Rabu, Mei 18

Atlantis! Surga yang Hilang Itu Adalah Indonesia

oleh Ricko Bahemar pada 07 April 2010 jam 10:42


Lebih dari 30 tahun, Profesor Arysio Santos meneliti legenda tentang "Benua yang Tenggelam": Atlantis. Selama itu, ia mengungkapkan 33 perbandingan menyangkut luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, hingga cara bertani. Semua penelusuran itu membawa dia sampai pada sebuah kesimpulan: lokasi "Surga yang Punah" itu ternyata ada di Indonesia. Ia menerbitkan banyak karya tulis tentang Atlantis, termasuk Atlantis The Lost Continent Finally Found yang menegaskan keyakinannya tentang lokasi itu. Pada 9 September 2005, kurang dari dua bulan setelah buku terakhirnya ini terbit, pakar kepurbakalaan itu wafat. Karya agungnya ini pun terbit dalam edisi Indonesia dengan judul yang persis sama pada November silam. Berikut ulasan bagian-bagian penting dari buku tersebut.

Atlantis! Sebuah kata yang membangkitkan perasaan mendalam tentang sesuatu yang menakjubkan, sebuah misteri, dan rasa kehilangan yang tak tergantikan. Dampaknya lebih terasa dibandingkan dengan sekadar istilah "Benua yang Hilang" dan perasaan ini ada sejak zaman Plato, filsuf besar yang menulis tentang "Surga yang Punah" itu sekitar 2.500 tahun silam.

Apakah Atlantis sekadar mitos? Sebuah dongeng moral? Kreasi fiksi ilmiah? Ataukah ia benar-benar pernah ada dalam sejarah yang entah bagaimana caranya diangkat lagi ke dunia nyata oleh pena ajaib Plato?

Menurut Plato, Atlantis adalah induk segala peradaban. Atlantis adalah sebuah imperium yang sangat luas dan mendunia. Imperium ini menguasai pelayaran dan perdagangan laut, menciptakan metalurgi dan perkakas batu, sangat ahli dalam segala jenis seni dan jasa, termasuk seni tari, drama, musik, dan olahraga.

Lebih jauh, penduduk Atlantis mengumpulkan harta kekayaan yang melimpah, sampai Plato sendiri merasa takjub. Selain kaya, penduduk Atlantis juga mulia dan berbudi luhur. Mereka lebih mengutamakan kebijaksanaan dan kesalehan ketimbang kekayaan. Tapi, lambat laun, mereka terperangkap dalam kesombongan, ambisi, dan iri hati yang melampaui batas.

Lalu para dewa pun bersidang dan memutuskan untuk menghukum penduduk Atlantis agar dunia kembali ke jalur yang benar. Untuk itulah, para dewa mengirim bencana banjir dan gempa bumi, sehingga melumatkan imperium terkemuka ini sehancur-hancurnya. Plato sendiri menyebut bencana alam yang dialami penduduk Atlantis itu sebagai "Banjir Semesta".

Dia bahkan menambahkan beberapa rincian yang membawa kita pada beberapa kesimpulan: bencana itu dipicu ledakan gunung berapi besar yang diikuti penurunan tanah dan pembentukan kaldera, muntahan batu apung, tsunami, dan gempa bumi hebat. Dan, penanggalan yang diberikan Plato, tahun 11.600 sebelum Masehi, bertepatan dengan perhitungan penanggalan akhir zaman pencairan es. Dua fenomena geologi itu merupakan bencana alam raksasa berskala dan berdampak global.

Selama 25 abad sejak masa Plato, ribuan buku tentang Atlantis telah ditulis orang. Sayang, hal-ihwal "Benua yang Tenggelam" itu masih jauh dari terselesaikan. Misteri tentang letaknya juga belum pernah terjawab secara memuaskan, kendati ratusan tempat berbeda di dunia diklaim sebagai lokasinya. Di antara lokasi itu adalah Mediterania, Laut Utara, Pesisir Laut Atlantik di Eropa dan Afrika, kawasan di tengah Laut Atlantik, Segitiga Bermuda, hingga Amerika.

Hipotesis Atlantis di Wilayah Indonesia
Menariknya, menurut Profesor Santos, satu-satunya tempat yang sejauh ini belum dinyatakan sebagai lokasi Atlantis di antara ratusan lokasi adalah Indonesia. Bahkan lebih tepatnya, di tempat inilah --lebih baik dinamai Paparan Sunda (Sundaland) atau Austronesia-- dataran-dataran rendah Atlantis yang tenggelam itu berada. Benua mahabesar yang tenggelam ini sebenarnya terletak di laut dangkal yang ada di selatan Asia Tenggara, di wilayah yang sekarang bernama Indonesia.

Pulau-pulau di Indonesia, yang jumlahnya banyak dan tersebar, sesungguhnya adalah dataran-dataran tinggi dan puncak-puncak gunung yang tersisa ketika dataran-dataran rendahnya yang luas tenggelam pada akhir zaman es. Ini terjadi ketika permukaan laut di seluruh bumi naik setinggi 130 hingga 150 meter.

Anehnya, menurut dia, tak seorang pun pernah berpikir untuk mencari Atlantis di bagian wilayah Indonesia yang sekarang sudah terendam, lokasi yang sebenarnya memiliki daratan sangat luas berukuran benua. Tak seorang pun pernah bermimpi bahwa "Benua yang Tenggelam" sesungguhnya ada di sana. Setidaknya sejak cerita Lemuria atau daerah yang hilang versi Haeckel dan Sclater disingkirkan karena ada alternatif yang lebih baik, seperti Teori Lempeng Tektonik.

Di samping itu, sejauh ini semua peneliti pun terkurung oleh perkiraan bahwa peradaban hanya bisa muncul di wilayah-wilayah Mediterania, wilayahnya manusia berkulit putih.

Sebagian besar pakar umumnya menempatkan Atlantis di sekitar Samudra Atlantik, lokasi di mana Atlantis sebenarnya tidak pernah ada sebelumnya. Samudra Pasifik sebenarnya merupakan ?Samudra Sesungguhnya? yang dibicarakan Plato sebagai samudra tempat Atlantis berada. Sedangkan Samudra Atlantik dan Samudra Hindia masing-masing dianggap sebagai terusan ke arah timur dan barat.

Manusia, menurut Profesor Santos, pertama kali muncul di Afrika sekitar tiga juta tahun yang lalu. Manusia primitif ini segera menyebar ke seluruh Eurasia dan wilayah di luarnya hingga ke Timur Jauh dan Australia sekurang-kurangnya satu juta tahun silam. Di sanalah manusia asli ini mula-mula mengembangkan peradaban. Lalu di Indonesia inilah mereka pertama kali menemukan kondisi iklim yang ideal bagi perkembangan diri seutuhnya. Di tempat inilah sebenarnya nenek moyang kita menemukan budaya bercocok tanam dan peradaban.

Perkembangan itu berlangsung pada akhir zaman es, yakni pada masa pleistosen, kurun terakhir dari waktu geologis yang besar, dimulai dari sekitar 2,7 juta tahun yang lalu dan berakhir pada 11.600 tahun yang lalu. Pada zaman pleistosen, permukaan laut lebih rendah 130 hingga 150 meter dari permukaannya sekarang.

Karena itulah, sebuah bidang luas di daerah pantai, yang disebut Landasan Benua, dengan lebar 200 kilometer terlihat membentuk jembatan-jembatan darat yang menghubungkan banyak pulau dan wilayah ini. Di tempat semacam inilah di Indonesia, titik peradaban manusia dan budaya bercocok tanam berkembang untuk pertama kalinya.

Lalu, dengan berakhirnya zaman es pleistosen, gletser-gletser yang menutupi setengah wilayah utara Amerika Utara dan Eurasia segera mencair. Air dari pencairan es ini mengalir ke laut, sehingga menyebabkan permukaannya naik 130 hingga 150 meter. Dengan kenaikan permukaan laut ini, Atlantis tenggelam dan lenyap untuk selamanya bersama sebagian besar penghuninya yang semula sangat banyak.

Berdasarkan data Plato, pada saat bencana itu terjadi, jumlah penduduk Atlantis di Dataran Agung itu saja mencapai 20 juta. Konsentrasi manusia yang sangat besar ini hanya mungkin terjadi dengan adanya budaya bercocok tanam yang sangat maju, dengan dua atau tiga kali panen dalam setahun seperti diceritakan Plato. Produktivitas pertanian yang besar ini sampai sekarang tetap menjadi ciri khas seluruh wilayah tersebut, khususnya Jawa dan Sumatera.

Ciri Geografis Utama Plato
Cara lain yang digunakan Profesor Santos untuk membuktikan Indonesia sebagai "Surga yang Tenggelam" itu adalah data geografis. Di sini ia berusaha mendeskripsikan sebuah metode yang dikatakannya amat sederhana untuk membandingkan lokasi-lokasi yang selama ini diajukan sebagai situs Atlantis.

Walau sederhana, metode ini berlaku seperti panduan yang memaksa pikiran agar tetap fokus pada ciri-ciri pentingnya. Ini diperlukan untuk menghindari banyak kesalahan dan jebakan yang, menurut dia, dihadapi sebagian besar peneliti yang menelisik misteri Atlantis yang memang sulit sekali dipecahkan.

Asumsi dasar yang digunakannya sebagai indikator adalah gambaran ciri-ciri utama geografis yang dituturkan Plato dalam Timeaus. Gambaran geografis itu diperolehnya dari karya Benjamin Jowett, pakar teks klasik asal Inggris, yang selama ini diakui sebagai terjemahan terbaik Timeaus.

Dalam Timeaus terjemahan Jowett yang dikutip, Plato antara lain bertutur: "... dan di sana ada sebuah pulau yang terletak di depan selat-selat yang kau sebut sebagai Pilar-pilar Herkules. Pulau ini lebih besar daripada gabungan Libya dan Asia, dan merupakan jalan ke pulau-pulau lain; dan dari pulau-pulau ini, Anda dapat melintas ke seluruh benua yang berhadapan yang mengelilingi Samudra yang Sesungguhnya. Karena laut ini, yang berada di dalam Selat-selat Herkules, hanyalah sebuah pelabuhan dengan sebuah jalan masuk yang sempit. Tapi yang satu lagi adalah laut sebenarnya dan tanah yang mengelilinginya mungkin yang benar-benar disebut benua tanpa batas."

Dari tuturan tersebut, Profesor Santos lalu menarik beberapa kesimpulan tentang ciri-ciri dan data geografis utama "Benua yang Hilang" yang diberikan Plato. Sekaligus dengan itu, ia mendapati kenyataan bahwa tak satu pun dari banyak lokasi yang selama ini diajukan para pakar sebagai situs Atlantis bersesuaian dengan "tuntutan" Plato.

Namun, ia meyakini, satu-satunya pengecualian adalah lokasi yang ditemukannya lebih dari 20 tahun silam, yakni Indonesia dan Paparan Sunda yang berada di bawah perairan Indonesia. Menurut ikhtisar yang dibuatnya, Profesor Santos menyarikan ciri dan data geografis Plato itu menjadi empat: Dua Pilar (Selat), Pulau Atlantis (Lebih Besar daripada Asia + Libya), Banyak Pulau di Samudra Sesungguhnya, dan Benua Luar di Depan (Benua Sesungguhnya).

Indonesia dalam Tabel Perbandingan
Menurut pengamatan Profesor Santos, hasilnya akan lain bila empat ciri dan data geografis Plato itu diberlakukan pada lokasi Indonesia. Ini memang salah satu upaya pengujian yang dilakukannya, di samping penelusuran terhadap sumber-sumber kuno lainnya, seperti karya Pindar, Homerus, dan Diodorus.

Dari pengisian tabel skematis itu, berikut pemeriksaan kesesuaian empirisnya, Santos merasa menemukan satu-satunya jawaban nyata atas teka-teki Atlantis. Ini merupakan jawaban yang cocok dari sisi realitas geologis yang diketahui maupun dari gambaran terperinci yang diberikan para pakar dan banyak sumber lain yang digunakannya.

Pindar, filsuf dan penyair pra-Plato, membuat beberapa rujukan lain tentang Pilar-pilar Herkules dan lidah-lidah pantainya yang tak dapat dilalui dalam syair-syairnya. Begitu pula sumber-sumber kuno lainnya. Sebenarnya tradisi yang meluas ini bertahan hingga masa Renaisans dan era navigasi sampai Christopher Columbus dan para penjelajah lainnya melanggar tabu tersebut.

Lidah-lidah pantai berpasir atau berawa-rawa suram itu, dalam Argonautica karya Apollonius dari Rhodes, juga disebutkan dengan istilah Rawa-rawa Tritonia. Sebutan itu pun tercatat dalam beberapa bagian naskah-naskah kuno. Dan, tradisi-tradisi ini berasal dari masa yang jauh sebelum kemunculan cerita Plato tentang Atlantis dan laut-lautnya yang tak dapat dilalui.

Tradisi-tradisi itu sangat jelas tidak merujuk pada samudra yang kini bernama Atlantik, melainkan pengertian samudra dari Atlantis, yang ciri-cirinya sangat cocok dengan Samudra Pasifik sekarang. Selain itu, wilayah yang dibicarakan adalah Hindia Timur atau Taprobane, satu-satunya kawasan yang memiliki kesesuaian geologis.

Santos yakin, laut-laut yang dipenuhi lidah pantai berawa dan danau pinggir laut itu ada di Indonesia, menjadi bagian dari Samudra Pasifik yang dulu diyakini menyatu dengan yang kini kita sebut Samudra Atlantik. Keyakinan ini sekaligus meruntuhkan hipotesis bahwa Pilar-pilar Herkules yang sesungguhnya adalah Gibraltar. Penelitian panjang Santos membawa dia pada temuan lain bahwa Pilar-pilar Herkules sesungguhnya adalah Selat Sunda.

Bila hipotesis itu diberlakukan dan dimasukkan dalam "jalan cerita" uraian Plato dalam Timeaus, hasilnya sungguh menakjubkan. Lokasinya Indonesia dan Paparan Sunda. Dua pilarnya ada di Selat Sunda, selat sempit dari samudra (Hindia) menuju wilayah Indonesia yang kini setengah tenggelam, tapi sebelumnya merupakan benua yang sangat luas.

Pulau-pulau di Indonesia yang setengah tenggelam dan sangat luas tersebut membentuk lidah-lidah pantai berawa yang tidak dapat dilalui. Selain itu, banyak pulau laksana surga di perjalanan --Kepulauan Indonesia sendiri, Melanesia, Mikronesia, dan Polinesia-- yang membuat lawatan panjang jadi menyenangkan. Terakhir, "Benua Luar" yang berada di luar dan depan wilayah ini adalah Amerika.

Indonesia memang sisa-sisa daratan mahaluas yang tenggelam sebagian. Inilah rupanya yang membuat Plato menyebut Atlantis sebagai nesos yang diartikan sebagai "pulau".

Kepulauan di kawasan Pasifik sekitar Indonesia memang banyak dalam arti sesungguhnya. Kepulauan itu tidak hanya menyediakan makanan dan air bagi kapal-kapal yang lewat, melainkan juga gadis-gadis pribumi jelita yang membuat jantung para pelaut yang lelah berdetak lebih cepat dan membuat mereka memimpikan surga.

Selain itu, yang disebut "Benua Luar" itu cocok dengan uraian Plato, yaitu wilayah Amerika. Begitu pula selat sempit yang dibicarakan di sini, Selat Sunda, benar-benar terbuka karena letusan hebat gunung super berapi, yakni Krakatau. Dua Pilar Herkules itu dapat disamakan dengan dua gunung berapi yang mengapit Selat Sunda: Krakatau dan Dempo. Yang satu gunung tinggi, dan yang lainnya kaldera gunung berapi raksasa --sangat mirip dengan fitur-fitur seperti Scylla dan Charybdis atau Calpe dan Habila yang dituturkan Avienus, penulis sejarah kuno yang hidup pada abad IV.

Meskipun sulit dipercaya, tulis Profesor Santos, persamaan-persamaan itu sulit sekali dikatakan sebagai kebetulan belaka. Karena itu, jelas bahwa Plato, entah bagaimana caranya, mendengar tradisi-tradisi kuno tentang Laut-laut Selatan yang diketahui berkaitan dengan Taprobane (Hindia Timur) dan kehancuran wilayah yang dulu bagaikan surga itu.

Erwin Y. Salim
· · Bagikan · Hapus

Tidak ada komentar: