Kamis, April 24

Ngarai Sianok


Ngarai Sianok adalah sebuah tebing jurang yang tinggi dan lembah lebar yang datar memanjang, sebuah keajaiban alam yang indah dan harus dilihat oleh para pejalan ketika berkunjung ke Bukittinggi, Sumatera Barat. Keindahan Ngarai Sianok dapat dilihat dan dinikmati, baik dari Taman Panorama maupun dari beberapa tempat lain di sekitar Bukittinggi dan Koto Gadang.

Di tepian pagar yang menandai batas dengan tebing Ngarai Sianok terdapat deretan lukisan para seniman setempat yang menggambarkan keindahan alam Ngarai Sianok dan kebudayaan Minangkabau. Di sebuah kioas di tepi jalan menuju dek pandang Ngarai Sianok di Taman Panorama, saya melihat seorang pelukis tengah menorehkan kuasnya ke atas kanvas.

Dek pengamatan Ngarai Sianok yang berada di ujung Taman Panorama. Kios-kios di sepanjang tepian jalan menuju dek pengamatan Ngarai Sianok ini selain menjual lukisan, juga menawarkan benda-benda cinderamata dan benda budaya lainnya, baik buatan lokal maupun yang berasal dari luar daerah, serta kain-kain tenun tradisional setempat.

Pemandangan Ngarai Sianok yang indah dilihat dari dek pengamatan Taman Panorama. Sebuah celah sempit di lembah Ngarai Sianok yang lebarnya mencapai 200 meter ini menjadi pemandangan yang menarik.

Ketinggian Ngarai Sianok mencapai 100 meter dengan panjang lembah 15 km, membujur dari Koto Gadang di Selatan sampai di Sianok Enam Suku di Utara. Sekitar dua puluh tahun lalu saya berjalan kaki turun dari Koto Gadang, yang terkenal dengan kerajinan perak dan tempat lahir beberapa tokoh terkenal seperti KH Agus Salim, menuju dasar lembah Ngarai Sianok dengan meniti janjang saribu yang berakhir di Bukittinggi.

Lembah Ngarai Sianok ini terlihat sangat subur. Permukiman penduduk dan pemandangan sawah dengan bulir-bulir padi yang yang menguning menambah keindahan panorama Ngarai Sianok.

Batang Sianok, yang berarti sungai yang jernih, terlihat mengalir berkelok-kelok di dasar lembah Ngarai Sianok yang sangat subur itu. Kabarnya Batang Sianok ini bisa disusuri dengan menumpang kano atau kayak dari Desa Lambah sampai Desa Sitingkai Batang Palupuh dengan waktu tempuh sekitar 3,5 jam.

Jembatan yang melintang di atas Batang Sianok di dasar Ngarai Sianok, yang terlihat dengan lensa tele dari dek pengamatan Taman Panorama, kemudian kami datangi dan mengambil beberapa frame foto dari lokasi ini.

Dua orang teman tengah memotret dasar lembah Ngarai Sianok.

Jembatan ini tampaknya merupakan tapal batas antara wilayah Kota Bukittinggi dengan wilayah Kabupaten Agam. Pada pelengkung besi di ujung jembatan terdapat tulisan “Selamat Datang di Kenagarian Sianok VI Suku”; pada tiang sebelah kiri “Kecamatan IV Koto” dan di tiang kanan “Kabupaten Agam”.


Dasar lembah Ngarai Sianok di sisi kiri jembatan.

Menyusur jalan beraspal yang mulus lebih jauh lagi, kami menjumpai sebuah jembatan lain, yang dari atasnya terlihat gundukan bukit dengan sebuah pohon tunggal di puncaknya, sementara Gunung Singgalang berdiri gagah kebiruan di latar belakang.

Tampaknya akan sangat menyenangkan duduk-duduk di dangau di ujung sawah di bawah Ngarai Sianok, sambil menyeruput minuman hangat ditemani dengan beberapa potong goreng pisang panas, ditengah suasana alam yang hijau tenang.

Sebuah kios penjualan bahan bakar dan pelumas dengan nama unik yang baru pertama kali saya lihat di tempat ini.












































Tidak ada komentar: