dibentuk Jepang di Sumatera Barat. Tentara Sukarela ini kemudian menjadi inti Divisi Banteng.